facebook

Pemerintah Sebut Komoditas Kakao Sumbang Rp 44,5 Triliun bagi Perekonomian Nasional

Chandra Iswinarno | Achmad Fauzi
Pemerintah Sebut Komoditas Kakao Sumbang Rp 44,5 Triliun bagi Perekonomian Nasional
Ilustrasi hasil panen kakao di Aceh.

Pemerintah berupaya untuk meningkatkan produktivitas kakao nasional. Salah satunya, melalui pendekatan lanskap di tengah pasar global berkelanjutan.

Suara.com - Pemerintah berupaya untuk meningkatkan produktivitas kakao nasional. Salah satunya, melalui pendekatan lanskap di tengah pasar global berkelanjutan.

Deputi Bidang Pangan dan Agribisnis, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) Musdhalifah Machmud mengatakan, kakao merupakan salah satu komoditas yang sangat penting, khususnya dalam Perekonomian Indonesia.

Ia mengungkapkan, kakao merupakan komoditas perkebunan keempat terbesar penyumbang PDB Perkebunan adalah sekitar 11,2 persen yang menunjukan sektor hilir pengolahan kakao berperan efektif sebagai pemimpin sektor.

"Total nilai ekonomi yang disumbangkan oleh kakao dan cokelat terhadap ekonomi adalah sebesar Rp 44,5 triliun," ujar Musdhalifah dalam sebuah webinar, Selasa (21/12/2021).

Baca Juga: Transfer Fiskal Berbasis Ekologi Dukung Budidaya Kakao Papua

Menurut Musdhalifah, perlu adanya kolaborasi semua pihak untuk meningkatkan produktivitas kakao, seperti Cocoa Sustainability Partnership (CSP).

Ia berharap, CSP bisa memberikan dukungannya untuk bersinergi menyukseskan program-program pemerintah.

Diakuinya, selama ini CSP telah berhasil membantu dan membina petani, baik dalam penyediaan Pupuk NPK Formula Khusus Bersubsidi, peningkatan kapasitas petani, dan penyerapan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif CSP Wahyu Wibowo menyampaikan, fokus utama pada tahun 2022 yaitu menyediakan bahan tanam yang mendukung penanaman ulang tanaman kakao, penyediaan pupuk yang sesuai, hingga penyediaan akses pembiayaan bagi petani.

Selain itu, tambah Wahyu, CSP juga fokus bagaimana sektor kakao Indonesia dalam mengantisipasi kebijakan Uni Eropa, penghidupan yang layak bagi petani, inisiasi keselarasan peta jalan pengembangan kakao berkelanjutan, dan juga upaya kampanye kepedulian tentang keberlanjutan.

Baca Juga: Sulawesi Tengah Ekspor 800 Ton Lebih Kakao ke Malaysia, Untung Puluhan Milyar

"Kami mengundang kolaborasi dari pihak lain dan anggota CSP untuk membuat business case sektor kakao yang menguntungkan semua pihak, dan keterlibatan aktif dalam gugus tugas CSP yang telah dibentuk sebelumnya untuk menjawab semua tantangan tersebut di atas," katanya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar