- RI-Jepang teken MoC mineral kritis dan nuklir guna perkuat rantai pasok global.
- Bahlil ajak investor Jepang kelola 43% cadangan nikel dunia milik Indonesia.
- Kerja sama energi nuklir RI-Jepang fokus pada teknologi rendah karbon aman.
Suara.com - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi memperkuat kongsi strategis dengan Jepang. Tak tanggung-tanggung, dua sektor masa depan yakni mineral kritis dan energi nuklir menjadi fokus utama dalam kerja sama teranyar kedua negara.
Langkah besar ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Cooperation (MoC) oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bersama Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang, Ryosei Akazawa. Pertemuan ini berlangsung di sela agenda Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Minggu (15/3/2026).
Bahlil menegaskan bahwa Indonesia sangat terbuka bagi para pengusaha Negeri Sakura untuk mengelola kekayaan mineral kritis tanah air. Apalagi, Indonesia memegang kendali 43% cadangan nikel dunia, di samping potensi besar bauksit, timah, tembaga, hingga logam tanah jarang.
"Kami sangat terbuka dan dengan senang hati meminta pemerintah maupun pengusaha Jepang untuk mengelola bersama mineral kritis di Indonesia demi penguatan rantai pasok global," ujar Bahlil dalam keterangannya, Senin (16/3/2026).
Selain mineral, sektor energi nuklir menjadi sorotan. Kerja sama ini membidik pengembangan teknologi rendah karbon dengan standar keselamatan tinggi, memanfaatkan pengalaman panjang Jepang di bidang tersebut. Menteri Akazawa pun menekankan bahwa di tengah ketidakpastian geopolitik, kolaborasi ini krusial untuk menjaga ketahanan serta keberlanjutan pasokan energi global.