Mempertemukan Garis Sampah dan Garis Pariwisata di Satu Titik

Iwan Supriyatna

Jum'at, 24 Desember 2021 | 13:23 WIB
Mempertemukan Garis Sampah dan Garis Pariwisata di Satu Titik
President University (PresUniv), Dr. Ir. Yunita Ismail Masjud, M.Si.,.

Suara.com - Saat ini sampah dan industri pariwisata ibarat dua garis yang bergerak saling menjauh. Jika suatu kota dipenuhi dengan sampah, kinerja industri pariwisatanya bakal suram.

Siapa wisatawan yang mau datang ke kota yang jorok, banyak lalat, dan bau akibat timbunan sampah? Sampah yang tidak dikelola dengan baik juga menyebabkan terjadinya banjir dan bahkan menjadi sarang penyakit. Siapa wisatawan yang mau datang ke kota yang selalu tergenang banjir dan menjadi sarang penyakit?

Jadi, kesenjangan garis sampah dan garis industri pariwisata semakin lama menjadi semakin melebar. Upaya untuk mendekatkan kembali garis sampah dan garis industri pariwisata itulah yang dilakukan oleh dosen Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, President University (PresUniv), Dr. Ir. Yunita Ismail Masjud, M.Si., melalui lewat program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang mengusung tema Implementation of Digital Sustainable Living through Community Engagement in Supporting Jababeka Smart Township Initiative.

Dalam kegiatan PKM-nya ini, Yunita berkolaborasi dengan dua dosen PresUniv lainnya, yaitu Felix Goenadi, S.PSI, M.Par. dan Ihsan Hadiahah, SE, B.IBM, MSM.

Yunita memaparkan programnya dalam sebuah seminar internasional tentang pengabdian masyarakat yang berlangsung secara hybrid di Bogor. Seminar ini diselenggarakan oleh PresUniv berkolaborasi dengan PT Jababeka & Co. dan FabLab, sebuah institusi yang bergerak dalam ranah pelatihan SDM dan pengembangan usaha berbasis Industry 4.0.

Program yang dilakukan Yunita mendapat bantuan pendanaan dari Program Penelitian Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan Pengabdian Masyarakat Berbasis Hasil Penelitian dan Purwarupa PTS, Ditjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi untuk Tahun Anggaran 2021

Yunita memaparkan bahwa proses ini bermula dari pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. Sampah dipilah dalam tiga kategori, yakni dapat dimanfaatkan kembali (reuse), dapat didaur ulang (recycle), dan ditingkatkan penggunaannya (upscaled).

Agar rumah-rumah tangga mau melalukan pemilahan sampah, diperlukan insentif dari Bank Sampah—yang membuat sampah menjadi punya nilai ekonomis. Sampah-sampah yang telah dipilah tersebut kemudian secara berkala dikumpulkan.

Di tempat pengumpulan, sampah diolah menjadi berbagai produk. Misalnya, sampah sisa makanan dapat diolah menjadi maggot, yakni campuran kaya protein yang cocok untuk pakan ternak.

baca juga

Lalu, sisa sampah dalam bentuk sayur-sayuran dan buah-buahan dapat diolah menjadi enzim untuk desinfektan. Kemudian, sampah-sampah organik lainnya dapat diubah menjadi pupuk organik atau kompos, dibuat briket dan hasilnya dipasarkan ke industri, atau diolah lagi menjadi berbagai bahan baku.

“Intinya, semua produk olahan dari sampah tersebut mempunyai nilai ekonomis,” ucap Yunita ditulis Jumat (24/12/2021).

Sinergi Sampah-Pariwisata

Lalu, apa kaitannya pengolahan sampah tersebut dengan industri pariwisata? Yunita memaparkan, ada beberapa hotel yang sudah menggunakan furnitur yang diproduksi dari bahan olahan berbasis sampah, seperti kertas atau kardus bekas.

Lalu, hasil dari olahan sampah-sampah plastik juga bisa dijadikan bahan baku untuk membuat produk garmen dan berbagai kerajinan lainnya. Di kawasan Tanjung Lesung, Banten, PresUniv dan Jababeka membina masyarakat setempat dalam mengolah limbah dari berbagai tanaman untuk dijadikan aneka produk kerajinan.

Produk ini kemudian dipasarkan secara daring melalui website Window Tanjung Lesung.

Daerah juga dapat mengembangkan agroindustri yang dalam proses budidayanya menggunakan pupuk organik. Produk-produk pertanian organik semacam ini biasanya mempunyai nilai jual yang lebih tinggi.

Seluruh produk tersebut, baik pertanian organik atau kerajinan, lanjut Yunita, dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi industri pariwisata di daerah tersebut. Apalagi kalau produknya sangat khas dan unik, dan hanya ada di suatu daerah tertentu.

Semua produk tersebut dapat mendukung upaya pengembangan industri pariwisata daerah.

“Masyarakat sangat menghargai bila ada hotel yang produk furniturnya atau berbagai produk lainnya menggunakan bahan baku dari daur ulang sampah. Jadi, dengan terus meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap isu-isu lingkungan, hotel-hotel yang banyak menggunakan produk daur ulang bisa menjadi daya tarik tersendiri,” ucap Yunita.

Jika kondisi semacam ini dapat terus dikembangkan, kata Yunita, “garis samppah” dan “garis industri pariwisata” yang dulu bergerak saling menjauh dapat berubah menjadi saling mendekat.

“Itulah upaya yang tengah kami lakukan saat ini,” tegas dia.

Hanya upaya untuk mewujudkan hal semacam itu kerapkali masih terbentur pada kendala. Salah satunya adalah informasi. Misalnya, masyarakat tidak memiliki informasi ke mana mesti menyalurkan sampah-sampah yang sudah mereka pilah.

Mereka juga tidak tahu di mana lokasi-lokasi Bank Sampah di suatu daerah. Lalu, di sisi lain pihak yang mengolah sampah juga kerap kesulitan mencari sampah sebagai bahan baku.

Bahkan pihak pengguna hasil olahan sampah, seperti industri yang menggunakan briket sebagai bahan bakar, kerap kesulitan mencari briket. Maka, mesti ada pihak yang mempertemukan seluruh stakeholders tersebut. Konsep itulah yang sedang dikembangkan Yunita melalui Jababeka Smart Township Initiative-nya.

Model 4C

Dalam mengembangkan inisiatifnya, Yunita mengusung model 4C yang meliputi Conservation, Community, Culture dan Commerce. Dia menjelaskan lebih lanjut bahwa upaya pengelolaan sampah menjadi salah satu kegiatan dalam konservasi lingkungan hidup.

Upaya ini harus dilakukan oleh komunitas, dan manfaatnya harus dirasakan oleh komunitas tersebut.

“Selain dalam bentuk nilai ekonomis, ada manfaat lain yang dipetik oleh masyarakat, seperti lingkungan yang lebih bersih dan sehat,” katanya.

Lalu, upaya-upaya tersebut juga harus mempunyai nilai komersial dan berkontribusi dalam pengembangan budaya setempat.

“Jadi, tiap C dalam model 4C tersebut harus saling mendukung satu sama lain,” cetus Yunita.

Untuk mengintegrasikan seluruh stakeholders yang terlibat dalam pengelolaan sampah dan pemanfaatan limbahnya tersebut diperlukan aplikasi yang berbasis digital.

Dalam mengembangkan aplikasi ini, papar Yunita, PresUniv berkolaborasi dengan Fablab. Jadi, Fablab akan membantu mengembangkan aplikasi digital yang mampu mengintegrasikan seluruh sumber daya yang terlibat dalam mata rantai pengelolaan dan pemanfaatan sampah dan hasil olahannya.

“Jika upaya ini memperoleh dukungan dari semua stakeholders, saya optimis garis sampah sampah dan garis industri pariwisata pada suatu saat akan bertemu di satu titik,” pungkas Yunita.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Produk Kecantikan Ini Rilis Produk Kemasan Refill, Aksi Nyata untuk Bumi yang Lebih Baik

Produk Kecantikan Ini Rilis Produk Kemasan Refill, Aksi Nyata untuk Bumi yang Lebih Baik

Lifestyle | Jum'at, 24 Desember 2021 | 10:18 WIB

4 Cara Bisnis Daur Ulang Sampah Plastik, Bantu Lingkungan dan Untung Berlipat

4 Cara Bisnis Daur Ulang Sampah Plastik, Bantu Lingkungan dan Untung Berlipat

Bisnis | Kamis, 23 Desember 2021 | 16:19 WIB

Ada Ganjil Genap Saat Libur Nataru di DIY, Sepeda Motor dan Bus Pariwisata Bagaimana?

Ada Ganjil Genap Saat Libur Nataru di DIY, Sepeda Motor dan Bus Pariwisata Bagaimana?

Jogja | Kamis, 23 Desember 2021 | 14:01 WIB

Terkini

Belajar tetapi Dianggap Putus Sekolah, KPAI Soroti Nasib Anak Disabilitas di LKSA

Belajar tetapi Dianggap Putus Sekolah, KPAI Soroti Nasib Anak Disabilitas di LKSA

News | Kamis, 05 November 2026 | 22:02 WIB

Masuk Ancol Gratis Sampai 12 November, Simak Ketentuannya

Masuk Ancol Gratis Sampai 12 November, Simak Ketentuannya

News | Kamis, 05 November 2026 | 21:55 WIB

Teriak Pajak Untuk Tukang Cukur dan Pijat, Hashim Ternyata Pernah Nunggak Pajak Rp2,4 T

Teriak Pajak Untuk Tukang Cukur dan Pijat, Hashim Ternyata Pernah Nunggak Pajak Rp2,4 T

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 21:52 WIB

Timnas Indonesia Batal Lawan Yordania, Erick Thohir Singgung Faktor Keselamatan Kevin Diks Cs

Timnas Indonesia Batal Lawan Yordania, Erick Thohir Singgung Faktor Keselamatan Kevin Diks Cs

Bola | Kamis, 05 November 2026 | 21:45 WIB

Prabowo Perintahkan Revitalisasi Stasiun Gambir, Monas dan Pengembangan Kereta Api di Bali

Prabowo Perintahkan Revitalisasi Stasiun Gambir, Monas dan Pengembangan Kereta Api di Bali

News | Kamis, 05 November 2026 | 21:45 WIB

Banjir Rendam Sawah, Petani Bawang Merah Tulungagung Rugi Belasan Juta

Banjir Rendam Sawah, Petani Bawang Merah Tulungagung Rugi Belasan Juta

Jatim | Kamis, 05 November 2026 | 21:43 WIB

Enam Laga Tanpa Menit Bermain, Nasib Elkan Baggott di Millwall Jadi Sorotan

Enam Laga Tanpa Menit Bermain, Nasib Elkan Baggott di Millwall Jadi Sorotan

Bola | Kamis, 05 November 2026 | 21:35 WIB

Kasus Penyadapan Ilegal Jadi Alarm, DPR Bakal Perketat Kewenangan Penyadapan

Kasus Penyadapan Ilegal Jadi Alarm, DPR Bakal Perketat Kewenangan Penyadapan

News | Kamis, 05 November 2026 | 21:22 WIB

Bidpropam Polda Jabar Turun Tangan Usut Dugaan Pelanggaran di Polres Sukabumi

Bidpropam Polda Jabar Turun Tangan Usut Dugaan Pelanggaran di Polres Sukabumi

Jabar | Kamis, 05 November 2026 | 21:17 WIB

Presiden Kena Sadap, Pemerintah Didesak Perketat Regulasi Hingga Pengawasan Penyadapan

Presiden Kena Sadap, Pemerintah Didesak Perketat Regulasi Hingga Pengawasan Penyadapan

News | Kamis, 05 November 2026 | 21:15 WIB

×