facebook

Kemenkeu Mulai Kencangkan Ikat Pinggang Antisipasi Lonjakan Inflasi

Chandra Iswinarno | Mohammad Fadil Djailani
Kemenkeu Mulai Kencangkan Ikat Pinggang Antisipasi Lonjakan Inflasi
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Natan Kacaribu. [Suara.com/Fadil]

Kemenkeu mulai mengencangkan ikat pinggang lantaran adanya ancaman laju inflasi yang saat ini menjadi permasalahan utama negara-negara di dunia.

Suara.com - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mulai mengencangkan ikat pinggang lantaran adanya ancaman laju inflasi yang saat ini menjadi permasalahan utama negara-negara di dunia, termasuk Indonesia.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan(BKF Kemenkeu) Febrio Nathan Kacaribu mengatakan, beberapa negara sudah melakukan kebijakan moneter yang cukup kuat untuk mengatasi masalah lonjakan laju inflasi.

"Misalnya Brazil, Rusia, Meksiko, dan Afrika Selatan dalam merespons inflasi dengan kenaikan suku bunga acuannya," kata Febrio dalam Taklimat Media, Tanya BKF: Mengoptimalkan Sumber Pertumbuhan Ekonomi ke Depan secara virtual, Jumat (13/5/2022).

Sebaliknya, Amerika Serikat, walaupun inflasinya sudah di 8 persen ke atas, tingkat suku bunga kebijakannya belum disesuaikan dengan cepat. 

Baca Juga: Ekonomi Kuartal I 2022 Tumbuh 5,01 Persen, Badan Kebijakan Fiskal: Melebihi PDB 2019

Sehingga, kata dia, pemerintah perlu antisipasi kondisi ini, karena bisa saja kenaikan suku bunga AS akan terjadi dalam waktu dekat-dekat ini.

"Kita juga harus melihat bahwa kemungkinan kenaikan suku bunga ini akan semakin cepat dalam beberapa bulan ke depan, sehingga dampaknya bagi perekonomian global dan domestik harus diantisipasi dengan baik,” papar Febrio.

Sementara di dalam negeri, Febrio mengemukakan, kondisi inflasi di Indonesia masih relatif rendah bila dibandingkan dengan banyak negara, yaitu sebesar 3,5 persen di bulan April atau masih sejalan dengan outlook pemerintah.

Meski begitu, pemerintah akan terus memitigasi dampak inflasi terhadap harga-harga komoditas, baik energi maupun bahan pangan, sehingga inflasi yang tertransmisi ke rumah tangga masih relatif bisa dikelola dengan baik.

“APBN sebagai shock absorber memastikan bahwa dampaknya terhadap daya beli masyarakat juga dapat dikelola dengan baik,” katanya.

Baca Juga: Inflasi Meroket, Harga Komoditas Pangan Naik Lagi

Komentar