facebook

Harga Energi Mahal, Pertamina dan PLN Bukan Untung Malah Buntung

Chandra Iswinarno | Mohammad Fadil Djailani
Harga Energi Mahal, Pertamina dan PLN Bukan Untung Malah Buntung
Menkeu Sri Mulyani dalam konfrensi pers APBN Kita, Senin (23/9/2021). [Tangkapan layar]

Harga minyak mentah dunia yang melesat tinggi imbas konflik Rusia dan Ukraina membuat arus kas PT Pertamina (Persero) mengalami defisit yang cukup besar.

Suara.com - Harga minyak mentah dunia yang melesat tinggi imbas konflik Rusia-Ukraina membuat arus kas PT Pertamina (Persero) mengalami defisit yang cukup besar.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, akibat kenaikan ini perusahaan migas plat merah tersebut diprediksi bakal menanggung rugi sekitar USD12,98 miliar atau setara Rp190 triliun dengan kurs Rp14.700.

"Arus kas (Pertamina) defisitnya estimasi mencapai USD12,98 miliar," ungkap Sri Mulyani saat rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI pada Kamis (19/5/2022).

Kerugian ini bersumber dari tidaknya adanya penyesuaian harga jual BBM oleh Pertamina ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan. Disebutkan Sri Mulyani, Pertamina sudah mengalami arus kas defisit sejak Januari 2022, dimana hingga Maret 2022 arus kas pertamina sudah tekor USD2,44 miliar.

Baca Juga: Sri Mulyani Khawatir Kenaikan Inflasi Gerus Daya Beli Masyarakat

"Maka tidak heran arus kas operasional Pertamina semenjak Januari constantly negative karena Pertamina harus menanggung perbedaan. Ini yang menyebabkan kondisi keuangan Pertamina menurun," paparnya.

Nasib yang sama juga dialami oleh PT PLN (Persero), kenaikan harga komoditas energi dunia ini juga membuat arus kas PLN ikutan tekor.

Dikatakan Sri Mulyani,  perusahaan listrik nasional tersebut harus menanggung beban arus kas defisit sebesar Rp71,1 triliun hingga akhir tahun ini.

"PLN juga tidak menaikkan tarif listrik. defisit ini diperkirakan akan mencapai Rp71,1 triliun untuk PLN," katanya.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik, Sri Mulyani Lobi Banggar Rubah Postur APBN 2022 Jadi Rp 3.106 Triliun

Komentar