facebook

Rugi Akibat Banjir Rob, Pabrik-pabrik di Demak Bakal Pindah ke Batang dan Kendal?

M Nurhadi
Rugi Akibat Banjir Rob, Pabrik-pabrik di Demak Bakal Pindah ke Batang dan Kendal?
Foto udara pemukiman rumah warga terendam banjir rob (banjir pasang air laut) di Kelurahan Muarareja, Tegal, Jawa Tengah, Senin (23/5/2022). ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

Belum ada rencana relokasi pabrik dari Demak dan Semarang ke wilayah lain karena alasan banjir rob.

Suara.com - Wilayah Semarang dan Demak menjadi dua daerah yang paling parah diterjang banjir rob di Jawa Tengah. Kerap banjir, apakah pabrik di Demak dan Semarang akan pindah ke Batang dan Kendal?

Sejauh ini belum ada kabar mengenai kepindahan pabrik dari Demak dan Semarang ke wilayah Batang dan Kendal. Padahal dua wilayah tersebut sama-sama memiliki kawasan industri yang tengah berkembang pesat. 

Bahkan, di Batang dikabarkan akan dibangun pabrik teknologi Tesla milik pengusaha Amerika Serikat Elon Musk. Sementara itu, melansir dari website resmi Bumimas Group yang terlibat dalam pembangunan kawasan industri Demak, saat ini kawasan tersebut masih terus aktif kendati berada di Kecamatan Sayung. 

Kecamatan Sayung, Demak, merupakan kawasan tepi pantai dengan dampak banjir rob yang paling parah. Tidak dipungkiri bahwa kawasan industri Demak merupakan lahan strategis yang dekat dengan Pelabuhan Tanjung Mas dan jalan lingkar luar Semarang. 

Baca Juga: Pemprov Jateng Pastikan Logistik untuk 22 Ribu Warga Terdampak Banjir Rob di Kota Semarang dan Demak Aman

Di lain sisi, kawasan industri di Jawa Tengah terutama Batang dan Kendal banyak diisi oleh pabrik-pabrik yang semula bermarkas di Banten dan Jawa Barat.

Beberapa waktu lalu, Ketua Asosiasi Serikat Pekerja (ASPEK) Mirah Sumirat mengatakan, maraknya relokasi sejumlah pabrik industri padat karya di Banten ke daerah Jawa Tengah bukan karena upah yang tinggi di wilayah tersebut, tetapi karena mengindari korupsi dan birokrasi yang berbelit.

"Ini konyol ketika upah murah dijadikan alasan, padahal ketika saya mengikuti acara BPJS Ketenagakerjaan di Semarang 3 hari lalu bersama dengan Dr Indra Budi beliau adalah anggota JSN Nasional dan mantan staf Bank Dunia dalam penelitian mengungkapkan bukan soal upah yang dijadikan patokan investor untuk menanamkan modal di Indonesia, tapi justru tingkat korupsi dan birokrasi yang jadi hambatan para investor selama ini. Upah itu peringkat kesekian, jadi penelitian ini cukup mengagetkan saya" kata Mirah. 

Maka dari itu tak heran kata Mirah ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) cukup kesal dengan banyaknya perusahaan asal China yang merelokasi pabriknya ke Vietnam tanpa melirik Indonesia.

"Makanya mereka (Investor) kesal karena korupsi yang begitu tinggi dan birokrasi yang berbeli-belit, makanya rata-rata mereka pilih Vietnam karena disana pemerintahnya kasih pajaknya free tanahnya free, kemudian juga sarana dan prasarana yang dibangun Vietnam," pungkas Mirah.

Baca Juga: Banjir Bandang Hingga Tanah Longsor Terjang India, 25 Orang Tewas Dan Ratusan Ribu Mengungsi

Kontributor : Nadia Lutfiana Mawarni

Komentar