Dirut BPJS Kesehatan Dukung Kenaikan Tarif INA CBGs

Fabiola Febrinastri, Restu Fadilah

Rabu, 19 Oktober 2022 | 19:19 WIB
Dirut BPJS Kesehatan Dukung Kenaikan Tarif INA CBGs
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ali Ghufron Mukti ditemui awak media usai Pertemuan Nasional Fasilitas Kesehatan tahun 2022, Jakarta (19/10/2022). (Dok: Restu Fadilah/Suara.com)

Suara.com - Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ali Ghufron Mukti mendukung adanya kenaikan tarif Indonesia Case Based Groups atau INA CBGs. Tarif INA CBGs adalah rata-rata biaya yang dihabiskan untuk suatu kelompok diagnosis, kapitasi hingga iuran BPJS Kesehatan yang dibayarkan kepada rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan.

Ghufron mengatakan, kenaikan tarif INA CBGs bisa membantu cost operational rumah sakit yang selalu meningkat. Kenaikan tarif INA CBGs juga diyakini dapat membuat rumah sakit bergerak lebih bebas.

"Kami mendorong juga kenaikan tarif itu (INA CBGs) walaupun dulu sudah pernah dinaikkan. Biar rumah sakit bisa bergerak lebih bebas," tutur Ghufron kepada awak media usai Pertemuan Nasional Fasilitas Kesehatan tahun 2022, Jakarta (19/10/2022).

Kendati demikian, Ghufron menekankan agar kenaikan tarif INA CBGs harus dibarengi dengan peningkatan mutu dan sistem pelayanan. Kenaikan tarif INA-CBGs harus memberikan dampak positif bagi peserta, seperti mendapat akses lebih baik, lebih adil, dan mendapatkan intervensi lebih dini. Dia juga mengingatkan, jangan sampai, masih ada diskriminasi terhadap pasien BPJS Kesehatan.

Lebih jauh Ghufron menjelaskan, pernah ada fasilitas kesehatan yang melakukan diskriminasi pelayanan terhadap pasien BPJS Kesehatan. Salah satunya adalah memisahkan layanan kesehata peserta BPJS Kesehatan di area parkir bawah tanah (basement).

"Pasien BPJS di ruangan yang bawah, ruangan di ground, tidak ada AC. Dijadisatu dengan parkir dan pengap. Padahal pasien yang lain (non BPJS) ini enggak seperti itu, kami kasih peringatan," urai Ghufron.

Atas temuan tersebut, pihaknya langsung melakukan evaluasi dan memberikan peringatan kepada rumah sakit untuk melakukan perbaikan dalam 2 bulan.

"Kami ingatkan dalam 2 bulan harus diperbaiki dan akhirnya diperbaiki dalam waktu 2 bulan. Kalau tidak diperbaiki ini kita putus hubungan kerja sama," tegas Ghufron.

Sebagai informasi, kenaikan tarif INA CBGs didorong ARSSI (Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia). Pada 14 September 2022 lalu, ARSSI melayangkan surat kepada Menteri Kesehatan. Isi pokok surat tersebut tentang permintaan kenaikan tarif INA CBGs, berdasarkan peraturan menteri Kesehatan no. 52 tahun 2016 tentang standar tarif pelayanan kesehatan dalam program jaminan Kesehatan (JKN) yang masih berlaku sampai saat ini mengingat lebih dari enam tahun belum dilakukan kenaikan.

baca juga

Di sisi lain, biaya pelayanan Kesehatan dan beban operasional rumah sakit setiap tahun mengalami kenaikan sehingga ARSSI melalui suratnya mendesak Kementerian Kesehatan RI untuk menaikkan tarif INA CBGs sebesar 30 persen seiring dengan kenaikan harga barang, BBM, UMR yang meningkat serta kenaikan PPn. Tarif yang sekarang membuat resah kalangan pengelola rumah sakit, pemda dan tenaga kesehatan yang berimbas dengan pelayanan yang berbasis pasien safety dan kesejahteraan tenaga Kesehatan yang saat ini belum optimal dan berkeadilan.

Iuran Peserta Dipastikan Tak Naik hingga 2024

Ghufron tak menampik kenaikan tarif INA CBGs akan berdampak terhadap peningkatan klaim BPJS Kesehatan. Kendati demikian, kenaikan klaim tak lantas membuat BPJS Kesehatan menaikan iuran tarif BPJS Kesehatan. Ghufron memastikan, iuran peserta tidak akan naik sampai tahun 2024.

"Ya jelas (klaimnya akan naik). Untuk iuran kepesertaan BPJS Kesehatan, kami berusaha dan berharap tidak ada kenaikan sampai tahun 2024," tuturnya.

Ghufron memastikan, besaran iuran BPJS Kesehatan masih belum berubah alias sama yaitu 5 persen. Bagi peserta PPU (pekerja penerima upah) atau pekerja formal, besaran iuran sebesar 5 persen dari upah dengan rincian 4 persen pemberi kerja dan 1 persen dibayar oleh pekerja.

Bagi masyarakat miskin dan tidak mampu yang terdaftar sebagai Peserta PBI, iurannya sebesar Rp 42.000. Ini dibayarkan oleh pemerintah pusat, dengan kontribusi pemerintah daerah sesuai kondisi dan kemampuan fiskal tiap daerah.

Selanjutnya, untuk perhitungan iuran ini berlaku juga batas bawah yaitu upah minimum kabupaten/kota dan batas atas sebesar Rp 12 juta.

Adapun bagi kelompok peserta BPJS Kesehatan sektor informal yang tidak memiliki penghasilan tetap, akan dikelompokkan sebagai peserta PBPU (pekerja bukan penerima upah) dan BP (bukan pekerja). Untuk jenis kepesertaan ini, peserta dapat memilih besaran iuran sesuai yang dikehendaki sesuai kemampuan finansialnya.
Rinciannya, iuran kelas 1 sebesar Rp 150.000 per orang per bulan, kelas 2 sebesar Rp 100.000 per orang per bulan dan kelas 3 sebesar Rp 35.000 per orang per bulan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

BPJS Kesehatan Siap Tanggung Biaya Pengobatan Gangguan Ginjal Akut Misterius

BPJS Kesehatan Siap Tanggung Biaya Pengobatan Gangguan Ginjal Akut Misterius

Bisnis | Rabu, 19 Oktober 2022 | 15:35 WIB

BPJS Kesehatan Ajak Faskes Tingkatkan Mutu Layanan Bagi Peserta JKN

BPJS Kesehatan Ajak Faskes Tingkatkan Mutu Layanan Bagi Peserta JKN

Bisnis | Rabu, 19 Oktober 2022 | 13:41 WIB

Segini Besaran Iuran BPJS Kesehatan Terbaru Oktober 2022, Ada Perubahan?

Segini Besaran Iuran BPJS Kesehatan Terbaru Oktober 2022, Ada Perubahan?

News | Selasa, 18 Oktober 2022 | 20:43 WIB

Kisah Sedih Keluarga di Kanaan: Ayah Ibu Lumpuh, Anak Kesulitan Mendapat Pekerjaan, Rumah Menumpang, Minim Bantuan

Kisah Sedih Keluarga di Kanaan: Ayah Ibu Lumpuh, Anak Kesulitan Mendapat Pekerjaan, Rumah Menumpang, Minim Bantuan

Kaltim | Jum'at, 14 Oktober 2022 | 15:00 WIB

Cara Ubah Data BPJS Kesehatan Secara Online

Cara Ubah Data BPJS Kesehatan Secara Online

News | Jum'at, 14 Oktober 2022 | 14:33 WIB

Puskesmas Bangli Utara Bali, Contoh Layanan Promprev yang Baik

Puskesmas Bangli Utara Bali, Contoh Layanan Promprev yang Baik

Bisnis | Kamis, 13 Oktober 2022 | 20:08 WIB

Terkini

Ramai Isu Book Shaming: Saatnya Pembaca Bedakan Kritik Karya dengan Hinaan

Ramai Isu Book Shaming: Saatnya Pembaca Bedakan Kritik Karya dengan Hinaan

Your Say | Kamis, 05 November 2026 | 20:45 WIB

Pemerintah Desak Bank MNC Penuhi Hak Nasabah

Pemerintah Desak Bank MNC Penuhi Hak Nasabah

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 20:43 WIB

Keysha Angelica Riset Gestur Pelakor Lewat Medsos demi Peran Citra di Kesetiaan

Keysha Angelica Riset Gestur Pelakor Lewat Medsos demi Peran Citra di Kesetiaan

Entertainment | Kamis, 05 November 2026 | 20:40 WIB

Jika Presiden Saja Bisa Disadap, Seberapa Aman Privasi Digital Kita?

Jika Presiden Saja Bisa Disadap, Seberapa Aman Privasi Digital Kita?

Your Say | Kamis, 05 November 2026 | 20:35 WIB

Golkar Soal Kabar 6-7 Ketum Parpol Diduga Turut Disadap Listyo: Sinyal Buruk Bagi Demokrasi

Golkar Soal Kabar 6-7 Ketum Parpol Diduga Turut Disadap Listyo: Sinyal Buruk Bagi Demokrasi

News | Kamis, 05 November 2026 | 20:32 WIB

Jay Idzes Bongkar Borok Sassuolo, Kualitas Bagus Tak Cukup Tanpa Mentalitas

Jay Idzes Bongkar Borok Sassuolo, Kualitas Bagus Tak Cukup Tanpa Mentalitas

Bola | Kamis, 05 November 2026 | 20:30 WIB

Irjen Slamet Uliandi Jadi Tersangka Penyadapan, Belum Ditahan karena Sakit

Irjen Slamet Uliandi Jadi Tersangka Penyadapan, Belum Ditahan karena Sakit

News | Kamis, 05 November 2026 | 20:21 WIB

Bareskrim Tetapkan Irjen Slamet Uliandi Tersangka Kasus Penyadapan Prabowo

Bareskrim Tetapkan Irjen Slamet Uliandi Tersangka Kasus Penyadapan Prabowo

News | Kamis, 05 November 2026 | 20:18 WIB

Jadi Dewan Pembina MC Bareskrim, Irjen Slamet Uliandi Punya Kewenangan Izinkan Penyadapan

Jadi Dewan Pembina MC Bareskrim, Irjen Slamet Uliandi Punya Kewenangan Izinkan Penyadapan

News | Kamis, 05 November 2026 | 20:16 WIB

Dari Tagar ke Aksi Nyata: Bukti Gen Z Vocal Awasi Isu Negara, Bukan FOMO!

Dari Tagar ke Aksi Nyata: Bukti Gen Z Vocal Awasi Isu Negara, Bukan FOMO!

Your Say | Kamis, 05 November 2026 | 20:15 WIB

×