Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Metaverse dan Perkembangan Blockchain Akan Melahirkan Ekonomi Baru

Iwan Supriyatna

Jum'at, 04 November 2022 | 14:31 WIB
Metaverse dan Perkembangan Blockchain Akan Melahirkan Ekonomi Baru
Metaverse. (foto: antara)

Suara.com - Perkembangan blockchain yang mulai diikuti dengan jargon tren “metaverse” akhir-akhir ini menarik semakin banyak perhatian publik di dunia terutama aplikasi berbasis game yang menyematkan mata uang kripto dengan teknologi blockchain sebagai basis platform teknologi pendukungnya.

Namun sayangnya pemahaman mengenai metaverse masih sangat dini dan sering kali orang menyebut segala jenis game berbasis blockchain sebagai metaverse padahal metaverse yang diwacanakan oleh para industrialis dunia sifatnya jauh lebih rumit dan kompleks dalam ranah penerapan dan pengaktifasian ekosistemnya, bukan sekedar game online berbasis blockchain.

Dalam sebuah kesempatan, Reiner Rahardja pengusaha yang juga berkecimpung di dunia pengembangan blockchain sejak 6 tahun silam menjelaskan bahwa Metaverse yang sejati hanya akan terjadi jika memiliki penerapan ekosistem dan ekonomi independen didalamnya yang menjadikan metaverse tersebut sebagai pengejawantahan dari gabungan kata “meta” dan “universe” atau meta-universe yang kemudian disingkat menjadi sebuah kata baru yakni “metaverse”.

Dimana dalam kata universe sendiri artinya jagat semesta yang mewakili ruang dan waktu fisik dalam kehidupan kita sehari-hari, tentu termasuk didalamnya adalah kegiatan harian manusia yang seluruhnya berputar disekitar unsur finansial dan uang.

"Sedangkan kata Meta secara etimologi artinya adalah “melampaui” atau bersifat transenden, pemahaman kata inilah yang membuat rancu pengertian metaverse secara global karena publik belum bisa membedakan mana Meta yang artinya brand media sosial milik Mark Zuckerberg, atau meta dalam arti kata sebenarnya. Sehingga banyak orang berpikir metaverse adalah produk atau teknologi milik perusahaan yang dulunya bernama Facebook, padahal sama sekali bukan," ujar Reiner.

Ia juga mendeskripsikan metaverse sederhananya adalah sebuah dunia baru yang melampaui asas ruang dan waktu fisik dan menjadi opsi hidup kedua bagi setiap insan untuk menjalani kehidupannya dengan serius.

Bukan dalam konteks berpindah hidup dari universe saat ini lalu secara harafiah masuk dalam metaverse di dunia maya dan tidak keluar lagi, tapi lebih kepada eksistensi dua jenis dunia berbeda yang saling berjalan bersamaan atau sifatnya “co-exist”

Kenyataan ini juga terlihat dalam ucapan Mark Zuckerberg 2021 silam yang sedang mentransformasi perusahaanya dari perusahaan sosial media menjadi perusahaan metaverse. Dari situ kita mendapat hidden message bahwa dunia maya saat ini bukanlah metaverse, sedangkan populasi terbesar penduduk dunia maya sekarang adalah sekedar penduduk sosial media saja.

Senada dengan yang diutarakan Reiner Rahardja, bahwasannya ketika metaverse itu nanti sudah jadi kita dapat memulai hidup baru didalamnya bahkan memindahkan mata pencaharian dan kehidupan sosial kita sepenuhnya dalam metaverse.

baca juga

“Pindah ke metaverse ya semacam migrasi gitulah, kayak orang Indonesia merantau ke luar negri buat memperbaiki nasib ujung-ujungnya mah nyari duit juga cuman pergaulannya baru semua dan jati diri lama gak perlu dibawa ke metaverse. Ya perantau kan gitu, ga ada yang tau kita siapa di negara asal kita,” ucapnya.

Menariknya dari aspek blockchain saat ini adalah ketika metaverse itu tidak lagi menggunakan mata uang dunia dan segala bisnis serta aktifitas perekonomian didalamnya sama sekali terpisah dari roda perekonomian universe normal tutur Reiner, karena sifat blockchain adalah desentralisasi alias tidak terpusat atau dikontrol segelintir super power jadi yang ada adalah pengaturan dari rakyat untuk rakyat melalui system voting blockchain.

Sifat ini yang apabila diterapkan dengan baik nantinya akan membuat perekonomian metaverse terpisah dari universe yang ada, terbukti dari perkembangan mata uang kripto akhir-akhir ini yang beberapa kali mengalami fenomena “decoupling” dari finansial market dunia.

Bahkan dalam keputusan The Fed tanggal 2 November 2022 kemarin volatilitas kripto tidak seanjlok bursa saham dan itu menunjukan anomali, bayangkan jika kripto sudah fully alive dalam metaverse, akan menjadi kuda hitam dalam perubahan masal pola hidup manusia

Tinggal menunggu waktu saja sampai metaverse yang berjalan sesuai harapan dapat muncul dan “co-exist” dengan universe saat ini dan memberikan pilihan hidup lebih luas untuk melanjutkan sepak terjang di dunia nyata atau memulai kehidupan baru dengan pergaulan dan peluang-peluang baru di dalam metaverse.

“Saya rasa sebelum tahun 2027 pun manusia sudah banyak yang migrasi ke metaverse karena sudah ada metaverse yang dapat memfasilitasi hidup baru tersebut secara holistik,” pungkas Reiner Rahardja.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Prospek DOGE Usai Elon Musk Akusisi Twitter, Nilainya Kini Makin Meroket

Prospek DOGE Usai Elon Musk Akusisi Twitter, Nilainya Kini Makin Meroket

Bisnis | Selasa, 01 November 2022 | 15:52 WIB

Elon Musk Sah Jadi Pemilik Twitter, Kripto DOGE Naik 111%

Elon Musk Sah Jadi Pemilik Twitter, Kripto DOGE Naik 111%

Bisnis | Selasa, 01 November 2022 | 15:34 WIB

Harga saham Facebook Anjlok, Masa Depan Proyek Metaverse Kian Terancam

Harga saham Facebook Anjlok, Masa Depan Proyek Metaverse Kian Terancam

Bisnis | Senin, 31 Oktober 2022 | 19:17 WIB

Terkini

ESDM Akui Tahan Ekspor Batu Bara Demi PLN, Masalah Pasokan PLTU Terungkap di Tengah Pemadaman

ESDM Akui Tahan Ekspor Batu Bara Demi PLN, Masalah Pasokan PLTU Terungkap di Tengah Pemadaman

Bisnis | Selasa, 23 Juni 2026 | 20:10 WIB

Wujud Nyata Komitmen ESG, Pegadaian Gelar Khitanan Massal 2026 Bagi 500 Anak

Wujud Nyata Komitmen ESG, Pegadaian Gelar Khitanan Massal 2026 Bagi 500 Anak

Bisnis | Selasa, 23 Juni 2026 | 19:33 WIB

Marak Transaksi Palsu di Tokopedia, Pemerintah Gregetan!

Marak Transaksi Palsu di Tokopedia, Pemerintah Gregetan!

Bisnis | Selasa, 23 Juni 2026 | 19:00 WIB

Soal Laporan ke KPK, ITDC Klaim Tak Punya Wewenang Atur Dana Relokasi Mandalika

Soal Laporan ke KPK, ITDC Klaim Tak Punya Wewenang Atur Dana Relokasi Mandalika

Bisnis | Selasa, 23 Juni 2026 | 18:15 WIB

Menkeu Purbaya Legalkan Pencucian Uang Lewat Patriot Bond?

Menkeu Purbaya Legalkan Pencucian Uang Lewat Patriot Bond?

Bisnis | Selasa, 23 Juni 2026 | 18:13 WIB

Investor Asing Masih Asik Jual Saham di RI, BMRI dan DSSA Jadi Incaran

Investor Asing Masih Asik Jual Saham di RI, BMRI dan DSSA Jadi Incaran

Bisnis | Selasa, 23 Juni 2026 | 18:07 WIB

Lahan Meikarta Bakal jadi Aset Negara? Maruarar Segera Urus Legalitas

Lahan Meikarta Bakal jadi Aset Negara? Maruarar Segera Urus Legalitas

Bisnis | Selasa, 23 Juni 2026 | 17:55 WIB

Terungkap! Dua PLTU Raksasa di Cilacap Sempat Bermasalah, Jadi Pemicu Pemadaman Bergilir di Jawa

Terungkap! Dua PLTU Raksasa di Cilacap Sempat Bermasalah, Jadi Pemicu Pemadaman Bergilir di Jawa

Bisnis | Selasa, 23 Juni 2026 | 17:45 WIB

Listrik Pulau Jawa Gelap Gulita, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Listrik Pulau Jawa Gelap Gulita, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Bisnis | Selasa, 23 Juni 2026 | 16:56 WIB

Pupuk Indonesia Tembus Australia, Ekspor Urea 250 Ribu Ton Dikebut hingga Akhir 2026

Pupuk Indonesia Tembus Australia, Ekspor Urea 250 Ribu Ton Dikebut hingga Akhir 2026

Bisnis | Selasa, 23 Juni 2026 | 16:14 WIB