- Bursa saham Wall Street mencatat rekor tertinggi pada Rabu setelah muncul laporan potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
- Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan karena pelaku pasar merespons positif meredanya konflik geopolitik di Selat Hormuz tersebut.
- Sektor saham teknologi, khususnya produsen chip seperti AMD, menjadi pendorong utama penguatan indeks di tengah laporan keuangan yang solid.
Suara.com - Bursa Saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat tajam pada perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis Pagi waktu Indonesia).
Penguatan Wall Street ini, setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang selama ini memicu ketegangan geopolitik global.
Mengutip CNBC, Kamis (7/5/2026), indeks S&P 500 melonjak 1,46 persen ke level 7.365,12. Sementara itu, Nasdaq Composite melesat 2,02 persen dan ditutup di posisi 25.838,94. Kedua indeks tersebut mencetak rekor tertinggi baru.
Sedangkan Dow Jones Industrial Average ikut menguat 612,34 poin atau 1,24 persen menjadi 49.910,59.
Sentimen positif pasar dipicu laporan Axios yang menyebut AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan damai. Mengutip sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, kesepakatan itu disebut akan mencakup moratorium pengayaan nuklir Iran.
![ilustrasi indeks saham Wall Street yang langsung ngegas setelah ada harapan perang berakhir. [Unsplash].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/07/61358-wall-street-nasdaq-dow-jones-saham.jpg)
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran juga mengatakan kepada CNBC bahwa pemerintah Iran tengah mengevaluasi proposal dari AS terkait penyelesaian konflik.
Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi sinyal bahwa kesepakatan belum sepenuhnya pasti. Dalam pernyataannya pada Rabu, Trump menyebut peluang tercapainya perjanjian masih sebatas mungkin, sebuah asumsi besar.
Pernyataan itu membuat penguatan pasar sempat berkurang dari posisi tertingginya.
"Jika mereka tidak setuju, pemboman akan dimulai, dan sayangnya, akan terjadi pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya," tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya.
Trump sebelumnya juga mengungkapkan bahwa dirinya menunda “Proyek Kebebasan”, yakni rencana AS untuk memandu kapal keluar dari Selat Hormuz.
Menurut Trump, keputusan itu diambil karena adanya kemajuan besar menuju kesepakatan lengkap dan final dengan perwakilan Iran.
Di sisi lain, harga minyak dunia anjlok tajam karena pelaku pasar mulai mengurangi eksposur terhadap aset energi dengan harapan konflik segera berakhir.
Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 7,03 persen dan menetap di level 95,08 dolar AS per barel. Sementara Brent melemah 7,83 persen ke posisi 101,27 dolar AS per barel.
Direktur Investasi US Bank Asset Management Group Bill Northey mengatakan meredanya konflik dapat membuka kembali jalur perdagangan penting dunia di Selat Hormuz.
"Jika kita benar-benar mencapai titik di mana permusuhan mulai melambat atau bahkan berhenti sepenuhnya, dan kita melihat pembukaan kembali Selat Hormuz, ini akan memungkinkan beberapa wilayah yang paling sensitif secara ekonomi dan paling terdampak seperti Asia Tenggara dan Eropa menghindari tekanan ekonomi mereka," ujar Northey.