Kualitas BBM Penentu Tingkat GRK dan Pertumbuhan Ekonomi

Iwan Supriyatna | Suara.com

Rabu, 12 Februari 2025 | 07:58 WIB
Kualitas BBM Penentu Tingkat GRK dan Pertumbuhan Ekonomi
Executive Director Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal dalam media workshop bertema Perbaikan Tata Kelola BBM untuk Mengatasi Persoalan Polusi Udara, Kesehatan dan Ekonomi.

Suara.com - Penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tidak ramah lingkungan dapat menyebabkan kerugian ekonomi dan menurunkan produktivitas. Executive Director Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menjelaskan bahwa kualitas BBM yang buruk berkontribusi terhadap peningkatan gas rumah kaca (GRK) yang nantinya berdampak terhadap kenaikan suhu global.

Dalam jangka panjang, peningkatan GRK akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan data KLKH transportasi darat menyumbang 20,7 persen terhadap total emisi sektor energi. Mengganti BBM yang lebih ramah lingkungan di sektor transportasi diharapkan bisa mengurangi GRK.

Menurut kajian CORE, Faisal mengatakan bahwa negara-negara ASEAN akan merasakan dampak paling buruk jika suhu bumi terus meningkat. Kenaikan suhu global dapat memicu berbagai bencana alam dan kerusakan lingkungan, yang pada akhirnya mengganggu produksi pangan. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut.

Berdasarkan data dari Swiss Re Institute, ASEAN berisiko mengalami kerugian Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 4,2 persen pada pertengahan abad ini jika kenaikan suhu global tidak dapat dikendalikan di bawah 2 derajat Celcius.

Jika suhu meningkat, melebihi 2 derajat Celcius, potensi kerugian ekonomi bisa mencapai 17 persen. Bahkan, jika suhu naik hingga 2,6 derajat Celcius, kerugian diproyeksikan meningkat drastis hingga 29 persen.

"Semakin tinggi kenaikan suhu, semakin besar dampak yang ditimbulkan," ujar Faisal, ditulis Rabu (12/2/2025).

Untuk mencegah GRK yang semakin besar, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggunakan BBM yang lebih bersih terutama untuk sektor transportasi. Sayangnya, saat ini, Indonesia masih tertinggal dalam adopsi standar Euro untuk industri otomotif.

Pemerintah Indonesia menerapkan baku mutu standar Euro 4 untuk industri otomotif pada 2022. Hal ini cukup tertinggal dibandingkan dengan negara berkembang lain. Di Asia Tenggara, Indonesia tertinggal cukup jauh dari Vietnam.

Vietnam, telah menerapkan standar Euro 4 pada tahun 2005 untuk kendaraan berat. Sementara untuk mobil penumpang, Vietnam bahkan telah menerapkan Euro 5 untuk mobil penumpang pada tahun 2009. India bahkan telah menerapkan standar Euro 6 untuk sepeda motor, mobil penumpang dan mobil berat pada 2014.

Anggaran Subsidi Berpotensi Membengkak

Indonesia saat ini sedang berupaya meningkatkan adopsi Euro 4. Namun, peningkatan kualitas BBM menuju Standar Euro-4 dapat menambah anggaran subsidi. Volume konsumsi dan anggaran subssdi untuk BBM mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Menurut kajian CORE, ada 3 skenario yang bisa digunakan untuk mendorong adopsi Euro 4 di Indonesia.

Pertama, pemerintah menaikkan anggaran subsidi untuk penggunaan BBM Euro-4. Kenaikan harga BBM akibat peningkatan kualitas ditanggung seluruhnya oleh pemerintah. Kedua, dengan kenaikan harga universal. Pemerintah mempertahankan anggaran subsidi di tingkat saat ini.

Sementara itu, kenaikan harga BBM akibat peningkatan kualitas seluruhnya ditanggung oleh masyarakat.
Skenario ketiga pembatasan subsidi BBM. Pemerintah mengalihkan anggaran subsidi untuk membiayai BBM Euro-4 melalui pembatasan subsidi bagi sebagian jenis kendaraan. Hanya kendaraan bermotor dan angkutan umum saja yang bisa menikmati subsidi BBM.

Jika pemerintah menggunakan skenario pertama, maka untuk anggaran subsidi diperkirakan terus membangkak hingga Rp 54,6 triliun pada 2025. Kemudian naik hingga Rp 96,2 triliun pada 2026, hinga Rp 157,8 triliun pada 2028 demi menyediakan BBM Euro-4 pada 2028 secara keseluruhan.

Sementara itu, jika menggunakan kenaikan harga universal, hal ini bisa berdampak terhadap kenaikan inflasi. Menurut hasil kajian, kenaikan harga BBM sebesar Rp500 per liter menyebabkan inflasi sekitar 0,21%. Angka ini relatif rendah dibandingkan kenaikan Rp2000 per liter yang bisa menyebabkan inflasi sebesar 0,83%.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pemerintah Klaim Tak Diam Diri Saat BBM di SPBU Shell Kosong

Pemerintah Klaim Tak Diam Diri Saat BBM di SPBU Shell Kosong

Bisnis | Selasa, 11 Februari 2025 | 18:24 WIB

Pasokan BBM Shell Mulai Tersedia, Tapi Nggak Semua SPBU

Pasokan BBM Shell Mulai Tersedia, Tapi Nggak Semua SPBU

Bisnis | Kamis, 06 Februari 2025 | 14:59 WIB

Bahlil Sebut Shell Kehabisan BBM Bukan Salah Pemerintah

Bahlil Sebut Shell Kehabisan BBM Bukan Salah Pemerintah

Bisnis | Senin, 03 Februari 2025 | 17:23 WIB

Terkini

Harga Avtur Naik 70%, Nasib Tarif Tiket Pesawat Gimana?

Harga Avtur Naik 70%, Nasib Tarif Tiket Pesawat Gimana?

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 14:42 WIB

LPDB Koperasi Perkuat Skema Penyaluran Dana Bergulir untuk Dukung Operasional KDKMP

LPDB Koperasi Perkuat Skema Penyaluran Dana Bergulir untuk Dukung Operasional KDKMP

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 14:35 WIB

Punya 9,8 Juta Pengguna, Indodax Perkuat Literasi Kripto di Indonesia

Punya 9,8 Juta Pengguna, Indodax Perkuat Literasi Kripto di Indonesia

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 14:31 WIB

Tarif Listrik Tak Naik Hingga Juni 2026

Tarif Listrik Tak Naik Hingga Juni 2026

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 14:24 WIB

Timur Tengah Bergejolak, Petrokimia Gresik Bicara Nasib Soal Pasokan Sulfur

Timur Tengah Bergejolak, Petrokimia Gresik Bicara Nasib Soal Pasokan Sulfur

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 14:09 WIB

Laba Bersih PTBA Terkoreksi 42,74 Persen di Tengah Pembengkakan Beban Operasional

Laba Bersih PTBA Terkoreksi 42,74 Persen di Tengah Pembengkakan Beban Operasional

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 13:44 WIB

Sektor Swasta Ini Diharamkan untuk Ikut WFH oleh Pemerintah

Sektor Swasta Ini Diharamkan untuk Ikut WFH oleh Pemerintah

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 13:22 WIB

Sah! Ini SE Aturan Swasta Terapkan WFH Bagi Karyawannya

Sah! Ini SE Aturan Swasta Terapkan WFH Bagi Karyawannya

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 13:14 WIB

Manfaatkan CNG, PGN Perkuat Ketahanan Energi Nasional di Arus Mudik

Manfaatkan CNG, PGN Perkuat Ketahanan Energi Nasional di Arus Mudik

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 13:07 WIB

IHSG Melonjak 1,45% di Sesi 1, 502 Saham Meroket

IHSG Melonjak 1,45% di Sesi 1, 502 Saham Meroket

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 13:03 WIB