Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.610.000
Beli Rp2.480.000
IHSG 5.820,790
LQ45 573,007
Srikehati 285,023
JII 338,419
USD/IDR 17.957

1,4 Miliar Masyarakat India Tidak Punya Uang, Kok Bisa?

Iwan Supriyatna, Rina Anggraeni

Kamis, 27 Februari 2025 | 15:27 WIB
1,4 Miliar Masyarakat India Tidak Punya Uang, Kok Bisa?
Bendera India.(Unsplash.com)

Suara.com - India nampaknya mengalami kesulitan ekonomi Hal ini dikarenakan 1,4 miliar masyarakat India tidak memiliki uang untuk belanja.

Dilansir BBC, 1 miliar masyarakat India mengalami kekurangan finansial sehingga tidak bisa berbelanja karena keuangan yang tidak mencukupi.

Menurut laporan dari Blume Ventures, sebuah perusahaan modal ventura kelas konsumen negara ini secara efektif merupakan pasar potensial bagi perusahaan rintisan atau pemilik bisnis hanya 130-140 juta orang.

Sebanyak 300 juta lainnya merupakan konsumen "baru" atau "calon konsumen."  Mereka enggan berbelanja dan baru saja mulai membuka dompet mereka. Ini karena pembayaran digital dengan sekali klik memudahkan transaksi.

Terlebih lagi, menurut laporan tersebut,  kelas konsumen di ekonomi terbesar ketiga di Asia tidak "melebar" melainkan "mendalam". Itu pada dasarnya berarti populasi kaya di India tidak benar-benar bertambah jumlahnya, meskipun mereka yang sudah kaya menjadi semakin kaya.

Semua ini membentuk pasar konsumen negara ini dengan berbagai cara yang unik, khususnya mempercepat tren "premiumisasi". Di mana  merek memacu pertumbuhan dengan menggandakan produk mahal dan canggih yang ditujukan untuk orang kaya daripada berfokus pada produk untuk pasar massal.

Hal ini terbukti dari penjualan rumah mewah dan ponsel premium yang terus meningkat, meskipun varian kelas bawahnya sedang berjuang. Rumah yang terjangkau kini hanya mencakup 18% dari keseluruhan pasar India dibandingkan dengan 40% lima tahun lalu.

Barang bermerek juga menguasai pangsa pasar yang lebih besar. Dan "ekonomi pengalaman" sedang berkembang pesat, dengan tiket konser mahal oleh artis internasional seperti Coldplay dan Ed Sheeran laku keras.

"Perusahaan yang telah beradaptasi dengan perubahan ini telah berkembang pesat,” kata Sajith Pai.

baca juga

"Mereka yang terlalu fokus pada pasar massal atau memiliki campuran produk yang tidak memiliki eksposur ke pasar premium telah kehilangan pangsa pasar," tambahnya.

Namun, kemerosotan konsumsi terkini semakin dalam bukan hanya karena hancurnya daya beli, tetapi juga karena penurunan tajam tabungan finansial dan melonjaknya utang di kalangan masyarakat. Bank sentral negara itu juga telah menindak tegas pinjaman mudah tanpa jaminan yang menopang permintaan setelah pandemi COVID.

Sebagian besar pengeluaran konsumsi dari kelas  baru atau calon masyarakat India didorong oleh pinjaman tersebut,  dan mematikan keran tersebut pasti akan berdampak pada konsumsi," kata Pai.

Temuan laporan tersebut memperkuat pandangan yang sudah lama berlaku bahwa pemulihan pascapandemi di India berbentuk K,  di mana orang kaya semakin kaya, sementara orang miskin kehilangan daya beli.

Faktanya, ini telah menjadi tren struktural jangka panjang yang dimulai bahkan sebelum pandemi. Ketimpangan di India semakin parah, dengan 10% penduduk teratas India kini menguasai 57,7% pendapatan nasional dibandingkan dengan 34% pada tahun 1990. Separuh penduduk terbawah mengalami penurunan pangsa pendapatan nasional dari 22,2% menjadi 15%.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Asosiasi Ecommerce Masih Tunggu Keputusan Tertulis soal Pajak Toko Online

Asosiasi Ecommerce Masih Tunggu Keputusan Tertulis soal Pajak Toko Online

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 19:03 WIB

Nikmati Belanja Lebih Hemat di Blibli Lewat Deretan Promo Spesial BRIDAY

Nikmati Belanja Lebih Hemat di Blibli Lewat Deretan Promo Spesial BRIDAY

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 18:27 WIB

Purbaya Sentil BPKP soal Audit 10 Perusahaan Sawit Diduga Manipulasi Ekspor CPO

Purbaya Sentil BPKP soal Audit 10 Perusahaan Sawit Diduga Manipulasi Ekspor CPO

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 17:06 WIB

Purbaya Jamin Lahan Hibah Meikarta 30 Hektare Tak Bebani APBN Saat Dikelola Danantara

Purbaya Jamin Lahan Hibah Meikarta 30 Hektare Tak Bebani APBN Saat Dikelola Danantara

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 16:40 WIB

Purbaya Akhirnya Bebaskan Pajak JHT ke 1,64 Juta Pensiunan Usai Diprotes

Purbaya Akhirnya Bebaskan Pajak JHT ke 1,64 Juta Pensiunan Usai Diprotes

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 16:17 WIB

Lahan Meikarta Dibebaskan dari Pajak, Purbaya: Yang Melawan, Saya Pecat

Lahan Meikarta Dibebaskan dari Pajak, Purbaya: Yang Melawan, Saya Pecat

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 15:04 WIB

Siap-siap! Purbaya Mau Tarik Pajak E-commerce 1 Juli 2026

Siap-siap! Purbaya Mau Tarik Pajak E-commerce 1 Juli 2026

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 14:40 WIB

Purbaya Akui Belum Terima Usulan Kemenhub soal Anggaran Flyover Kereta Api Rp 4 Triliun

Purbaya Akui Belum Terima Usulan Kemenhub soal Anggaran Flyover Kereta Api Rp 4 Triliun

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 14:15 WIB

Berhenti Menormalisasi "Nabung Sulit, Checkout Mudah" Sebelum Keuanganmu Benar-Benar Habis

Berhenti Menormalisasi "Nabung Sulit, Checkout Mudah" Sebelum Keuanganmu Benar-Benar Habis

Your Say | Selasa, 30 Juni 2026 | 12:27 WIB

Ketua BPK Serahkan Hasil Pemeriksaan LKPP 2025 ke DPR, Bapanas Jadi Satu-satunya Raih WDP

Ketua BPK Serahkan Hasil Pemeriksaan LKPP 2025 ke DPR, Bapanas Jadi Satu-satunya Raih WDP

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 12:14 WIB

Terkini

Status Pasar Modal RI Tak 'Digantung' MSCI, OJK Tegaskan Tetap Emerging Market

Status Pasar Modal RI Tak 'Digantung' MSCI, OJK Tegaskan Tetap Emerging Market

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 19:43 WIB

Bukan Karena Pidato Prabowo, OJK Ungkap Penyebab Saham Anjlok

Bukan Karena Pidato Prabowo, OJK Ungkap Penyebab Saham Anjlok

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 19:39 WIB

Industri Semakin Pesimistis, Permintaan Domestik Melemah

Industri Semakin Pesimistis, Permintaan Domestik Melemah

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 19:37 WIB

Harita Nickel NCKL Tebar Dividen Rp2,7 Triliun

Harita Nickel NCKL Tebar Dividen Rp2,7 Triliun

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB

Daya Saing Perusahaan Kini Ditentukan Praktik Bisnis Berkelanjutan

Daya Saing Perusahaan Kini Ditentukan Praktik Bisnis Berkelanjutan

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 19:29 WIB

Asosiasi Ecommerce Masih Tunggu Keputusan Tertulis soal Pajak Toko Online

Asosiasi Ecommerce Masih Tunggu Keputusan Tertulis soal Pajak Toko Online

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 19:03 WIB

Uang Pensiun Dipotong PPh 21, JHT Masih Kena Pajak? Ini Penjelasan Lengkapnya

Uang Pensiun Dipotong PPh 21, JHT Masih Kena Pajak? Ini Penjelasan Lengkapnya

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 19:01 WIB

KLH Luncurkan SRUK di 9 Juli, Garap Potensi Ekonomi Perdagangan Karbon

KLH Luncurkan SRUK di 9 Juli, Garap Potensi Ekonomi Perdagangan Karbon

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 18:53 WIB

Nikmati Belanja Lebih Hemat di Blibli Lewat Deretan Promo Spesial BRIDAY

Nikmati Belanja Lebih Hemat di Blibli Lewat Deretan Promo Spesial BRIDAY

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 18:27 WIB

Korelasi Pidato Prabowo dengan IHSG, Isu Gorengan atau Fakta?

Korelasi Pidato Prabowo dengan IHSG, Isu Gorengan atau Fakta?

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 18:18 WIB

×