Badai PHK Mengintai: 1,2 Juta Pekerja RI di Ujung Tanduk Perang Tarif AS-China!

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Kamis, 17 April 2025 | 14:46 WIB
Badai PHK Mengintai: 1,2 Juta Pekerja RI di Ujung Tanduk Perang Tarif AS-China!
Ilustrasi. Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyatakan ada 1,2 juta pekerja terkena PHK (Antara).

Suara.com - Awan kelabu membentang di atas lanskap ketenagakerjaan Indonesia. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan skala mencengangkan berpotensi menerjang jutaan pekerja Tanah Air, menjadi tumbal tak terhindarkan dari drama sengketa dagang yang kian memanas antara dua raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat (AS) dan China.

Bak pedang bermata dua, kebijakan tarif resiprokal yang digulirkan Presiden AS Donald Trump, alih-alih menjadi perisai bagi perekonomian domestik, justru mengancam memporak-porandakan pundi-pundi penghidupan jutaan keluarga di Indonesia. Proyeksi suram ini diungkapkan oleh ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda, yang dengan nada getir memperingatkan potensi "tsunami" PHK yang dapat mencapai angka 1,2 juta pekerja dalam setahun ke depan.

"1,2 juta itu total tenaga kerja yang terpotong," ujar Nailul Huda, menyampaikan proyeksi yang menggetarkan dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (17/4/2025). Angka fantastis ini bukanlah sekadar tebakan tanpa dasar, melainkan hasil perhitungan cermat yang mempertimbangkan dampak efek domino perang tarif terhadap berbagai sektor industri di Tanah Air.

Lebih lanjut, Nailul Huda membeberkan peta kerentanan di berbagai lini industri. Subsektor tekstil dan produk tekstil (TPT) diprediksi akan menjadi episentrum dari gelombang PHK ini, dengan potensi pengurangan tenaga kerja mencapai 191 ribu jiwa. Sebuah angka yang merobek hati, membayangkan ratusan ribu keluarga yang terpaksa menghadapi jurang ketidakpastian ekonomi.

"Bisa dibilang penyerapan tenaga kerja di industri tekstil itu akan berkurang sekitar 191 ribu, ini hitungan kasar kita," ungkapnya dengan raut prihatin. Kondisi ini bak luka menganga bagi industri TPT nasional, yang selama ini dikenal sebagai salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia.

Nailul Huda menjelaskan lebih lanjut akar permasalahan yang menjerat industri TPT. Pengenaan tarif masuk dari AS, yang setiap kenaikan 1 persennya diproyeksikan dapat menggerogoti volume ekspor hingga 0,8 persen, menjadi pukulan telak bagi produk-produk tekstil buatan dalam negeri yang selama ini mengandalkan pasar AS.

Ironisnya, tekanan dari luar diperparah oleh serbuan impor produk tekstil dari China yang jauh lebih murah di pasar domestik. Kondisi ini menciptakan lingkaran setan yang mematikan bagi industri TPT nasional, mengikis daya saing, menurunkan nilai tambah, dan pada akhirnya memaksa para pelaku industri untuk melakukan efisiensi dengan cara yang paling menyakitkan: merumahkan para pekerja.

Kilasan balik ke awal mula drama tragis ini menunjukkan bahwa pada 2 April lalu, Presiden AS Donald Trump tanpa ragu menandatangani perintah eksekutif yang menetapkan jaring tarif timbal balik terhadap impor dari berbagai negara. Kebijakan yang kontroversial ini menetapkan tarif dasar sebesar 10 persen, namun dengan kejutan pahit bagi 57 negara yang dianggap memiliki defisit perdagangan besar dengan AS, termasuk Indonesia yang terjerat tarif resiprokal sebesar 32 persen.

Meskipun sempat ada secercah harapan ketika pada 9 April Trump mengumumkan penangguhan tarif dasar selama 90 hari bagi lebih dari 75 negara yang bersedia bernegosiasi, China tetap menjadi pengecualian utama. Perang dagang yang telah berlangsung lebih lama antara kedua negara adidaya ini telah mencapai titik didih, dengan tarif AS terhadap barang-barang asal China melonjak hingga 145 persen, dan tarif balasan China terhadap produk Amerika mencapai 125 persen.

Posisi Indonesia dalam pusaran perang dagang ini ibarat berada di antara dua palu godam. Di satu sisi, potensi relokasi investasi dari China dapat menjadi berkah tersembunyi bagi Indonesia. Namun, di sisi lain, kebijakan tarif AS yang diskriminatif dan banjir impor murah dari China justru menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan industri dalam negeri dan stabilitas ketenagakerjaan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ternyata Kelapa Langka itu Karena Dijual ke Luar Negeri Lebih Cuan Dibanding Dalam Negeri

Ternyata Kelapa Langka itu Karena Dijual ke Luar Negeri Lebih Cuan Dibanding Dalam Negeri

Bisnis | Kamis, 17 April 2025 | 14:39 WIB

Harga Emas Diramal Makin Bersinar Tahun Ini, Bakal Cetak Sejarah Dunia

Harga Emas Diramal Makin Bersinar Tahun Ini, Bakal Cetak Sejarah Dunia

Bisnis | Kamis, 17 April 2025 | 14:37 WIB

Strategi Unik Balas Tarif Trump, Gucci dan Prada Made in 'China'

Strategi Unik Balas Tarif Trump, Gucci dan Prada Made in 'China'

Video | Kamis, 17 April 2025 | 14:09 WIB

Terkini

Purbaya Pastikan Ada Efisiensi MBG, Negara Hemat Rp 40 Triliun per Tahun

Purbaya Pastikan Ada Efisiensi MBG, Negara Hemat Rp 40 Triliun per Tahun

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 15:21 WIB

Siap-siap! Harga BBM di RI Bakal Melakukan Penyesuaian 1 April 2026

Siap-siap! Harga BBM di RI Bakal Melakukan Penyesuaian 1 April 2026

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 15:15 WIB

Negara Tetangga RI Mulai Alami Krisis BBM

Negara Tetangga RI Mulai Alami Krisis BBM

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 14:46 WIB

Danantara Tunjuk Teman Seangkatan Menko AHY di SMA Taruna Nusantara jadi Bos PT Pos

Danantara Tunjuk Teman Seangkatan Menko AHY di SMA Taruna Nusantara jadi Bos PT Pos

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 14:16 WIB

Selat Hormuz Membara, Emiten BABY Buka-bukaan Nasib Bisnis Pakaian Anak

Selat Hormuz Membara, Emiten BABY Buka-bukaan Nasib Bisnis Pakaian Anak

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 13:59 WIB

Usai Lebaran, Para Bos Anak Usaha Astra Kompak Mundur

Usai Lebaran, Para Bos Anak Usaha Astra Kompak Mundur

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 13:31 WIB

Incar Dana Global, Merdeka Gold Resources (EMAS) Mau Listing di Bursa Hong Kong

Incar Dana Global, Merdeka Gold Resources (EMAS) Mau Listing di Bursa Hong Kong

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 13:22 WIB

Bos BlackRock Wanti-wanti Harga Minyak US$ 150, Dunia Diambang Resesi Hebat?

Bos BlackRock Wanti-wanti Harga Minyak US$ 150, Dunia Diambang Resesi Hebat?

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 13:18 WIB

PT KAI: Arus Balik Belum Capai Puncaknya

PT KAI: Arus Balik Belum Capai Puncaknya

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 13:17 WIB

Tiket KA Lebaran Nyaris Ludes, Penjualan Tembus 96,5 Persen Saat Arus Balik Menguat

Tiket KA Lebaran Nyaris Ludes, Penjualan Tembus 96,5 Persen Saat Arus Balik Menguat

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 13:04 WIB