Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.785.000
Beli Rp2.660.000
IHSG 6.130,190
LQ45 620,397
Srikehati 308,223
JII 381,928
USD/IDR 17.784

Perang Rusia-Ukraina Memanas Lagi, Rupiah Kena Imbas Melaju Lemah Hari Ini

Achmad Fauzi

Kamis, 24 April 2025 | 17:12 WIB
Perang Rusia-Ukraina Memanas Lagi, Rupiah Kena Imbas Melaju Lemah Hari Ini
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dolar AS, Jakarta, Selasa (14/1/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Nilai tukar rupiah tercatat ditutup melemah tipis pada perdagangan Kamis (24/4/2025), seiring dengan menguatnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya tekanan eksternal yang menciptakan ketidakpastian di pasar global.

Rupiah ditutup pada level Rp16.872 per USD, hanya turun 1 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp16.871. Sempat melemah hingga 20 poin di awal sesi, rupiah berhasil memangkas pelemahannya menjelang akhir perdagangan.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa pelemahan tipis ini mencerminkan situasi pasar yang masih penuh kehati-hatian.

"Rupiah memang melemah sangat tipis hari ini, namun hal itu menandakan pasar masih diliputi kekhawatiran, terutama dari tekanan eksternal yang belum mereda. Isu global seperti ketegangan dagang AS-Tiongkok dan potensi konflik baru di Eropa Timur masih membayangi sentimen pelaku pasar," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (24/4/2025).

Salah satu faktor utama yang mendorong penguatan dolar AS adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai kemungkinan penurunan tarif perdagangan terhadap Tiongkok.

Meskipun pernyataan itu membuka peluang meredanya tensi dagang, pasar menanggapi dengan skeptis karena belum ada kejelasan mengenai implementasinya.

Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dolar AS, Jakarta, Selasa (14/1/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dolar AS, Jakarta, Selasa (14/1/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Trump mengisyaratkan bahwa penurunan tarif sebesar 145 persen terhadap Tiongkok bisa terjadi, tetapi itu bergantung pada kesediaan Beijing untuk kembali ke meja perundingan—sebuah skenario yang belum mendapatkan sambutan positif dari pihak Tiongkok.

"Pernyataan yang ambigu dari Presiden AS dan pejabat lainnya justru menambah ketidakpastian. Investor cenderung menahan diri menunggu kepastian, dan itu turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah," jelas Ibrahim.

Di sisi lain, tensi geopolitik antara Rusia dan Ukraina juga kembali memanas. Serangan mematikan yang diluncurkan Rusia ke Kyiv menambah kecemasan pasar. Komentar dari Wakil Presiden AS JD Vance bahwa AS mungkin mundur dari negosiasi gencatan senjata turut memicu kekhawatiran baru akan potensi eskalasi konflik. Ibrahim menilai, kondisi ini menambah tekanan terhadap aset-aset berisiko seperti mata uang pasar berkembang.

Secara internal, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dirilis Dana Moneter Internasional (IMF) turut memengaruhi pandangan investor.

Dalam laporan terbarunya, IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen untuk tahun 2025 dan 2026, lebih rendah dari proyeksi Januari lalu sebesar 5,1 persen. Penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya ketidakpastian kebijakan global serta dampak lanjutan dari kebijakan tarif AS.

Bank Indonesia sendiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional akan sedikit di bawah titik tengah kisaran 4,7–5,5 persen tahun ini. Meski pertumbuhan triwulan I 2025 tergolong baik, dinamika eksternal dipandang perlu diantisipasi lebih serius ke depan. BI menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial.

Untuk perdagangan Jumat (25/4), Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.870 hingga Rp16.930 per dolar AS.

Pasar akan tetap sensitif terhadap sentimen global, khususnya arah kebijakan tarif dan perkembangan geopolitik. Pelaku pasar diharapkan tetap waspada dalam menyikapi volatilitas ini," imbuh dia.

Ibrahim menambahkan, dengan kondisi global yang penuh ketidakpastian dan tensi geopolitik yang belum mereda, nilai tukar rupiah diperkirakan akan terus berada dalam tekanan jangka pendek.

Meski demikian, pelemahan tipis yang tercatat hari ini mencerminkan bahwa sentimen investor terhadap ekonomi Indonesia relatif stabil, ditopang oleh fundamental ekonomi yang masih cukup solid dan respons kebijakan yang terukur.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sri Mulyani Sebut Rupiah Tahan Banting

Sri Mulyani Sebut Rupiah Tahan Banting

Bisnis | Kamis, 24 April 2025 | 15:06 WIB

Analis Core Indonesia: Proteksionisme AS Ancam Penerimaan Pajak dan Bebani Utang Negara

Analis Core Indonesia: Proteksionisme AS Ancam Penerimaan Pajak dan Bebani Utang Negara

Bisnis | Kamis, 24 April 2025 | 12:33 WIB

Resep Gubernur BI Selamatkan Rupiah agar Tetap Stabil

Resep Gubernur BI Selamatkan Rupiah agar Tetap Stabil

Bisnis | Rabu, 23 April 2025 | 19:57 WIB

Terkini

MSCI Berlaku Hari Ini, IHSG Berakhir di Zona Merah ke Level 6.127

MSCI Berlaku Hari Ini, IHSG Berakhir di Zona Merah ke Level 6.127

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 16:50 WIB

Naik ke Papan Utama, Emiten Berpeluang Diburu Investor Asing

Naik ke Papan Utama, Emiten Berpeluang Diburu Investor Asing

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 16:11 WIB

Begini Cara Emiten TAPG Perkuat Aspek ESG

Begini Cara Emiten TAPG Perkuat Aspek ESG

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 16:02 WIB

Tak Hanya Pertamina, Pemerintah Justru Bolehkan Lemigas Impor Minyak Mentah

Tak Hanya Pertamina, Pemerintah Justru Bolehkan Lemigas Impor Minyak Mentah

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 15:52 WIB

Emiten-emiten Konglomerat Mulai Komentar Soal Ekspor Satu Pintu Lewat DSI

Emiten-emiten Konglomerat Mulai Komentar Soal Ekspor Satu Pintu Lewat DSI

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 15:10 WIB

Anak Menkeu Purbaya Tak Pikirin Rupiah Loyo Saat Kuliah di AS, Bayar Pakai Bitcoin!

Anak Menkeu Purbaya Tak Pikirin Rupiah Loyo Saat Kuliah di AS, Bayar Pakai Bitcoin!

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 14:29 WIB

Penguatan Industri Bahan Baku Kunci Jaga Ketahanan Industri di Tengah Pelemahan Rupiah

Penguatan Industri Bahan Baku Kunci Jaga Ketahanan Industri di Tengah Pelemahan Rupiah

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 14:15 WIB

Anak Menkeu Purbaya: Ekonomi RI Dicekek Terus! Nyaris Ulang Krisis 1998

Anak Menkeu Purbaya: Ekonomi RI Dicekek Terus! Nyaris Ulang Krisis 1998

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 13:43 WIB

Rupiah 'Kena Mental'! Dolar Singapura Tembus Rp14.000, Pertama Dalam Sejarah RI

Rupiah 'Kena Mental'! Dolar Singapura Tembus Rp14.000, Pertama Dalam Sejarah RI

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 13:20 WIB

Gawat! Mata Uang Garuda Babak Belur, Dolar AS dan Singapura Kompak Hajar Rupiah Hari Ini

Gawat! Mata Uang Garuda Babak Belur, Dolar AS dan Singapura Kompak Hajar Rupiah Hari Ini

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 13:12 WIB