Penguatan Industri Bahan Baku Kunci Jaga Ketahanan Industri di Tengah Pelemahan Rupiah

Liberty Jemadu

Jum'at, 29 Mei 2026 | 14:15 WIB
Penguatan Industri Bahan Baku Kunci Jaga Ketahanan Industri di Tengah Pelemahan Rupiah
Pelemahan rupiah membuat biaya impor bahan baku industri meningkat. [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Industri manufaktur Indonesia mengalami kontraksi pada April 2026 akibat lonjakan biaya bahan baku dan pelemahan nilai tukar rupiah.
  • CORE Indonesia mengusulkan penguatan struktur industri domestik melalui kebijakan strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor global.
  • Pemerintah menargetkan investasi hilirisasi sebesar Rp3.800 triliun guna meningkatkan nilai tambah serta menjaga ketahanan rantai pasok industri nasional.

Suara.com - Penguatan industri bahan baku domestik menjadi kunci untuk menjaga daya tahan industri manufaktur nasional di tengah meningkatnya biaya impor bahan baku yang antara lain disebabkan oleh ambruknya nilai tukar rupiah.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan tekanan terhadap industri manufaktur mulai terlihat sejak Maret 2026 setelah sebelumnya aktivitas industri masih relatif kuat pada Januari-Februari.

“Kalau kita melihat secara triwulan I secara keseluruhan agregat masih positif, masih 5 persen,” kata Faisal di Jakarta, Jumat (19/5/2026).

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat industri pengolahan tumbuh 5,04 persen secara tahunan pada triwulan I 2026 dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen.

Faisal juga menyebut Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia sempat mencapai level 53,8 pada Februari 2026, namun turun ke level 49,1 pada April 2026 atau kembali masuk zona kontraksi.

Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi tekanan geopolitik yang mulai memengaruhi manufaktur melalui kenaikan biaya bahan baku, logistik, dan asuransi, serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Biaya produksi meningkat karena faktor perang, meningkatkan biaya perolehan bahan baku dan logistik,” ujarnya.

Berdasarkan kajian CORE Insight, sekitar 70 persen impor Indonesia masih didominasi bahan baku dan komponen industri sehingga pelemahan rupiah serta gangguan rantai pasok global cepat berdampak pada biaya produksi domestik.

Selain itu, CORE menyebut sekitar 85 persen bahan baku farmasi nasional masih bergantung pada impor, terutama dari India dan China.

baca juga

Menurut Faisal, kondisi tersebut perlu menjadi momentum untuk memperkuat struktur industri domestik agar manufaktur nasional lebih tahan terhadap tekanan eksternal.

Ia menilai sektor yang perlu diperkuat antara lain petrokimia berbasis nafta, tekstil dan produk tekstil, serta besi dan baja.

Ia menjelaskan bahwa petrokimia berbasis nafta penting diperkuat karena menjadi bahan baku utama industri tekstil dan plastik, sedangkan industri besi dan baja dibutuhkan untuk menopang rantai pasok manufaktur dan konstruksi domestik.

Adapun industri tekstil dan produk tekstil dinilai strategis karena menyerap sekitar 3,76 juta tenaga kerja atau sekitar 19 persen dari total tenaga kerja manufaktur nasional.

“Pemerintah perlu memberikan ruang untuk industri manufaktur bergerak lebih baik dan meringankan beban daripada peningkatan biaya produksi serta menjaga akses pasar domestik,” ungkap Faisal.

CORE mengusulkan dukungan kebijakan berupa relaksasi bea masuk bahan baku strategis, percepatan restitusi pajak, dan subsidi input bagi industri yang sehat tetapi tertekan biaya.

Sejalan dengan itu, pemerintah terus mendorong penguatan struktur industri nasional melalui kebijakan hilirisasi dan pengembangan industri bahan baku domestik, termasuk pada sektor petrokimia dan baja untuk memperkuat rantai pasok industri nasional.

Pemerintah juga menargetkan investasi hilirisasi mencapai sekitar Rp3.800 triliun untuk sejumlah komoditas prioritas guna memperkuat rantai pasok industri nasional dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Anak Menkeu Purbaya: Ekonomi RI Dicekek Terus! Nyaris Ulang Krisis 1998

Anak Menkeu Purbaya: Ekonomi RI Dicekek Terus! Nyaris Ulang Krisis 1998

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 13:43 WIB

Rupiah 'Kena Mental'! Dolar Singapura Tembus Rp14.000, Pertama Dalam Sejarah RI

Rupiah 'Kena Mental'! Dolar Singapura Tembus Rp14.000, Pertama Dalam Sejarah RI

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 13:20 WIB

Gawat! Mata Uang Garuda Babak Belur, Dolar AS dan Singapura Kompak Hajar Rupiah Hari Ini

Gawat! Mata Uang Garuda Babak Belur, Dolar AS dan Singapura Kompak Hajar Rupiah Hari Ini

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 13:12 WIB

Di Tengah Ketidakpastian Global, Energi Surya Semakin Dilirik Berbagai Industri

Di Tengah Ketidakpastian Global, Energi Surya Semakin Dilirik Berbagai Industri

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 13:55 WIB

Waspada Skimpflation: Strategi Senyap Industri Digital saat Rupiah Anjlok

Waspada Skimpflation: Strategi Senyap Industri Digital saat Rupiah Anjlok

Your Say | Jum'at, 29 Mei 2026 | 12:30 WIB

Terkini

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:04 WIB

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:25 WIB

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:59 WIB

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:35 WIB

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:30 WIB

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:47 WIB

×