- Industri manufaktur Indonesia mengalami kontraksi pada April 2026 akibat lonjakan biaya bahan baku dan pelemahan nilai tukar rupiah.
- CORE Indonesia mengusulkan penguatan struktur industri domestik melalui kebijakan strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor global.
- Pemerintah menargetkan investasi hilirisasi sebesar Rp3.800 triliun guna meningkatkan nilai tambah serta menjaga ketahanan rantai pasok industri nasional.
Suara.com - Penguatan industri bahan baku domestik menjadi kunci untuk menjaga daya tahan industri manufaktur nasional di tengah meningkatnya biaya impor bahan baku yang antara lain disebabkan oleh ambruknya nilai tukar rupiah.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan tekanan terhadap industri manufaktur mulai terlihat sejak Maret 2026 setelah sebelumnya aktivitas industri masih relatif kuat pada Januari-Februari.
“Kalau kita melihat secara triwulan I secara keseluruhan agregat masih positif, masih 5 persen,” kata Faisal di Jakarta, Jumat (19/5/2026).
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat industri pengolahan tumbuh 5,04 persen secara tahunan pada triwulan I 2026 dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen.
Faisal juga menyebut Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia sempat mencapai level 53,8 pada Februari 2026, namun turun ke level 49,1 pada April 2026 atau kembali masuk zona kontraksi.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi tekanan geopolitik yang mulai memengaruhi manufaktur melalui kenaikan biaya bahan baku, logistik, dan asuransi, serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
“Biaya produksi meningkat karena faktor perang, meningkatkan biaya perolehan bahan baku dan logistik,” ujarnya.
Berdasarkan kajian CORE Insight, sekitar 70 persen impor Indonesia masih didominasi bahan baku dan komponen industri sehingga pelemahan rupiah serta gangguan rantai pasok global cepat berdampak pada biaya produksi domestik.
Selain itu, CORE menyebut sekitar 85 persen bahan baku farmasi nasional masih bergantung pada impor, terutama dari India dan China.
Menurut Faisal, kondisi tersebut perlu menjadi momentum untuk memperkuat struktur industri domestik agar manufaktur nasional lebih tahan terhadap tekanan eksternal.
Ia menilai sektor yang perlu diperkuat antara lain petrokimia berbasis nafta, tekstil dan produk tekstil, serta besi dan baja.
Ia menjelaskan bahwa petrokimia berbasis nafta penting diperkuat karena menjadi bahan baku utama industri tekstil dan plastik, sedangkan industri besi dan baja dibutuhkan untuk menopang rantai pasok manufaktur dan konstruksi domestik.
Adapun industri tekstil dan produk tekstil dinilai strategis karena menyerap sekitar 3,76 juta tenaga kerja atau sekitar 19 persen dari total tenaga kerja manufaktur nasional.
“Pemerintah perlu memberikan ruang untuk industri manufaktur bergerak lebih baik dan meringankan beban daripada peningkatan biaya produksi serta menjaga akses pasar domestik,” ungkap Faisal.
CORE mengusulkan dukungan kebijakan berupa relaksasi bea masuk bahan baku strategis, percepatan restitusi pajak, dan subsidi input bagi industri yang sehat tetapi tertekan biaya.
Sejalan dengan itu, pemerintah terus mendorong penguatan struktur industri nasional melalui kebijakan hilirisasi dan pengembangan industri bahan baku domestik, termasuk pada sektor petrokimia dan baja untuk memperkuat rantai pasok industri nasional.
Pemerintah juga menargetkan investasi hilirisasi mencapai sekitar Rp3.800 triliun untuk sejumlah komoditas prioritas guna memperkuat rantai pasok industri nasional dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.