Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.772.000
Beli Rp2.632.000
IHSG 6.723,320
LQ45 657,880
Srikehati 323,518
JII 437,887
USD/IDR 17.491

Industri Otomotif RI "Meriang": Penjualan Mobil April 2025 Anjlok Terparah dalam Setahun!

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Rabu, 14 Mei 2025 | 13:00 WIB
Industri Otomotif RI "Meriang": Penjualan Mobil April 2025 Anjlok Terparah dalam Setahun!
Pengunjung melihat mobil yang dipamerkan dalam pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024 di ICE BSD City, Tangerang, Selasa (23/7/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Kabar kurang sedap menghampiri industri otomotif Tanah Air. Data terbaru dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil secara wholesales (dari pabrikan ke diler) pada bulan April 2025 mengalami penurunan dramatis. Hanya tercatat sebanyak 51.205 unit, angka ini menjadi yang terburuk sepanjang tahun 2025, bahkan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.

Penurunan ini sangat signifikan jika dibandingkan dengan performa bulan sebelumnya. Pada Maret 2025, penjualan mobil masih mampu menyentuh angka 70.895 unit. Artinya, dalam satu bulan saja, terjadi penurunan penjualan yang mencengangkan, mencapai 27,8%.

Lebih lanjut, jika menelisik data bulanan, performa penjualan April 2025 jelas menjadi titik nadir. Pada Januari dan Februari 2025, angka penjualan masih berada di atas 60.000 unit, bahkan sempat menyentuh 72.336 unit. Kenyataan ini semakin mempertegas bahwa April lalu menjadi bulan yang berat bagi para produsen otomotif.

Yang lebih mengkhawatirkan, angka penjualan April 2025 menjadi yang terendah dalam setahun terakhir. Sejak Mei 2024, rata-rata penjualan mobil nasional selalu berada di atas 70.000 unit per bulan. Terakhir kali penjualan menyentuh angka di bawah 50.000 unit terjadi pada April 2024, yaitu sebesar 48.764 unit. Setelah itu, pasar otomotif menunjukkan tren pemulihan yang positif, namun kini kembali terpuruk.

Akibatnya, total penjualan mobil secara wholesales selama empat bulan pertama tahun 2025 baru mencapai 256.368 unit.

Kondisi serupa juga terlihat pada data penjualan ritel (dari diler ke konsumen). Pada April 2025, penjualan ritel hanya mencapai 57.031 unit, menjadi yang terendah di tahun ini. Sebelumnya, penjualan ritel tercatat 64.029 unit pada Januari, 69.872 unit pada Februari, dan 76.582 unit pada Maret. Dengan demikian, total penjualan ritel selama empat bulan pertama 2025 baru menyentuh angka 267.514 unit.

Penurunan penjualan yang signifikan ini tentu menimbulkan pertanyaan besar mengenai faktor-faktor penyebabnya. Apakah ini merupakan dampak dari kondisi ekonomi global, kebijakan pemerintah, atau perubahan preferensi konsumen? Para pelaku industri otomotif dan pengamat ekonomi tentu akan mencermati lebih lanjut perkembangan ini untuk mencari solusi dan strategi agar "demam" yang melanda pasar otomotif nasional ini tidak berlarut-larut.

Sebelumnya Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang mengakui bahwa kondisi industri otomotif nasional tidak baik-baik saja. Hal ini tercermin dari data penjualan sepanjang 2024, dimana penjualan mobil dari pabrikan ke diler (wholesales) hanya 865.723 unit. Angka ini jauh lebih kecil dibanding tahun 2023 yang tembus 1.005.802 unit. Artinya ada penurunan sebesar 140.079 unit atau 13,9%

"Tahun lalu ada penurunan penjualan kendaraan bermotor di Indonesia. Hal ini berdampak langsung terhadap backward maupun forward linkage dalam industri otomotif. Ini berdampak terhadap nilai ekonomi sebesar Rp10 triliun," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Selasa (6/5/2025).

Ia mengakui kalau lesunya pasar otomotif ini disebabkan banyak faktor, mulai dari penurunan daya beli, tantangan ekonomi global, dan lainnya. Menurut dia, kondisi tersebut amat berdampak pada penurunan ekonomi.

"Dari penurunan penjualan tahun lalu kami sudah menghitung secara teknokratis bahwa backward linkage dan forward linkage terpengaruh sebesar 0,97 persen ini untuk backward linkage yaitu Rp 5,4 triliun dan untuk forward linkage 0,83 persen atau Rp 4,6 triliun," kata Agus.

Ia menyebut kalau perlu ada upaya untuk memperbaiki industri otomotif di Indonesia, tak hanya dari pemerintah tetapi juga para stakeholder lain seperti pelaku industri.

"Ini harus menjadi perhatian semua, semua stakeholders. Tentu pemerintah merupakan key, kuncinya," kata dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Penjualan Daihatsu Merosot Sepanjang April, Sigra Masih Jadi Penyelamat

Penjualan Daihatsu Merosot Sepanjang April, Sigra Masih Jadi Penyelamat

Otomotif | Selasa, 13 Mei 2025 | 18:39 WIB

Menperin Buka Suara Alasan Kebijakan TKDN Dilonggarkan

Menperin Buka Suara Alasan Kebijakan TKDN Dilonggarkan

Bisnis | Minggu, 11 Mei 2025 | 16:26 WIB

Menperin Sebut Pelonggaran Kebijakan TKDN Bukan Desakan Tarif Trump

Menperin Sebut Pelonggaran Kebijakan TKDN Bukan Desakan Tarif Trump

Bisnis | Minggu, 11 Mei 2025 | 14:05 WIB

Terkini

IHSG Langsung Tersungkur Setelah Libur Panjang, DSSA Kena ARB

IHSG Langsung Tersungkur Setelah Libur Panjang, DSSA Kena ARB

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 09:19 WIB

Emas Antam Lagi Nyungsep, Hari Ini Dibanderol Rp 2.764.000/Gram

Emas Antam Lagi Nyungsep, Hari Ini Dibanderol Rp 2.764.000/Gram

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 09:02 WIB

Tabel Angsuran KUR BRI Terbaru 2026, Cicilan 12 Sampai 60 Bulan

Tabel Angsuran KUR BRI Terbaru 2026, Cicilan 12 Sampai 60 Bulan

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 08:51 WIB

Upaya Damai AS - Iran Mandek, Harga Minyak Dunia Naik Kembali

Upaya Damai AS - Iran Mandek, Harga Minyak Dunia Naik Kembali

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 08:36 WIB

Produk Tembakau Alternatif Makin Dilirik, Akademisi Bicara Soal Harm Reduction

Produk Tembakau Alternatif Makin Dilirik, Akademisi Bicara Soal Harm Reduction

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 08:28 WIB

Harga Minyak Mentah Kembali Melambung, Ancaman Perang AS-Iran Bikin Pasar Panik!

Harga Minyak Mentah Kembali Melambung, Ancaman Perang AS-Iran Bikin Pasar Panik!

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 08:25 WIB

Libur Panjang, Trafik Penumpang-Kendaraan di Merak-Bakauheni Membludak

Libur Panjang, Trafik Penumpang-Kendaraan di Merak-Bakauheni Membludak

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 08:13 WIB

OJK Sebut Ada Bank Syariah yang Buka di Tahun 2026, Ini Bocorannya

OJK Sebut Ada Bank Syariah yang Buka di Tahun 2026, Ini Bocorannya

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 07:57 WIB

IHSG Dibayangi Aksi Jual Asing Rp1,35 Triliun, Saham-saham di Asia Ikut Rontok

IHSG Dibayangi Aksi Jual Asing Rp1,35 Triliun, Saham-saham di Asia Ikut Rontok

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 07:55 WIB

Wall Street Rontok Setelah Pertemuan Donald Trump dengan Xi Jinping

Wall Street Rontok Setelah Pertemuan Donald Trump dengan Xi Jinping

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 07:48 WIB