Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.860.000
Beli Rp2.735.000
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...
USD/IDR 17.107

1 Persen Aset Danantara Bisa Buat RI Jadi Raja Bitcoin Global Sejajar AS dan China

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Kamis, 15 Mei 2025 | 14:48 WIB
1 Persen Aset Danantara Bisa Buat RI Jadi Raja Bitcoin Global Sejajar AS dan China
Warga melintas dengan latar logo Bitcoin di Terowongan Kendal, Jakarta, Selasa (24/9/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Indonesia berpotensi menjadi kekuatan besar di pasar Bitcoin global, bahkan menduduki peringkat 3 besar di bawah Amerika Serikat dan China soal kepemilikan aset kripto paling terkenal itu. Lantas bagaimana caranya?

Suara.com mencoba menyusun skenario yang menunjukkan bahwa Indonesia berpotensi menjadi salah satu kekuatan terbesar di pasar aset kripto terkemuka ini.

Skenario ini bertumpu pada potensi alokasi sebagian kecil dana dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Dengan klaim total aset kelolaan yang mencapai US$1 triliun atau setara dengan Rp16.508 triliun, alokasi sebesar 1 persen saja ke dalam Bitcoin akan menciptakan gelombang investasi yang signifikan.

Proyeksi ini didasarkan pada perhitungan sederhana namun signifikan terkait dengan kapitalisasi pasar Bitcoin saat ini.

Dengan harga Bitcoin saat ini yang berfluktuasi di kisaran $60.000, investasi sebesar $10 miliar akan menghasilkan kepemilikan sekitar 166.666 Bitcoin (perhitungan kasar). Mengingat total pasokan Bitcoin yang dibatasi hanya 21 juta koin, kepemilikan sebesar ini akan menempatkan Indonesia sebagai salah satu pemegang Bitcoin ketiga terbesar secara global.

Meskipun data kepemilikan Bitcoin oleh setiap negara secara real-time dan terpusat masih sulit didapatkan, berbagai analisis dan perkiraan menempatkan Amerika Serikat, China, dan Inggris sebagai negara-negara dengan kepemilikan Bitcoin terbesar saat ini.

Laporan dari CoinMarketCap memperkirakan total kepemilikan Bitcoin oleh pemerintah di seluruh dunia mencapai sekitar 471.000 keping, atau sekitar 2,5% dari total suplai global.

Amerika Serikat saat ini memimpin dengan kepemilikan 212.000 Bitcoin, yang sebagian besar berasal dari penyitaan kasus kriminal besar. Diikuti oleh Tiongkok dengan 194.000 Bitcoin yang juga disita dari aktivitas ilegal. Inggris berada di posisi ketiga dengan kepemilikan 61.000 Bitcoin yang diperoleh dari kasus pencucian uang dan penipuan digital. Negara-negara lain seperti Bhutan, El Salvador, Ukraina, Finlandia, dan India juga tercatat memiliki sejumlah Bitcoin dengan berbagai latar belakang perolehan.

Namun, dengan potensi investasi sebesar US$10 miliar dari Danantara, Indonesia dapat secara signifikan mengubah peta kepemilikan Bitcoin global. Kepemilikan 166.666 Bitcoin akan secara langsung menempatkan Indonesia di urutan ketiga, bahkan berpotensi melampaui kepemilikan Inggris dan El Salvador secara signifikan.

Skenario ini bukan hanya tentang angka. Langkah strategis untuk mengalokasikan sebagian kecil aset negara ke dalam Bitcoin dapat membawa berbagai keuntungan bagi Indonesia. Pertama, ini akan menjadi diversifikasi aset yang cerdas, mengurangi ketergantungan pada instrumen investasi tradisional. Bitcoin, meskipun volatil, telah menunjukkan potensi pertumbuhan jangka panjang yang signifikan dan dapat menjadi lindung nilai terhadap inflasi.

Kedua, kepemilikan Bitcoin dalam jumlah besar akan meningkatkan pengaruh Indonesia di ekosistem kripto global yang terus berkembang. Ini dapat membuka peluang untuk kolaborasi internasional, pengembangan teknologi blockchain di dalam negeri, dan menarik investasi asing di sektor kripto.

Ketiga, langkah ini dapat mengirimkan sinyal positif kepada pasar dan para investor, menunjukkan bahwa Indonesia terbuka terhadap inovasi dan teknologi baru. Hal ini dapat mendorong adopsi kripto yang lebih luas di kalangan masyarakat dan pelaku bisnis, yang pada akhirnya dapat memperkuat ekonomi digital negara.

Tentu saja, langkah ini memerlukan pertimbangan matang terkait regulasi, keamanan penyimpanan aset digital, dan potensi risiko pasar. Namun, dengan pengelolaan yang profesional dan transparan, potensi keuntungan jangka panjang bagi Indonesia sangatlah besar.

Saat ini, pemerintah Indonesia telah mengakui aset kripto sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan. Namun, belum ada indikasi kuat bahwa pemerintah akan secara aktif mengakumulasi Bitcoin sebagai bagian dari cadangan negara. Meskipun demikian, pertumbuhan pesat pengguna kripto di Indonesia menunjukkan minat dan potensi yang besar terhadap aset digital ini.

Jika Danantara, sebagai salah satu pengelola investasi terbesar di Indonesia, mengambil langkah berani untuk mengalokasikan sebagian kecil asetnya ke Bitcoin, hal ini bukan hanya akan menempatkan Indonesia di peta Bitcoin global, tetapi juga dapat menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi digital dan inovasi teknologi di seluruh negeri. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Patrick Kluivert Wajib Berbenah! 2 Kekurangan Timnas Indonesia Bisa Dimanfaatkan China

Patrick Kluivert Wajib Berbenah! 2 Kekurangan Timnas Indonesia Bisa Dimanfaatkan China

Bola | Kamis, 15 Mei 2025 | 14:12 WIB

Wajib Dihadang! 2 Pemain Naturalisasi China Bisa Sulitkan Timnas Indonesia

Wajib Dihadang! 2 Pemain Naturalisasi China Bisa Sulitkan Timnas Indonesia

Bola | Kamis, 15 Mei 2025 | 13:44 WIB

Tiket Laga Timnas Indonesia vs China Mulai Dijual Hari Ini, Catat Harganya!

Tiket Laga Timnas Indonesia vs China Mulai Dijual Hari Ini, Catat Harganya!

Your Say | Kamis, 15 Mei 2025 | 13:04 WIB

Terkini

Dolar AS Ngamuk Setelah Negosiasi Gagal, Rupiah Jadi Korban Melemah

Dolar AS Ngamuk Setelah Negosiasi Gagal, Rupiah Jadi Korban Melemah

Bisnis | Senin, 13 April 2026 | 09:59 WIB

Harga Emas Pegadaian Senin 13 April 2026: Antam, UBS, dan Galeri24 Bertahan Stabil

Harga Emas Pegadaian Senin 13 April 2026: Antam, UBS, dan Galeri24 Bertahan Stabil

Bisnis | Senin, 13 April 2026 | 09:54 WIB

Emas Antam Lagi Diobral, Harganya Rp 2.818.000 Juta/Gram

Emas Antam Lagi Diobral, Harganya Rp 2.818.000 Juta/Gram

Bisnis | Senin, 13 April 2026 | 09:46 WIB

Minyak Dunia Kembali ke Levei USD 100 Barel, Gimana Harga BBM?

Minyak Dunia Kembali ke Levei USD 100 Barel, Gimana Harga BBM?

Bisnis | Senin, 13 April 2026 | 09:31 WIB

IHSG Jatuh ke Jurang Lagi Senin Pagi

IHSG Jatuh ke Jurang Lagi Senin Pagi

Bisnis | Senin, 13 April 2026 | 09:20 WIB

Nego AS-Iran Buntu! Harga Minyak Tembus US$ 104 Per Barel

Nego AS-Iran Buntu! Harga Minyak Tembus US$ 104 Per Barel

Bisnis | Senin, 13 April 2026 | 08:52 WIB

Bidik Pasar Digital ASEAN, Perushaan RI Ekspansi ke Malaysia

Bidik Pasar Digital ASEAN, Perushaan RI Ekspansi ke Malaysia

Bisnis | Senin, 13 April 2026 | 08:40 WIB

Arab Saudi Tambah Pasokan Minyak Lewat Jalur Alternatif saat AS Blokade Selat Hormuz

Arab Saudi Tambah Pasokan Minyak Lewat Jalur Alternatif saat AS Blokade Selat Hormuz

Bisnis | Senin, 13 April 2026 | 08:06 WIB

Ramalan Harga Emas Antam Sepekan Ini Setelah Negosiasi Iran-AS Gagal

Ramalan Harga Emas Antam Sepekan Ini Setelah Negosiasi Iran-AS Gagal

Bisnis | Senin, 13 April 2026 | 08:01 WIB

Harga Minyak Kembali Naik ke Level USD 104, Trump Ikut-ikutan Blokade Selat Hormuz

Harga Minyak Kembali Naik ke Level USD 104, Trump Ikut-ikutan Blokade Selat Hormuz

Bisnis | Senin, 13 April 2026 | 07:54 WIB