Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.799.000
Beli Rp2.670.000
IHSG 6.723,320
LQ45 657,880
Srikehati 323,518
JII 437,887
USD/IDR 17.492

Indonesia Tambah 184 Ribu Ekor Sapi Impor

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Jum'at, 16 Mei 2025 | 14:29 WIB
Indonesia Tambah 184 Ribu Ekor Sapi Impor
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas). [Suara.com/Lilis Varwati]

Suara.com - Pemerintah memutuskan untuk menambah impor sapi bakalan atau sapi hidup dengan menambah kuota sebanyak 184 ribu ekor.

Dengan penambahan ini, total kuota impor sapi bakalan untuk tahun 2025 melonjak menjadi 534 ribu ekor, sebuah langkah ambisius untuk mendongkrak produksi daging sapi dalam negeri.

Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan atau Zulhas menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan strategi jitu untuk mengakhiri ketergantungan Indonesia pada impor daging sapi beku.

Sebelumnya, kuota impor sapi bakalan untuk tahun 2025 ditetapkan sebesar 350 ribu ekor. Penambahan kuota yang cukup besar ini diharapkan dapat mempercepat proses penggemukan sapi di dalam negeri, sehingga ketersediaan daging sapi lokal meningkat secara signifikan.

"Jadi saya tadi sudah bicara kalau memang kita fokusnya (sapi) bakalan, nanti bakalan kita bebasin saja, nggak usah dikuota-kuota lagi kan. Kalau kita pengin penggemukan, artinya yang diatur daging bekunya," tegas Zulhas di Jakarta, Jumat (16/5/2025), mengisyaratkan perubahan paradigma kebijakan impor sapi yang lebih berorientasi pada pemberdayaan peternak lokal.

Lebih lanjut, Zulhas menekankan bahwa impor sapi hidup memiliki dampak positif yang lebih luas dibandingkan impor daging beku. Menurutnya, kebijakan ini akan memberdayakan para peternak dan petani di seluruh Indonesia. Sapi-sapi bakalan yang diimpor akan dikelola secara langsung oleh peternak lokal, memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan usaha penggemukan dan meningkatkan pendapatan.

Selain itu, impor sapi hidup juga dinilai memberikan nilai tambah ekonomi bagi berbagai pihak terkait. Proses penggemukan sapi membutuhkan pakan ternak, yang sebagian besar berasal dari petani rumput dan petani jagung. Dengan demikian, kebijakan ini secara tidak langsung akan menggerakkan sektor pertanian dan menciptakan lapangan kerja di pedesaan.

"Itu ada petaninya, ada petani rumput, ada makanan jagung. Jadi banyak yang terlibat. Tapi kalau beku nggak, nggak ada nilai tambahnya, dari sana masuk sini langsung jual, jadi di harganya bisa lebih murah daripada kalau kita gemukin kan," papar Zulhas, menjelaskan multiplikasi efek ekonomi dari impor sapi hidup.

Meskipun fokus utama adalah impor sapi bakalan, pemerintah juga menetapkan kuota untuk impor daging sapi beku, yaitu sebesar 180 ribu ton. Kebijakan ini lanjut Zulhas kemungkinan diambil untuk menjaga stabilitas harga dan memenuhi kebutuhan konsumen akan daging sapi dengan harga yang lebih terjangkau dalam jangka pendek, sembari menunggu produksi sapi lokal meningkat.

Namun, kebijakan yang cukup mengejutkan diambil terkait impor daging kerbau beku. Zulhas mengumumkan bahwa kuota impor daging kerbau beku dipangkas drastis sebesar 100 ribu ton, dari sebelumnya 200 ribu ton menjadi hanya 100 ribu ton.

Menurut Zulhas, pemangkasan kuota impor daging kerbau beku dilakukan karena permintaan di dalam negeri terbilang sedikit. Data menunjukkan bahwa realisasi impor daging kerbau beku selama ini tidak signifikan, sehingga kuota yang besar dianggap tidak perlu dan bahkan berpotensi menumpuk.

"Permintaan dari Kementan (Kementerian Pertanian) 200 ribu ton, tapi yang masuk sampai hari ini sedikit. Jadi kita kurangi separuh," kata Zulhas, menunjukkan respons pemerintah terhadap dinamika pasar dan preferensi konsumen.

Meskipun tantangan menghadang, optimisme pemerintah untuk mencapai swasembada daging sapi melalui kebijakan impor sapi bakalan ini cukup tinggi. Dengan fokus pada pemberdayaan peternak lokal dan penciptaan nilai tambah di sektor hulu, diharapkan Indonesia tidak lagi bergantung pada impor daging beku di masa depan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Cetak Rekor: Cadangan Beras Bulog Tembus 3,7 Juta Ton, Lampaui Era Soeharto

Cetak Rekor: Cadangan Beras Bulog Tembus 3,7 Juta Ton, Lampaui Era Soeharto

Bisnis | Kamis, 15 Mei 2025 | 15:51 WIB

Bulog 58 Tahun Tumbuh dan Tangguh Sebagai Pilar Utama Capaian Swasembada: Peneliti UI Apresiasi

Bulog 58 Tahun Tumbuh dan Tangguh Sebagai Pilar Utama Capaian Swasembada: Peneliti UI Apresiasi

Bisnis | Sabtu, 10 Mei 2025 | 14:28 WIB

Kapan Pemerintah Luncurkan Koperasi Desa Merah Putih? Zulkifli Hasan Bilang Ini

Kapan Pemerintah Luncurkan Koperasi Desa Merah Putih? Zulkifli Hasan Bilang Ini

News | Kamis, 08 Mei 2025 | 23:04 WIB

Terkini

OJK Perkuat Kepastian Hukum Demi Jaga Penyaluran Kredit

OJK Perkuat Kepastian Hukum Demi Jaga Penyaluran Kredit

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 07:23 WIB

BRI Consumer Expo 2026 Hadirkan Solusi Finansial Lengkap di Jakarta

BRI Consumer Expo 2026 Hadirkan Solusi Finansial Lengkap di Jakarta

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 18:34 WIB

Kadin China Protes Kenaikan Pajak RI, Purbaya: Kami Mementingkan Kepentingan Negara Kita

Kadin China Protes Kenaikan Pajak RI, Purbaya: Kami Mementingkan Kepentingan Negara Kita

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 18:24 WIB

Purbaya Siapkan Stimulus Baru di Q2 2026, Ada Insentif Mobil Listrik hingga Pendanaan Industri

Purbaya Siapkan Stimulus Baru di Q2 2026, Ada Insentif Mobil Listrik hingga Pendanaan Industri

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 17:30 WIB

Purbaya Pamer Satgas Debottlenecking Kantongi Investasi 30 Miliar USD

Purbaya Pamer Satgas Debottlenecking Kantongi Investasi 30 Miliar USD

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 17:09 WIB

Purbaya Ramal Perang AS vs Iran Berakhir September 2026

Purbaya Ramal Perang AS vs Iran Berakhir September 2026

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 15:58 WIB

Sempat Tolak, Ini Alasan Purbaya Akhirnya Kasih Insentif Mobil Listrik

Sempat Tolak, Ini Alasan Purbaya Akhirnya Kasih Insentif Mobil Listrik

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 15:48 WIB

Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia Perkuat Sektor Moneter dan Sistem Pembayaran

Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia Perkuat Sektor Moneter dan Sistem Pembayaran

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 15:47 WIB

Warga Jabodetabek Kabur Liburan, Kendaraan Padati Jalan Tol

Warga Jabodetabek Kabur Liburan, Kendaraan Padati Jalan Tol

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 15:31 WIB

Alasan Panas Bumi Jadi Pusat Pengembangan Energi terbarukan

Alasan Panas Bumi Jadi Pusat Pengembangan Energi terbarukan

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 15:22 WIB