Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.620.000
Beli Rp2.480.000
IHSG 5.896,134
LQ45 583,722
Srikehati 289,560
JII 342,327
USD/IDR 17.905

Nestapa Industri Properti Tanah Air: Aset Melimpah Tapi Miskin Likuiditas

Chandra Iswinarno, Mohammad Fadil Djailani

Senin, 26 Mei 2025 | 10:07 WIB
Nestapa Industri Properti Tanah Air: Aset Melimpah Tapi Miskin Likuiditas
Ilustrasi properti. Kondisi properti saat ini (Shutterstock)

Suara.com - Property dan Business Strategist Ishak Chandra mengatakan bahwa saat ini industri properti nasional terus berkembang.

Namun di tengah geliat pembangunan pusat perbelanjaan, perkantoran, dan kawasan logistik, para pengembang menghadapi dilema klasik yakni likuiditas.

"Banyak dari mereka tampak 'kaya' karena menguasai aset bernilai tinggi, namun kesulitan mendapatkan dana tunai untuk ekspansi atau pengembangan proyek baru," kata Ishak dalam analisanya, Senin 26 Mei 2025.

Ishak berpendapat permasalahan ini berakar dari karakter dasar bisnis properti yang umumnya terbagi ke dalam dua kategori yakni proyek development dan proyek investment (menghasilkan recurring income).

Pada proyek development (seperti kawasan perumahan) pengembang menjual unit lebih awal, bahkan sejak tahap desain.

Dana dari penjualan tersebut langsung digunakan untuk proyek lain, memungkinkan perputaran modal yang cepat (capital recycling).

Sebaliknya, pada proyek recurring income seperti mal, perkantoran, gudang logistik, rumah sakit, sekolah dan proyek seperti entertainent, Theme Park, dll, pengembang mengandalkan pendapatan sewa jangka panjang.

Namun aset jenis ini sulit 'diuangkan/recyle' dalam waktu cepat karena nilainya sangat besar dan pasar pembelinya sangat terbatas.

"Akibatnya, aset produktif ini malah menjadi beban likuiditas," katanya.

baca juga

Meski demikian untuk mengatasi masalah ini salah satu solusi yang semakin relevan adalah pemanfaatan instrumen Real Estate Investment Trust (REIT).

REIT memungkinkan pengumpulan dana dari 'anchor investor' dan publik (termasuk investor ritel) untuk membeli properti-properti skala besar.

Dengan demikian, REIT berperan sebagai pembeli institusional yang mampu menampung proyek-proyek besar yang selama ini sulit dijual.

"Melalui skema ini, pengembang dapat membangun dan mengoperasikan aset seperti pusat perbelanjaan, lalu menjualnya kepada REIT untuk memperoleh dana segar," paparnya.

Jika masih ingin tetap menikmati manfaat ekonomi dari aset tersebut, pengembang dapat menukar kepemilikannya dengan saham REIT, menjual sebagian saham untuk keperluan pendanaan, dan mempertahankan sebagian lainnya.

Skema ini memberi fleksibilitas tinggi bagi pengembang, tanpa kehilangan potensi arus kas jangka panjang dari aset yang sudah dibangun.

Lebih jauh, REIT juga berpotensi besar mendorong masuknya investasi asing langsung (capital inflow) dalam bentuk ekuitas.

HaI ini menjadi penting dalam situasi saat ini, di mana kebutuhan akan pembiayaan infrastruktur dan sektor riil semakin meningkat.

Dana yang masuk melalui REIT tidak akan berhenti di satu titik; ia akan diputar kembali oleh pengembang ke proyek-proyek baru, menciptakan efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian nasional.

“Industri properti memiliki efek berantai yang sangat kuat ke sektor konstruksi, tenaga kerja, hingga bahan bangunan. Maka, REIT bukan hanya solusi finansial pengembang, tapi juga strategi nasional untuk mempercepat pertumbuhan,” ujar Ishak yang juga Co-Founder & Group CEO Triniti land.

Ishak juga menekankan pentingnya reformasi kebijakan agar Indonesia tidak tertinggal.

Ia menyoroti perlunya model REIT yang lebih modern dan efisien, tidak hanya 'Externally Managed REIT' tapi juga 'Internally managed REIT' yang telah terbukti sukses di berbagai negara maju seperti di USA, Canada, UK, Belanda, dll, sebagaimana artikel yang dituliskan oleh Abdullah Syarifuddin di salah satu media nasional pada 14 Agustus 2024 yang berjudul 'Attracting Institutional Investors by modernizing REITs'.

"Tulisan tersebut tidak hanya tajam dalam analisis, tetapi juga menawarkan rekomendasi konkret. Menurut saya pribadi, pemikiran seperti ini sangat dibutuhkan dalam penyusunan arah kebijakan REIT nasional ke depan," katanya.

Oleh karena itu, sudah saatnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Direktorat Jenderal Pajak (DJP), dan Bursa Efek Indonesia (BEI) duduk bersama membentuk 'task force' lintas lembaga guna menyusun aturan teknis yang progresif dan responsif terhadap dinamika pasar. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bali di Tengah Gelombang Bisnis Properti, Surga Investasi dan Risiko di Masa Depan

Bali di Tengah Gelombang Bisnis Properti, Surga Investasi dan Risiko di Masa Depan

Bisnis | Selasa, 20 Mei 2025 | 20:51 WIB

Investasi Properti Sydney Diburu Investor Indonesia di Tengah Gonjang Ganjing Likuidasi Iwan Sunito

Investasi Properti Sydney Diburu Investor Indonesia di Tengah Gonjang Ganjing Likuidasi Iwan Sunito

Bisnis | Senin, 19 Mei 2025 | 14:35 WIB

Pentingnya Digital Marketing untuk Industri Real Estate: Meningkatkan Kesadaran dan Kompetensi Para Marketing

Pentingnya Digital Marketing untuk Industri Real Estate: Meningkatkan Kesadaran dan Kompetensi Para Marketing

Bisnis | Senin, 05 Agustus 2024 | 10:05 WIB

Terkini

96% Perusahaan RI Rekrut Lulusan Micro-Credentials, Gaji Dibayar Tinggi

96% Perusahaan RI Rekrut Lulusan Micro-Credentials, Gaji Dibayar Tinggi

Bisnis | Sabtu, 27 Juni 2026 | 14:53 WIB

Pengguna Tol Jakarta-Cikampek Wajib Tahu! Ada Perbaikan Jalan di Beberapa Titik hingga Awal Juli

Pengguna Tol Jakarta-Cikampek Wajib Tahu! Ada Perbaikan Jalan di Beberapa Titik hingga Awal Juli

Bisnis | Sabtu, 27 Juni 2026 | 14:35 WIB

Prabowo: Belum Ada Profesor Ekonomi yang Bisa Bantah Saya, Matematik Adalah Matematik!

Prabowo: Belum Ada Profesor Ekonomi yang Bisa Bantah Saya, Matematik Adalah Matematik!

Bisnis | Sabtu, 27 Juni 2026 | 13:33 WIB

Jembatan Donat Dukuh Atas Rampung 2028, Menhub: Enam Moda Transportasi Jakarta Akan Terintegrasi

Jembatan Donat Dukuh Atas Rampung 2028, Menhub: Enam Moda Transportasi Jakarta Akan Terintegrasi

Bisnis | Sabtu, 27 Juni 2026 | 13:02 WIB

Dari Pupuk ke Klinik Desa, KDMP Tamanmartani Buktikan Koperasi Mampu Tingkatkan Kesejahteraan Warga

Dari Pupuk ke Klinik Desa, KDMP Tamanmartani Buktikan Koperasi Mampu Tingkatkan Kesejahteraan Warga

Bisnis | Sabtu, 27 Juni 2026 | 12:15 WIB

Kabar Baik! Stasiun JIS Akan Punya Dua Peron, Akses ke Stadion dan Ancol Makin Lancar

Kabar Baik! Stasiun JIS Akan Punya Dua Peron, Akses ke Stadion dan Ancol Makin Lancar

Bisnis | Sabtu, 27 Juni 2026 | 11:19 WIB

Pemerintah Diminta Perhatikan Dampak Ekonomi dalam Pembuatan Aturan soal Industri Rokok

Pemerintah Diminta Perhatikan Dampak Ekonomi dalam Pembuatan Aturan soal Industri Rokok

Bisnis | Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:47 WIB

Merdeka Gold Resources Ukir Sejarah, Saham EMAS Resmi Melantai di Bursa Hong Kong

Merdeka Gold Resources Ukir Sejarah, Saham EMAS Resmi Melantai di Bursa Hong Kong

Bisnis | Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:18 WIB

IHSG Ambles 4,55% Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Susut Rp486 Triliun

IHSG Ambles 4,55% Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Susut Rp486 Triliun

Bisnis | Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:31 WIB

60% Anak Muda Terkendala Modal Usaha

60% Anak Muda Terkendala Modal Usaha

Bisnis | Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:01 WIB

×