Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.745.000
Beli Rp2.600.000
IHSG 5.342,137
LQ45 527,078
Srikehati 259,301
JII 319,450
USD/IDR 18.166

Studi International Buktikan Rokok Elektrik Tak Buat Candu

Iwan Supriyatna, Achmad Fauzi

Kamis, 29 Mei 2025 | 13:54 WIB
Studi International Buktikan Rokok Elektrik Tak Buat Candu
(Shutterstock)

Suara.com - Studi internasional bertajuk Electronic cigarettes and subsequent cigarettes smoking in young people: A systematic review yang dipublikasikan pada Januari 2025, menunjukkan produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik/vape, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin, tidak menjadi pintu masuk ke kebiasaan merokok.

Studi ini melibatkan tinjauan skala besar dengan menganalisis 123 penelitian dan sekitar 4 juta peserta di bawah usia 29 tahun di seluruh Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa Barat.

"Orang khawatir rokok elektronik membuat lebih banyak anak muda merokok. Tapi, hasil penelitian kami justru menunjukkan sebaliknya, rokok elektronik membantu menurunkan jumlah perokok muda, terutama di Amerika Serikat," ujar salah satu peneliti, Asisten Profesor Kebijakan dan Manajemen Kesehatan di University of Massachusetts Amherst, Amerika Serikat, Jamie Hartmann-Boyce, dalam studi tersebut yang ditulis, Kamis (29/5/2025).

Dari sejumlah studi besar yang ditinjau, ditemukan bahwa saat penggunaan rokok elektronik meningkat, tingkat merokok justru cenderung menurun.

Sebaliknya, ketika akses terhadap rokok elektronik dibatasi, angka merokok tampak naik. Meski begitu, tidak semua studi menunjukkan pola yang sama, beberapa melaporkan hasil sebaliknya.

"Sulit mengatakan bahwa rokok elektronik membuat banyak remaja di Amerika Serikat mulai merokok, karena datanya tidak mendukung itu," imbuh Jamie.

Di Amerika Serikat, kebiasaan merokok di kalangan remaja telah menurun secara bertahap selama bertahun-tahun.

Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menunjukkan penurunan tajam pada siswa sekolah menengah yang melaporkan kebiasaan merokok dalam 30 hari terakhir, yakni dari 15,8 persen pada tahun 2011 menjadi 4,6 persen pada tahun 2020 dan hanya 1,7 persen pada tahun 2024.

Sekadar informasi, penelitian sebelumnya dari Jamie Hartmann-Boyce menunjukkan bahwa rokok elektronik dapat membantu perokok dewasa beralih dari kebiasaan merokok. Rokok elektronik, yang termasuk produk tembakau alternatif ini, terbukti secara ilmiah lebih rendah risiko daripada rokok.

Sistem penggunaan produk ini diketahui tidak menyertakan pembakaran seperti rokok, namun hanya pemanasan yang menghasilkan aerosol (uap air).

Menanggapi studi yang didanai lembaga riset Cancer Research UK ini, Ketua Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), Budiyanto, menjelaskan persepsi tentang produk tembakau alternatif sebagai pintu masuk bagi anak muda untuk mulai merokok memang berkembang luas.

Namun hal tersebut tidak didukung bukti ilmiah. Faktanya, produk tembakau alternatif digunakan para perokok dewasa yang ingin mengurangi kebiasaan merokoknya.

"Jadi, penting bagi kita semua untuk membedakan antara persepsi dan fakta berbasis bukti ilmiah. Produk tembakau alternatif secara desain dan tujuan utamanya ditujukan untuk perokok dewasa yang ingin mencari opsi yang lebih rendah risiko dibandingkan rokok. Produk ini bukan untuk remaja atau non-perokok," tegasnya.

Terkait riset produk tembakau alternatif di Indonesia sendiri, Budiyanto menyebutkan bahwa APVI berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk melihat faktor risiko penggunaan produk tembakau alternatif.

"Hasilnya cukup sejalan dengan temuan dari lembaga riset internasional, yakni menunjukkan bahwa produk ini memiliki profil risiko yang lebih rendah dibandingkan rokok, khususnya dari sisi kandungan senyawa toksik dan dampaknya terhadap sistem pernapasan. Namun tentu ini bukan berarti tanpa risiko, melainkan lebih rendah dan tetap harus digunakan secara bertanggung jawab," imbuh Budiyanto.

Berdasarkan hasil riset BRIN, produk tembakau alternatif terbukti memiliki risiko yang jauh lebih rendah. Hal ini terbukti pada hasil uji kadar 9 zat yang harus dibatasi kandungannya sesuai rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).

Hasil uji tersebut menunjukkan sebagian dari 9 zat tersebut tidak ditemukan di produk tembakau alternatif. Zat-zat tersebut adalah acetaldehyde, acrolein, benzene, benzoapyrene, 1,3-butadiene, carbon monoxide (CO), formaldehyde, N-nitrosonornicotine (NNN), dan 4-(Methylnitrosamino)-1-(3-pyridyl)-1-butanone (NNK).

Budiyanto meneruskan, pihaknya akan memaksimalkan hasil riset BRIN untuk program edukasi publik, khususnya perokok dewasa yang masih mencari cara efektif untuk berhenti dari kebiasaannya.

Tak hanya itu, APVI juga akan menyampaikan hasil kajian tersebut kepada pemerintah agar dapat menjadi referensi dalam pembuatan kebijakan yang didasarkan pada riset dan bukti ilmiah.

"Kami ingin memastikan bahwa hasil riset tidak berhenti sebagai dokumen akademik saja, tapi bisa menjadi masukan konkret bagi pemerintah dalam membentuk regulasi yang ideal, berbasis bukti ilmiah, dan berpihak pada kesehatan publik. Kami percaya bahwa dengan regulasi yang adil dan proporsional, potensi manfaat dari produk tembakau alternatif bisa dioptimalkan tanpa mengabaikan aspek perlindungan terhadap kelompok rentan seperti anak-anak dan non-perokok," pungkas Budiyanto.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pengamat Beberkan Dampak Jika Kebijakan IHT Diintervensi Asing

Pengamat Beberkan Dampak Jika Kebijakan IHT Diintervensi Asing

Bisnis | Kamis, 29 Mei 2025 | 11:12 WIB

Produk Tembakau Alternatif Sama Bahayanya dengan Rokok?

Produk Tembakau Alternatif Sama Bahayanya dengan Rokok?

Bisnis | Rabu, 21 Mei 2025 | 06:07 WIB

Industri Tembakau Alternatif Berubah, Kini Ada Sentuhan Ikonis

Industri Tembakau Alternatif Berubah, Kini Ada Sentuhan Ikonis

Bisnis | Selasa, 20 Mei 2025 | 08:19 WIB

Terkini

DPR-Danantara Mau 'Serok' Saham BUMN, Emiten Bank Himbara Siap-siap Rebound?

DPR-Danantara Mau 'Serok' Saham BUMN, Emiten Bank Himbara Siap-siap Rebound?

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 12:05 WIB

Telkom Gelar RUPST Tahun Buku 2025 dan Bagikan Dividen Rp21,9 Triliun

Telkom Gelar RUPST Tahun Buku 2025 dan Bagikan Dividen Rp21,9 Triliun

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 11:55 WIB

Bahlil Ngebut Terapkan B50, Uji Coba Belum Tuntas

Bahlil Ngebut Terapkan B50, Uji Coba Belum Tuntas

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 11:49 WIB

DPR Kumpulkan Bos Himbara, Bahas Rencana Buyback Saham BUMN saat Harga Murah

DPR Kumpulkan Bos Himbara, Bahas Rencana Buyback Saham BUMN saat Harga Murah

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 11:38 WIB

Lesu di Lapangan Banteng, Mengapa Purbaya Layak Diganti?

Lesu di Lapangan Banteng, Mengapa Purbaya Layak Diganti?

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 11:24 WIB

CFX Dorong Kedaulatan Ekosistem Aset Kripto Nasional Lewat Inovasi dan Infrastruktur Digital

CFX Dorong Kedaulatan Ekosistem Aset Kripto Nasional Lewat Inovasi dan Infrastruktur Digital

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 10:51 WIB

Cabai Tembus Rp78.850, Bawang dan Beras Ikut Naik, Tekanan Harga Pangan Makin Berat

Cabai Tembus Rp78.850, Bawang dan Beras Ikut Naik, Tekanan Harga Pangan Makin Berat

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 10:39 WIB

Minerba Sempat Dihantui Ketidakpastian, Industri Lega Pemerintah Batalkan Skema Gross Split

Minerba Sempat Dihantui Ketidakpastian, Industri Lega Pemerintah Batalkan Skema Gross Split

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 10:35 WIB

Ketegangan Iran - Israel Belum Reda, Brent Naik jadi 94,38 Dolar AS per Barel

Ketegangan Iran - Israel Belum Reda, Brent Naik jadi 94,38 Dolar AS per Barel

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 10:26 WIB

Rupiah Mulai Bangkit Lawan Dolar AS ke Level Rp18.144, Apa Untungnya untuk Ekonomi?

Rupiah Mulai Bangkit Lawan Dolar AS ke Level Rp18.144, Apa Untungnya untuk Ekonomi?

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 09:55 WIB