Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.765.000
Beli Rp2.635.000
IHSG 6.162,045
LQ45 620,444
Srikehati 309,367
JII 386,908
USD/IDR 17.712

Pengamat: Pengembangan EBT Bisa Terpinggirkan Jika Pemerintah Masih Gunakan PLTU

Iwan Supriyatna | Achmad Fauzi | Suara.com

Kamis, 05 Juni 2025 | 07:59 WIB
Pengamat: Pengembangan EBT Bisa Terpinggirkan Jika Pemerintah Masih Gunakan PLTU
Ilustrasi PLTU. (Suara.com/Yandi Sofyan)

Suara.com - Pengamat energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, mengkritik langkah Menteri Investasi Bahlil Lahadalia yang dianggap melemahkan komitmen Presiden Terpilih Prabowo Subianto dalam mewujudkan kemandirian energi berbasis sumber daya terbarukan.

Ia menyatakan bahwa pernyataan Bahlil soal program pensiun dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) bertentangan langsung dengan visi energi berkelanjutan yang selama ini digaungkan Prabowo.

"Kalau kita mencermati komitmennya Prabowo untuk mencapai swasembada energi dengan mengembangkan resource yang dimiliki, artinya itu mengarah pada pengembangan energi baru dan terbarukan di negeri ini. Nah, untuk itu PLN sebenarnya sudah menyusun RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik) dengan rencana pensiun dini PLTU," ujar Fahmy saat dihubungi Suara.com, Rabu (4/6/2024).

Namun, menurut Fahmy, kebijakan tersebut justru dilemahkan oleh langkah-langkah Menteri Bahlil, yang dalam beberapa kesempatan menyampaikan keberatannya atas program pensiun PLTU dan lebih mengedepankan kelanjutan investasi batu bara.

"Saya sudah beberapa kali menyampaikan hal ini ke Pak Bahlil, bukan hanya sekali. Tindakan beliau justru melemahkan upaya PLN dan dalam konteks ini bisa saya katakan bertentangan dengan komitmen energi terbarukan dari Prabowo sendiri," tegas Fahmy.

Fahmy menyayangkan bahwa pernyataan Bahlil soal pensiunkan PLTU oleh Bahlil, atau wacana mengaitkan kebijakan ini dengan dukungan pembiayaan, berpotensi mempertahankan dominasi batu bara sebagai sumber energi utama.

Akibatnya, pengembangan energi terbarukan jadi terpinggirkan.

Menanggapi alasan negara-negara Eropa pun masih menggunakan batu bara dari Indonesia, Fahmy menyebut penggunaan batu bara oleh Eropa hanya bersifat sementara akibat krisis energi yang dipicu oleh konflik Rusia-Ukraina.

"Eropa Barat sebenarnya paling komit dalam penggunaan energi baru terbarukan. Namun karena invasi Rusia dan sanksi dari Amerika membuat pasokan gas terganggu, mereka terpaksa kembali menggunakan batu bara sementara agar tidak mengalami pemadaman," jelasnya.

Fahmy menekankan, sesaat pasokan energi stabil, negara-negara Eropa akan kembali ke sumber energi bersih. Ia juga membandingkan dengan Amerika Serikat di bawah Donald Trump, yang secara terbuka keluar dari Paris Agreement dan mendukung penggunaan batu bara semata-mata untuk alasan bisnis.

"Trump itu pragmatis, dia cari yang paling murah. Tapi kita tidak bisa ikut-ikutan begitu. Ketika Bahlil atau Hashim mengatakan bahwa Amerika saja masih menggunakan batu bara, kenapa kita tidak boleh? Itu logika yang keliru," katanya tegas.

Menurut Fahmy, Indonesia harus menghindari dampak buruk penggunaan batu bara yang ekstrem, seperti yang pernah dirasakan Jakarta dengan kualitas udara yang sangat buruk.

"Kita bukan mau mengalami itu. Kalau tetap bertahan dengan energi kotor seperti batu bara, maka dampaknya akan semakin parah bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat," ujar dia.

Dalam pandangan Fahmy, solusi terbaik adalah tetap menjalankan roadmap PLN seperti yang tertuang dalam RUPTL. Program pensiun PLTU sudah dirancang secara bertahap berdasarkan umur ekonomi pembangkit.

"Kalau sesuai dengan rencana dari PLN, sebenarnya tidak masalah. Pensiun dilakukan ketika umur ekonominya habis, dan statusnya sudah ada penggantinya berupa pembangkit energi terbarukan. Itu sudah direncanakan dengan baik," kata Fahmy.

Ia menegaskan, intervensi atau pembatalan program tersebut justru mengacaukan peta jalan transisi energi nasional dan menunjukkan ketidakkonsistenan antara visi pemerintah dan pelaksana kebijakan investasi.

"Jadi jangan salah pahami, langkah Bahlil ini justru melemahkan komitmen energi bersih dari Prabowo. Kita harus dukung program transisi ini, bukan justru menghambatnya dengan alasan-alasan jangka pendek," beber dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Arsari Tambang Gunakan EBT untuk Pasok Listrik ke Smelter

Arsari Tambang Gunakan EBT untuk Pasok Listrik ke Smelter

Bisnis | Rabu, 04 Juni 2025 | 16:09 WIB

Bahlil Bingung, Eropa Minta PLTU Pensiun Tapi Butuh Batu Bara

Bahlil Bingung, Eropa Minta PLTU Pensiun Tapi Butuh Batu Bara

Bisnis | Rabu, 04 Juni 2025 | 14:50 WIB

3 Alasan Pemanfaatan Energi Geotermal Masih Minim, Padahal Potensinya Besar

3 Alasan Pemanfaatan Energi Geotermal Masih Minim, Padahal Potensinya Besar

Bisnis | Kamis, 22 Mei 2025 | 14:12 WIB

Terkini

Update Harga Emas Hari Ini 25 Mei 2026, Antam Sulit Tembus Level Rp3 Juta

Update Harga Emas Hari Ini 25 Mei 2026, Antam Sulit Tembus Level Rp3 Juta

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 09:05 WIB

Harga Minyak Mentah Dunia Anjlok ke Level Terendah Imbas Sinyal Damai AS-Iran

Harga Minyak Mentah Dunia Anjlok ke Level Terendah Imbas Sinyal Damai AS-Iran

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 08:16 WIB

Jeritan Orang Desa Saat Dolar Tembus Rp17.600, dari Dapur, Pasar, hingga Industri Tahu

Jeritan Orang Desa Saat Dolar Tembus Rp17.600, dari Dapur, Pasar, hingga Industri Tahu

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 08:02 WIB

Gaji ke-13 ASN 2026 Cair Mulai Juni: Cek Jadwal dan Daftar Penerimanya

Gaji ke-13 ASN 2026 Cair Mulai Juni: Cek Jadwal dan Daftar Penerimanya

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 06:58 WIB

Daftar Lokasi dan Jadwal Perbaikan Tol Jakarta - Tangerang Periode Mei 2026

Daftar Lokasi dan Jadwal Perbaikan Tol Jakarta - Tangerang Periode Mei 2026

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 19:13 WIB

5 Cara Amankan Cicilan KPR saat Suku Bunga Naik

5 Cara Amankan Cicilan KPR saat Suku Bunga Naik

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 19:10 WIB

Daftar Negara dengan Utang Paling Ekstrem, Indonesia Termasuk?

Daftar Negara dengan Utang Paling Ekstrem, Indonesia Termasuk?

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 18:52 WIB

Awas Aksi Jual Asing! Saham Perbankan Jadi Sasaran Empuk Profit Taking

Awas Aksi Jual Asing! Saham Perbankan Jadi Sasaran Empuk Profit Taking

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 18:01 WIB

Ekonom Ramal Rupiah Susah Turun ke Level Rp 16.000/USD

Ekonom Ramal Rupiah Susah Turun ke Level Rp 16.000/USD

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 17:46 WIB

Bos GoTo Lapor ke Seskab Teddy, Telah Turunkan Potongan Komisi Ojol 8%

Bos GoTo Lapor ke Seskab Teddy, Telah Turunkan Potongan Komisi Ojol 8%

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 17:39 WIB