Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.860.000
Beli Rp2.735.000
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...
USD/IDR 17.107

Bank Indonesia Masih Waspadai Dolar yang Bisa Bikin Rupiah Sakit

Chandra Iswinarno | Rina Anggraeni | Suara.com

Selasa, 01 Juli 2025 | 18:51 WIB
Bank Indonesia Masih Waspadai Dolar yang Bisa Bikin Rupiah Sakit
Ilustrasi mata uang Dolar. Bank Indonesia masih mewaspadai kemungkinan anjloknya rupiah di pasar mata uang. [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Bank Indonesia (BI) memastikan bakal menjaga nilai tukar rupiah di tahun ini.

Bahkan, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa kondisi dolar Amerika saat ini masih stabil.

Namun, BI akan terus mewaspadai gejolak dolar AS yang bisa memengaruhi ekonomi Indonesia.

"Memang dolar sekarang cukup stabil. Kita tidak tahu gejolak akan naik. Kami akan jaga nilai tukar rupiah dan kami turunkan stabil," kata Gubernur BI dalam raker bersama Banggar, Selasa (1/7/2025).

Lanjutnya, nilai tukar rupiah yang bisa mencapai Rp16.900 saat lebaran dikarenakan gejolak ekonomi global.

Apalagi, pengumuman tarif dari Presiden Amerika Serikat membuat tekanan pada gejolak ekonomi.

"Hari ini bisa diturunkan di bawah Rp16.200 kami akan menjaga stabilitas lebih lanjut tahun ini Rp16.100," katanya.

Kata dia, pertumbuhan ekonomi juga akan ditargetkan hanya mencapai 4,6 persen pada tahun ini.

Hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi global juga tertekan, di antaranya Amerika dan China yang menjadi mitra dagang utama Indonesia.

"Kondisi global tahun ini turun 3,3 persen dan bisa menjadi 3,0 persen tahun depan. Negara pertumbuhan ekonomi yang turun itu mitra dagang utama kita Amerika Serikat turun 2,8 persen jadi 2,1 persen dan 1,8 persen. Lalu, China 5 persen jadi 4,6 persen. Eropa dan Jepang juga turun. Harapannya India," katanya.

Sebelumnya, ketidakpastian perekonomian global sedikit mereda, meski tetap tinggi lantaran dinamika tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Dia menyebut kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) berdampak pada perlambatan ekonomi dunia.

Dia menyatakan pertumbuhan ekonomi di negara maju seperti AS, Eropa, hingga Jepang dalam tren pelemahan di tengah kebijakan fiskal ekspansif dan pelonggaran kebijakan moneter di negara tersebut. Bahkan, ekonomi Cina juga melambat.

Ekonomi Tiongkok pun melambat akibat menurunnya ekspor, terutama ke AS di tengah perlambatan permintaan domestiknya," katanya.

Sementara itu, ekonomi India diperkirakan tumbuh baik, terutama didorong oleh masih kuatnya investasi di sana.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Amerika Serikat Jadi Biang Kerok Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Amerika Serikat Jadi Biang Kerok Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Bisnis | Senin, 23 Juni 2025 | 12:18 WIB

Bank Indonesia Siapkan Strategi Bawa Nilai Tukar Rupiah ke Kisaran Rp 15.000

Bank Indonesia Siapkan Strategi Bawa Nilai Tukar Rupiah ke Kisaran Rp 15.000

Bisnis | Senin, 26 Mei 2025 | 14:51 WIB

Nilai Tukar Rupiah Terancam Konflik Pakistan dan India

Nilai Tukar Rupiah Terancam Konflik Pakistan dan India

Bisnis | Kamis, 08 Mei 2025 | 07:15 WIB

Terkini

Bergerak di Tengah Tantangan Global, Armada Kapal Pertamina Topang Distribusi Energi

Bergerak di Tengah Tantangan Global, Armada Kapal Pertamina Topang Distribusi Energi

Bisnis | Minggu, 12 April 2026 | 21:33 WIB

Mulai dari Tuban, Pertamina Gulirkan Pasar Murah Bantu Warga Penuhi Kebutuhan Pokok

Mulai dari Tuban, Pertamina Gulirkan Pasar Murah Bantu Warga Penuhi Kebutuhan Pokok

Bisnis | Minggu, 12 April 2026 | 21:30 WIB

Energi Terbarukan Kian Digenjot, Teknologi Baterai Jadi Kunci Atasi Fluktuasi Listrik

Energi Terbarukan Kian Digenjot, Teknologi Baterai Jadi Kunci Atasi Fluktuasi Listrik

Bisnis | Minggu, 12 April 2026 | 21:30 WIB

ASDP Tunda Alihkan Rute Kapal Ferry Bajoe-Kolaka, Ini Penyebabnya

ASDP Tunda Alihkan Rute Kapal Ferry Bajoe-Kolaka, Ini Penyebabnya

Bisnis | Minggu, 12 April 2026 | 18:59 WIB

Pertamina Raih Efisiensi Setelah Ubah Sistem Distribusi FAME Lewat Pipa

Pertamina Raih Efisiensi Setelah Ubah Sistem Distribusi FAME Lewat Pipa

Bisnis | Minggu, 12 April 2026 | 18:54 WIB

Perhatian! 18 Emiten Diusir BEI dari Pasar Modal RI, Ini Daftarnya

Perhatian! 18 Emiten Diusir BEI dari Pasar Modal RI, Ini Daftarnya

Bisnis | Minggu, 12 April 2026 | 18:46 WIB

OJK Masih Telusuri Pelanggaran Kasus Debt Collector Mandiri Tunas Finance

OJK Masih Telusuri Pelanggaran Kasus Debt Collector Mandiri Tunas Finance

Bisnis | Minggu, 12 April 2026 | 16:40 WIB

Siap-siap! Pergi ke Stadion JIS Bisa Naik KRL Mulai Juni

Siap-siap! Pergi ke Stadion JIS Bisa Naik KRL Mulai Juni

Bisnis | Minggu, 12 April 2026 | 16:27 WIB

Awas, Kendaraan 'STNK Only' Bisa Jadi Awal Petaka! Ini Penjelasan OJK

Awas, Kendaraan 'STNK Only' Bisa Jadi Awal Petaka! Ini Penjelasan OJK

Bisnis | Minggu, 12 April 2026 | 15:53 WIB

IHSG Tertekan Rekor Teburuk Kurs Rupiah, BBRI Jadi Salah Satu Rekomendasi Analis

IHSG Tertekan Rekor Teburuk Kurs Rupiah, BBRI Jadi Salah Satu Rekomendasi Analis

Bisnis | Minggu, 12 April 2026 | 15:41 WIB