Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.799.000
Beli Rp2.670.000
IHSG 6.723,320
LQ45 657,880
Srikehati 323,518
JII 437,887
USD/IDR 17.492

Mal Sepi Gegara Daya Beli Turun dan Rojali? Ekonom Ungkap Penyebabnya

M Nurhadi | Suara.com

Selasa, 12 Agustus 2025 | 18:12 WIB
Mal Sepi Gegara Daya Beli Turun dan Rojali? Ekonom Ungkap Penyebabnya
Suasana di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Kamis (19/3/). [ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat]

Suara.com - Fenomena pusat perbelanjaan (mal) sepi di kota-kota besar sering kali disalahartikan sebagai tanda menurunnya daya beli masyarakat.

Banyak yang mengaitkannya dengan fenomena yang dijuluki ‘Rojali’ (Rombongan Jarang Beli) atau ‘Rohana’ (Rombongan Hanya Nanya).

Namun, menurut ekonom dan Direktur Program Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah, anggapan tersebut keliru. Ia menegaskan, penyebab utama sepinya mal bukanlah karena daya beli yang menurun, melainkan karena pergeseran drastis pada gaya hidup masyarakat yang kini serba digital.

“Kita bisa melihat bagaimana sekarang mal-mal sepi. Bukan karena Rojali atau Rohana, tetapi utamanya karena gaya hidup yang berubah,” ujar Piter dalam konferensi pers peluncuran Laporan Riset Ekonomi Digital di Jakarta pada Selasa, 12 Agustus 2025.

“Sekarang kita pergi ke mal bukan untuk belanja, karena belanjanya sudah dilakukan secara online,” tambahnya.

Piter menjelaskan, perubahan perilaku konsumen ini tidak hanya terbatas pada barang-barang sekunder, tetapi juga kebutuhan sehari-hari.

Ia mencatat bagaimana antrean di kasir supermarket kini jauh lebih jarang terlihat. Masyarakat kini lebih memilih berbelanja pakaian, makanan, hingga kebutuhan rumah tangga secara daring, karena dianggap lebih praktis, mudah, dan sering kali lebih murah.

Piter Abdullah berpendapat bahwa fenomena Rojali atau Rohana tidak mengindikasikan penurunan konsumsi secara keseluruhan, melainkan hanya pergeseran dari belanja luring ke daring.

Perilaku konsumen yang berubah ini juga mendorong munculnya berbagai lapangan kerja baru, seperti pekerja gig dan kreator konten, yang semakin menunjukkan kuatnya fondasi ekonomi digital.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mendukung argumen ini. BPS melaporkan bahwa konsumsi rumah tangga Indonesia pada triwulan II tahun 2025 tumbuh sebesar 4,97 persen secara tahunan (yoy).

Pertumbuhan ini menjadi penopang utama laju ekonomi nasional, yang tercatat sebesar 5,12 persen pada periode yang sama. Dengan kontribusi sebesar 2,64 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi nasional, konsumsi rumah tangga tetap menjadi komponen terbesar dalam Produk Domestik Bruto (PDB), yaitu 54,25 persen.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, menambahkan bahwa kuatnya konsumsi rumah tangga ini mencerminkan daya beli masyarakat yang terjaga, meskipun ada perubahan signifikan dalam pola belanja. Ia mengakui bahwa pergeseran dari konsumsi offline ke online adalah fenomena baru yang belum banyak terungkap secara statistik.

“Kita hanya menyampaikan data memang konsumsi demikian. Jadi, ada hal yang baru yang mungkin belum diungkap, adanya fenomena shifting belanja secara offline ke online,” ungkapnya, dikutip via Antara.

Pernyataan ini memperkuat pandangan bahwa aktivitas ekonomi tidak hilang, melainkan berpindah platform. Oleh karena itu, sepinya mal bukanlah akhir dari kegiatan konsumsi, melainkan awal dari era baru di mana transaksi digital menjadi tulang punggung perekonomian.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Biang Kerok Rojali-Rohana Terus Meningkat, Pakar Ungkap Alasannya

Biang Kerok Rojali-Rohana Terus Meningkat, Pakar Ungkap Alasannya

Foto | Selasa, 12 Agustus 2025 | 07:00 WIB

Sandiaga Bahas Fenomena 'Rojali': Dulu Zaman Saya Rombongan jadi Beli, Bukan Rombongan Jarang Beli

Sandiaga Bahas Fenomena 'Rojali': Dulu Zaman Saya Rombongan jadi Beli, Bukan Rombongan Jarang Beli

News | Jum'at, 08 Agustus 2025 | 12:08 WIB

Bukan Karena Daya Beli Lesu, Asosiasi Ungkap Biang Kerok Rojali-Rohana Terus Meningkat

Bukan Karena Daya Beli Lesu, Asosiasi Ungkap Biang Kerok Rojali-Rohana Terus Meningkat

Bisnis | Kamis, 07 Agustus 2025 | 09:05 WIB

Tren Belanja Berubah! Wamendag Ungkap Nasib Mal Kini di Tangan Rojali dan Rohana

Tren Belanja Berubah! Wamendag Ungkap Nasib Mal Kini di Tangan Rojali dan Rohana

Video | Kamis, 07 Agustus 2025 | 13:00 WIB

Penyebab Fenomena Rojali dan Rohana Menurut Wakil Menteri Perdagangan

Penyebab Fenomena Rojali dan Rohana Menurut Wakil Menteri Perdagangan

Bisnis | Rabu, 06 Agustus 2025 | 18:16 WIB

Kemendag Bantah Fenomena Rojali-Rohana Bukan Karena Masyarakat Nggak Punya Uang

Kemendag Bantah Fenomena Rojali-Rohana Bukan Karena Masyarakat Nggak Punya Uang

Bisnis | Rabu, 06 Agustus 2025 | 16:58 WIB

Terkini

Harga Cabai Meledak Nyaris 19 Persen, Beras dan Minyak Goreng Ikut Naik

Harga Cabai Meledak Nyaris 19 Persen, Beras dan Minyak Goreng Ikut Naik

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 11:36 WIB

Bank Indonesia Gunakan Kalkulator Hijau Versi 2 untuk Hitung Emisi Karbon

Bank Indonesia Gunakan Kalkulator Hijau Versi 2 untuk Hitung Emisi Karbon

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 11:29 WIB

Purbaya Akui Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Dibayar APBN 2 Tahun

Purbaya Akui Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Dibayar APBN 2 Tahun

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 11:27 WIB

Utang Indonesia Hampir Rp 10 Ribu Triliun, Purbaya: Masih Aman, Harusnya Anda Puji Kita

Utang Indonesia Hampir Rp 10 Ribu Triliun, Purbaya: Masih Aman, Harusnya Anda Puji Kita

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 11:12 WIB

Danantara Klaim Transformasi Pengelolaan Aset BUMN Mulai Berbuah Laba

Danantara Klaim Transformasi Pengelolaan Aset BUMN Mulai Berbuah Laba

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 10:33 WIB

Setelah Baja, Industri Rokok Juga Ikut Terancam Gulung Tikar

Setelah Baja, Industri Rokok Juga Ikut Terancam Gulung Tikar

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 10:23 WIB

Harga Emas Anjlok, Kemendag Pangkas Patokan Ekspor dan Referensi

Harga Emas Anjlok, Kemendag Pangkas Patokan Ekspor dan Referensi

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 10:15 WIB

Rupiah Terpuruk ke Rp17.500, Ekonom Warning Risiko Dolar AS Sentuh Rp18.000

Rupiah Terpuruk ke Rp17.500, Ekonom Warning Risiko Dolar AS Sentuh Rp18.000

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 10:02 WIB

Kontribusi PDB Tembus Rp 8.573 T, Kenapa Setoran Pajak UMKM Masih Kecil?

Kontribusi PDB Tembus Rp 8.573 T, Kenapa Setoran Pajak UMKM Masih Kecil?

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 09:10 WIB

Harga Emas Antam Anjlok Hari Ini, Dibanderol Rp 2.819.000/Gram

Harga Emas Antam Anjlok Hari Ini, Dibanderol Rp 2.819.000/Gram

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 09:09 WIB