- Presiden Prabowo melakukan perombakan kabinet besar-besaran
- Sri Mulyani Indrawati digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan
- Pergantian ini memicu respons pasar yang beragam, dengan IHSG yang turun
Suara.com - Pada 8 September 2025 kemarin, Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan kabinet (reshuffle) yang paling signifikan sejak ia menjabat, mengganti lima menteri dan memperkenalkan kementerian baru.
Langkah paling menonjol adalah pemberhentian Sri Mulyani Indrawati, seorang teknokrat yang dihormati secara global dan dikenal karena memodernisasi sistem pajak serta menavigasi krisis ekonomi.
Posisinya digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa, seorang ekonom lulusan Purdue University yang sebelumnya menjabat sebagai ketua LPS dan memiliki pengalaman luas di perusahaan negara.
Selain itu, Ferry Juliantono dilantik sebagai Menteri Koperasi, Mukhtaruddin menggantikan Abdul Kadir Karding di Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, dan Mochamad Irfan Yusuf memimpin Kementerian Haji dan Umrah yang baru dibentuk, dengan Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai wakil menteri.
Sementara itu, posisi Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan serta Menteri Pemuda dan Olahraga masih kosong.
Respons Pasar dan Tantangan Ekonomi
Pasar merespons perombakan ini dengan hati-hati. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,3%, sementara Rupiah secara umum stabil dan imbal hasil obligasi naik 5 basis poin.
Pergantian menteri keuangan sering kali memicu volatilitas pasar, namun dampaknya sangat bergantung pada kebijakan fiskal yang diambil selanjutnya.
Hal ini terlihat dari sejarah penunjukan Sri Mulyani pada tahun 2005, 2010, dan 2016, yang selalu diikuti dengan perbaikan disiplin fiskal.
Para investor kini akan memantau ketat kemampuan Purbaya Yudhi Sadewa dalam menjaga kredibilitas fiskal di tengah rencana belanja pemerintah yang ambisius.
Keberlanjutan tata kelola teknokratik dan manajemen defisit yang jelas akan menjadi kunci untuk mempertahankan daya tarik investasi Indonesia.
Akankah kebijakan Menteri Keuangan yang baru akan membawa stabilitas atau gejolak bagi perekonomian nasional?