Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.845.000
Beli Rp2.725.000
IHSG 7.500,187
LQ45 746,355
Srikehati 345,870
JII 522,139
USD/IDR 17.117

CORE: Ekonomi Indonesia 2026 Resilien, Tapi Akselerasi Tertahan

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Rabu, 26 November 2025 | 14:53 WIB
CORE: Ekonomi Indonesia 2026 Resilien, Tapi Akselerasi Tertahan
Diskusi Core Economic Outlook 2026. Foto Fadil-Suara.com
  • Ketidakpastian global menekan ekspor Indonesia sejak tarif Trump diberlakukan,” ujar Faisal.

  • Faisal menilai investor wait and see akibat tarif dan gejolak geopolitik 2025.

  • Menurut Faisal, bauran kebijakan fiskal–moneter jadi penopang utama ekonomi 2025–2026.

Suara.com - Dalam setahun terakhir, perekonomian Indonesia berada dalam pusaran ketidakpastian global. Sumber turbulensi terbesar datang dari kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mulai mengguncang sejak 2 April 2025.

Indonesia memang berhasil menekan tarif produk ekspornya ke pasar AS dari 32% menjadi 19% setelah negosiasi panjang. Namun sejumlah negara lain seperti Vietnam dan Taiwan mampu mengamankan targeted negotiation sehingga mendapatkan tarif istimewa 0% untuk produk unggulan mereka. Situasi ini menempatkan Indonesia pada posisi yang kurang kompetitif di pasar Amerika.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai kebijakan perdagangan AS telah membentuk persepsi negatif di mata investor global.

“Tarif resiprokal ini menyasar produk-produk unggulan Indonesia seperti pakaian dan mesin/peralatan listrik. Dampaknya besar karena investor kini cenderung wait and see untuk ekspansi,” ujarnya dalam CORE Economic Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (26/11/2025).

Selain gejolak tarif, turbulensi geopolitik sepanjang 2025 turut menekan kepercayaan investor terhadap pasar domestik Indonesia. Harga komoditas pun menjadi lebih bergejolak.

CORE mencatat, bauran kebijakan investasi nasional belum selaras dengan harapan pelaku usaha. Alhasil, arus investasi asing langsung (FDI) tahun ini diperkirakan menurun. Perubahan arah kebijakan fiskal pada paruh kedua 2025 untuk mendukung program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Makan Bergizi Gratis (MBG) juga belum efektif menyentuh sektor riil.

“Kebijakan fiskal dan moneter sebenarnya mulai ekspansif di paruh kedua 2025. Ini akan menjadi bantalan utama perekonomian tahun ini,” kata Faisal.

CORE memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 berada di kisaran 5,0%–5,1%.

Pada 2026, CORE memperkirakan ekonomi Indonesia tetap cukup resilien, meski mesin pertumbuhan dinilai masih tertahan. Dengan dorongan bauran kebijakan fiskal, moneter, serta proyek investasi pemerintah, proyeksi pertumbuhan Indonesia tahun depan berada pada kisaran 4,9%–5,1%.

Lebarnya rentang proyeksi tersebut mencerminkan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia tahun depan akan sangat ditentukan oleh ketepatan orkestrasi kebijakan pemerintah. Stimulus konsumsi dan investasi menjadi faktor kunci.

Secara global, tahun 2026 diperkirakan menjadi periode yang lebih berat. Tarif resiprokal AS yang efektif sejak 7 Agustus 2025 akan berlaku penuh sepanjang 2026. Ini membuat transaksi barang ke pasar AS semakin mahal, memukul rantai pasok global, khususnya eksportir dari Tiongkok, ASEAN, dan Amerika Latin.

IMF dalam laporan Oktober memproyeksikan pertumbuhan global sebesar 3,2% pada 2025, lebih tinggi dari proyeksi Juli (3,0%) karena adanya aktivitas front-loading sebelum tarif diumumkan. Namun pada 2026, pertumbuhan global diprediksi melemah menjadi 3,1% seiring ketiadaan front-loading dan implementasi tarif penuh.

Polanya berbeda antarnegara. UE dan India mencatat lonjakan ekspor hanya pada Maret. Indonesia mengikuti pola serupa, namun dengan puncak tambahan pada Juli—satu bulan sebelum tarif resmi berlaku. Taiwan dan Vietnam justru mencatat ekspor yang terus naik hingga September.

Perbedaan tersebut menandakan dampak yang sangat dinamis dari kebijakan tarif AS. Di tengah tekanan inflasi domestik, AS bahkan mulai mengendurkan tekanannya kepada sejumlah mitra dagang.

Di dalam negeri, perubahan kebijakan pemerintah sejak awal tahun turut mempengaruhi konsumsi rumah tangga, investasi, dan fiskal negara. Realokasi anggaran pada awal 2025 menekan aktivitas sektor riil pada kuartal I. Namun kebijakan stimulus yang digulirkan setelahnya membantu menopang konsumsi rumah tangga.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dua Program Flagship Prabowo Bayangi Keseimbangan APBN 2026 dan Stabilitas Fiskal

Dua Program Flagship Prabowo Bayangi Keseimbangan APBN 2026 dan Stabilitas Fiskal

Bisnis | Rabu, 26 November 2025 | 11:42 WIB

Menggunakan Sistem Perdagangan Otomatis dengan Filter Risiko Cerdas untuk Berdagang Lebih Aman

Menggunakan Sistem Perdagangan Otomatis dengan Filter Risiko Cerdas untuk Berdagang Lebih Aman

Bisnis | Selasa, 25 November 2025 | 18:41 WIB

Perusahaan Pembiayaan Ini Klaim Sudah Gelontorkan Rp1,62 T ke Sektor Ekonomi Hijau

Perusahaan Pembiayaan Ini Klaim Sudah Gelontorkan Rp1,62 T ke Sektor Ekonomi Hijau

Bisnis | Selasa, 25 November 2025 | 13:44 WIB

Terkini

Lonjakan Harga Pangan Nasional, Cabai Naik hingga 18 Persen

Lonjakan Harga Pangan Nasional, Cabai Naik hingga 18 Persen

Bisnis | Selasa, 14 April 2026 | 09:57 WIB

Malaysia Mulai Krisis BBM Juni 2026, Bagaimana dengan Indonesia?

Malaysia Mulai Krisis BBM Juni 2026, Bagaimana dengan Indonesia?

Bisnis | Selasa, 14 April 2026 | 09:52 WIB

Mata Uang Negara Lain Menguat, Rupiah Amblas ke Rp17.124 per Dolar AS

Mata Uang Negara Lain Menguat, Rupiah Amblas ke Rp17.124 per Dolar AS

Bisnis | Selasa, 14 April 2026 | 09:50 WIB

Harga Emas Antam Naik saat Harga Emas Dunia Turun, Mengapa?

Harga Emas Antam Naik saat Harga Emas Dunia Turun, Mengapa?

Bisnis | Selasa, 14 April 2026 | 09:46 WIB

IHSG Terus Terbang, Tembus Level 7.600 Pagi Ini

IHSG Terus Terbang, Tembus Level 7.600 Pagi Ini

Bisnis | Selasa, 14 April 2026 | 09:16 WIB

Ritual Aneh Investor Agar Cuan: Dari Punggung Sakit George Soros Hingga Ramalan Bintang

Ritual Aneh Investor Agar Cuan: Dari Punggung Sakit George Soros Hingga Ramalan Bintang

Bisnis | Selasa, 14 April 2026 | 08:52 WIB

18 Saham Ditendang dari Bursa, BEI: Itu Peringatan Buat Emiten

18 Saham Ditendang dari Bursa, BEI: Itu Peringatan Buat Emiten

Bisnis | Selasa, 14 April 2026 | 08:52 WIB

Transaksi Digital Melonjak, Bank Mega Syariah Raup DPK Rp709 Miliar

Transaksi Digital Melonjak, Bank Mega Syariah Raup DPK Rp709 Miliar

Bisnis | Selasa, 14 April 2026 | 08:42 WIB

Prabowo Temui Vladimir Putin saat Menhan Teken Kesepakatan Menteri Perang AS

Prabowo Temui Vladimir Putin saat Menhan Teken Kesepakatan Menteri Perang AS

Bisnis | Selasa, 14 April 2026 | 08:42 WIB

Klaim Pemerintah Strategi One Way Berhasil Tekan Kepadatan Kendaran saat Mudik

Klaim Pemerintah Strategi One Way Berhasil Tekan Kepadatan Kendaran saat Mudik

Bisnis | Selasa, 14 April 2026 | 08:11 WIB