- George Soros gunakan nyeri punggung sebagai tanda peringatan dini portofolio.
- Fenomena bulan purnama dan astrologi pengaruhi psikologi beberapa trader.
- Strategi berbasis data tetap lebih unggul dibanding ritual atau angka keberuntungan.
Suara.com - Di dunia trading yang serba cepat dan penuh tekanan, rasa nyaman adalah barang mewah. Tak heran, banyak trader melakukan meditasi hingga menulis jurnal untuk menjaga mental.
Namun, tahukah Anda? Ada barisan profesional yang justru mengandalkan ritual "nyeleneh" hingga takhayul demi mengais cuan di pasar modal.
Melansir Elev8, salah satu kisah yang paling legendaris di jagat finansial adalah milik George Soros. Bukan grafik canggih, sinyal trading paling akurat Soros konon berasal dari punggungnya. Sang putra, Robert Soros, mengungkapkan bahwa jika ayahnya merasakan nyeri punggung bawah yang hebat, itu adalah alarm fisik bahwa ada yang salah dengan portofolionya. Tanpa ragu, Soros sering langsung menutup posisi trading-nya hanya karena sakit punggung tersebut.
Tak hanya sinyal tubuh, banyak investor yang memalingkan wajah ke langit. Ada kepercayaan bahwa fase bulan memengaruhi volatilitas pasar. Menariknya, studi ilmiah bertajuk "Are Investors Moonstruck?" menemukan bahwa imbal hasil saham memang cenderung lebih rendah di sekitar periode bulan purnama. Meski selisihnya tipis (3-5% per tahun), secara statistik ini dianggap signifikan.
Lalu ada Astrologi Keuangan. Beberapa trader memilih libur saat Merkurius sedang dalam posisi retrograde karena takut sial. Ada juga yang mengaitkan badai geomagnetik matahari dengan kecemasan investor yang memicu gejolak pasar. Namun, secara ilmiah, korelasi antara posisi planet dengan indeks saham seperti S&P 500 masih dianggap sangat lemah dan tidak konsisten.
Di Asia, angka 4 sering dihindari karena pelafalannya mirip dengan kata 'mati', sementara angka 8 menjadi primadona karena melambangkan kemakmuran. Hal ini bahkan memengaruhi psikologi harga order di pasar.
Bicara soal penampilan, trader legendaris Paul Tudor Jones punya cerita sendiri. Saat memprediksi market crash tahun 1987, ia konon mengenakan sepatu kets hitam "keberuntungan" untuk menjaga mentalnya tetap tangguh saat pasar global sedang rontok.
Meski ritual unik ini memberikan rasa aman secara psikologis, broker Elev8 mengingatkan bahwa bintang di langit bukan pengganti strategi. Ilmu pengetahuan memang menunjukkan beberapa korelasi aneh, namun korelasi bukanlah penyebab utama (kausalitas).
"Pasar bergerak karena data ekonomi, kinerja emiten, dan suku bunga bukan karena posisi Merkurius. Takhayul mungkin menambah warna, tapi jangan jadikan itu fondasi portofolio Anda," tulis Elev8.
Jadi, boleh saja Anda menyimpan potongan kuku seperti Pablo Picasso atau tidur menghadap utara ala Charles Dickens demi kreativitas. Tapi untuk urusan saldo akun trading, analisis teknikal dan manajemen risiko tetaplah mantra yang paling sakti.