Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.630.000
Beli Rp2.525.000
IHSG 5.875,780
LQ45 581,783
Srikehati 287,931
JII 348,084
USD/IDR 17.955

Catatan Akhir Tahun: Waspada Efek 'Involusi' China dan Banjir Barang Murah di Pasar ASEAN

Mohammad Fadil Djailani

Selasa, 30 Desember 2025 | 19:09 WIB
Catatan Akhir Tahun: Waspada Efek 'Involusi' China dan Banjir Barang Murah di Pasar ASEAN
Aktivitas bongkar-muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (20/8/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Ekonomi China 'involusi' picu banjir barang murah ke ASEAN dan tantang industri lokal Indonesia.
  • Waspada perluasan 10 garis putus-putus China yang mengancam kedaulatan wilayah perairan Natuna.
  • Indonesia terapkan strategi hedging dan UNCLOS 1982 guna jaga keseimbangan geopolitik kawasan.

Suara.com - Dinamika domestik Republik Rakyat China (RRC) di sepanjang tahun 2025 diprediksi akan memberikan tekanan signifikan bagi ekonomi kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Fenomena ekonomi China yang dikenal dengan istilah ‘involusi’ yakni persaingan tidak sehat antarprodusen domestik di tengah kelesuan pasar menjadi alarm bagi ketahanan industri nasional.

Kondisi tersebut menjadi pembahasan utama dalam diskusi akhir tahun Forum Sinologi Indonesia (FSI) bertajuk “Refleksi 2025: Relasi China, Asia Tenggara, dan Indonesia” yang digelar di Jakarta, Senin (29/12/2025).

Ketua FSI, Johanes Herlijanto, Ph.D, menjelaskan bahwa kemerosotan ekonomi China yang diwarnai krisis properti, pengangguran, dan deflasi memaksa produsen Negeri Tirai Bambu mengalihkan pasar mereka ke Asia Tenggara.

"Banjir barang murah dari China adalah dampak yang sudah berlangsung di tahun 2025. Selain itu, masuknya investor China untuk menghindari tarif Amerika Serikat perlu diantisipasi dampaknya terhadap ketergantungan produk dan persaingan dengan pengusaha nasional," tutur Johanes.

Di sisi lain, tantangan keamanan di Laut China Selatan tetap membayangi. Indonesia diminta waspada terhadap potensi perluasan klaim sepihak China dari 9 garis putus-putus menjadi 10 garis putus-putus yang mengarah ke wilayah perairan Natuna.

Menghadapi hegemoni China yang kian kuat, para akademisi menyarankan Indonesia untuk menerapkan strategi hedging atau lindung nilai. Guru Besar Sinologi UI, Prof Tuty Nur Mutia, menyebut bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, Indonesia tetap menempatkan China sebagai prioritas namun dengan kehati-hatian tingkat tinggi.

"Sikap pragmatis dapat dipertahankan selama tetap terukur dan tegas, khususnya dalam hal kedaulatan," tegas Prof Tuty. Strategi ini mencakup diversifikasi mitra strategis agar Indonesia tidak bergantung hanya pada satu kekuatan besar.

Senada dengan hal tersebut, Ahli Hubungan Internasional, Teuku Rezasyah, Ph.D, mengingatkan bahwa hubungan dengan China berada pada tataran kerja sama sekaligus kompetisi. Indonesia diharapkan tetap berada dalam koridor hukum internasional dan mempertahankan kebijakan politik bebas aktif.

baca juga

Diplomat madya Kementerian Luar Negeri, Victor Harjono, menekankan bahwa sebagai negara kepulauan, Indonesia harus menjadikan UNCLOS 1982 sebagai garda terdepan dalam diplomasi maritim. Selain aspek keamanan, diplomasi ekonomi jangka panjang Indonesia juga harus mulai memberikan perhatian khusus pada isu lingkungan hidup dan sosial agar investasi yang masuk memberikan dampak positif yang berkelanjutan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dominasi Dua Dekade Berakhir Mobil China Diprediksi Lampaui Penjualan Mobil Jepang di Tahun 2025

Dominasi Dua Dekade Berakhir Mobil China Diprediksi Lampaui Penjualan Mobil Jepang di Tahun 2025

Otomotif | Selasa, 30 Desember 2025 | 15:06 WIB

Jembatan Krueng Tingkeum Dibuka, Aktivitas Ekonomi Bireuen Mulai Bangkit

Jembatan Krueng Tingkeum Dibuka, Aktivitas Ekonomi Bireuen Mulai Bangkit

News | Selasa, 30 Desember 2025 | 11:46 WIB

Oppo Reno 15c Kini Meluncur di India, Spek Berbeda dari Versi China?

Oppo Reno 15c Kini Meluncur di India, Spek Berbeda dari Versi China?

Your Say | Senin, 29 Desember 2025 | 19:25 WIB

Terkini

Utang di Bawah Rp1 Juta Tidak Masuk SLIK OJK, Ini Penjelasan Lengkapnya

Utang di Bawah Rp1 Juta Tidak Masuk SLIK OJK, Ini Penjelasan Lengkapnya

Bisnis | Senin, 06 Juli 2026 | 19:37 WIB

Lagi-lagi SLIK Biang Masalah, Bikin Susah MBR Punya Rumah Murah

Lagi-lagi SLIK Biang Masalah, Bikin Susah MBR Punya Rumah Murah

Bisnis | Senin, 06 Juli 2026 | 19:32 WIB

Terungkap! Masifnya Aliran Dana Investasi Kripto RI Rata-rata Hasil Penipuan

Terungkap! Masifnya Aliran Dana Investasi Kripto RI Rata-rata Hasil Penipuan

Bisnis | Senin, 06 Juli 2026 | 19:26 WIB

AI Berpotensi Perkuat Industri Keuangan Syariah

AI Berpotensi Perkuat Industri Keuangan Syariah

Bisnis | Senin, 06 Juli 2026 | 19:22 WIB

Emiten UVCR Perluas Distribusi Voucher Digital, Sasar Mobile Banking

Emiten UVCR Perluas Distribusi Voucher Digital, Sasar Mobile Banking

Bisnis | Senin, 06 Juli 2026 | 19:09 WIB

Bahlil Bawa Kabar Kurang Enak Soal CNG

Bahlil Bawa Kabar Kurang Enak Soal CNG

Bisnis | Senin, 06 Juli 2026 | 18:40 WIB

Singapura Jadi Beli Listrik dari RI, Tapi Harganya Belum Deal

Singapura Jadi Beli Listrik dari RI, Tapi Harganya Belum Deal

Bisnis | Senin, 06 Juli 2026 | 18:35 WIB

Anak Usaha PLN Raih Kinerja Moncer 2025, Penjualan Listrik di Atas Target

Anak Usaha PLN Raih Kinerja Moncer 2025, Penjualan Listrik di Atas Target

Bisnis | Senin, 06 Juli 2026 | 18:31 WIB

PGN Bidik Gas Metana Batubara Tanjung Enim, Potensi Energi Rp250 Triliun Siap Dioptimalkan

PGN Bidik Gas Metana Batubara Tanjung Enim, Potensi Energi Rp250 Triliun Siap Dioptimalkan

Bisnis | Senin, 06 Juli 2026 | 18:30 WIB

Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi

Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi

Bisnis | Senin, 06 Juli 2026 | 18:22 WIB

×