Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.760.000
Beli Rp2.630.000
IHSG 6.318,500
LQ45 630,677
Srikehati 317,136
JII 401,976
USD/IDR 17.600

Disinformasi Dinilai Bisa Goyang Kepercayaan Investor dan Iklim Usaha pada 2026

Achmad Fauzi | Suara.com

Rabu, 07 Januari 2026 | 17:20 WIB
Disinformasi Dinilai Bisa Goyang Kepercayaan Investor dan Iklim Usaha pada 2026
Ilustrasi investor. [Freepik]
  • Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian (DFK) berpotensi mengganggu iklim usaha dan kepercayaan investor di Indonesia pada tahun 2026.
  • DFK dianggap risiko struktural yang melemahkan stabilitas ekspektasi pasar serta menghambat eksekusi kebijakan strategis negara.
  • Mitigasi efektif memerlukan respons berbasis data yang konsisten dan peningkatan literasi ekspektasi ekonomi publik.

Suara.com - Disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK) dinilai berpotensi menjadi faktor non-ekonomi yang dapat mengganggu kepercayaan investor dan iklim usaha di Indonesia pada 2026.

Risiko ini muncul seiring meningkatnya penggunaan narasi manipulatif untuk menghambat eksekusi kebijakan dan program strategis negara, terutama pada momen fiskal yang krusial.

Evident Institute menilai DFK tidak lagi bisa dipandang sekadar persoalan komunikasi publik. Dalam konteks ekonomi, DFK berpotensi melemahkan stabilitas ekspektasi pasar, meningkatkan ketidakpastian kebijakan, dan berdampak pada persepsi pelaku usaha serta investor.

Ilustrasi Usaha Franchise. (Dok: Vecteezy)
Ilustrasi Usaha Franchise. (Dok: Vecteezy)

"Dalam konteks ini, Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian (DFK) tidak lagi dapat diperlakukan sebagai isu komunikasi semata, melainkan sebagai risiko struktural terhadap stabilitas ekspektasi publik dan kepercayaan ekonomi," ujar Direktur Ekonomi Evident Institute, Rijadh Djatu Winardi di Jakarta, Rabu (7/1/2026).

Menurut Rijadh, gangguan terhadap ekspektasi publik memiliki implikasi langsung terhadap iklim investasi. Ketika kepercayaan publik dan pelaku pasar melemah, biaya koordinasi kebijakan cenderung meningkat dan efektivitas komunikasi ekonomi pemerintah ikut tertekan.

Evident Institute mencatat, sepanjang 2025 lonjakan DFK menunjukkan koeksistensi temporal dengan perubahan indikator persepsi ekonomi. Kondisi ini mengindikasikan melemahnya tingkat kepercayaan publik pada periode tertentu, terutama saat isu fiskal dan politik menjadi sorotan utama.

"Hal ini terjadi terutama pada periode fiskal dan politik yang sensitif. Jadi dalam hal ini DFK berfungsi sebagai pengejut (shock) non-ekonomi terhadap ekspektasi publik," tutur Rijadh.

Ia menjelaskan, bagi investor dan pelaku usaha, stabilitas persepsi sama pentingnya dengan indikator fundamental. Lonjakan DFK di periode kritis dinilai dapat memperbesar volatilitas sentimen pasar dan menciptakan ketidakpastian yang berisiko menahan arus investasi.

Tekanan tersebut diperkuat oleh masifnya persebaran DFK melalui platform media sosial dan aplikasi pesan tertutup. Evident Institute menilai Facebook dan TikTok memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk persepsi publik, khususnya pada periode sensitif.

Sementara itu, Direktur Hukum Evident Institute Abdul Luky Shofiul Azmi menegaskan, mitigasi DFK harus dilakukan secara terukur agar tidak menimbulkan friksi baru yang justru memperburuk iklim kepercayaan.

"Pemerintah perlu menggeser pola respons dari bantahan reaktif menuju counter-narrative berbasis data yang konsisten, cepat, dan mudah diakses. Tujuannya bukan memenangkan perdebatan wacana, melainkan menutup ruang friksi informasi sebelum narasi hoaks terlanjur dinormalisasi sebagai kebenaran sosial," paparnya.

Di sisi lain, Eksekutif Direktur Evident Institute Rinatania Anggraeni Fajriani menilai literasi ekspektasi ekonomi menjadi kunci untuk menjaga iklim usaha tetap kondusif.

Menurutnya, disinformasi ekonomi kerap memanfaatkan ketidakpastian dan istilah teknis yang tidak akrab bagi publik, mulai dari isu APBN, pajak, hingga subsidi.

"Tanpa upaya sistematis untuk menjembatani kesenjangan pemahaman ini, ruang panik akan terus tersedia bagi narasi manipulatif," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Miskomunikasi Rugikan Perusahaan USD 37 Miliar Setiap Tahunnya

Miskomunikasi Rugikan Perusahaan USD 37 Miliar Setiap Tahunnya

Bisnis | Selasa, 06 Januari 2026 | 14:41 WIB

Investor Ritel Tak Lagi Terkecoh, OJK Rampungkan Aturan Soal Influencer Saham

Investor Ritel Tak Lagi Terkecoh, OJK Rampungkan Aturan Soal Influencer Saham

Bisnis | Minggu, 04 Januari 2026 | 12:42 WIB

Apa Itu ROA? Kenali Fungsi dan Rumusnya untuk Menilai Kinerja Bisnis

Apa Itu ROA? Kenali Fungsi dan Rumusnya untuk Menilai Kinerja Bisnis

Bisnis | Kamis, 01 Januari 2026 | 09:01 WIB

Terkini

Pengusaha Khawatir Pasar Ekspor Terganggu Imbas Pembentukan DSI, Begini Respons Danantara

Pengusaha Khawatir Pasar Ekspor Terganggu Imbas Pembentukan DSI, Begini Respons Danantara

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 09:39 WIB

Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Level Rp17.652 per Dolar AS

Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Level Rp17.652 per Dolar AS

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 09:21 WIB

IHSG Mulai Reborn, Menghijau di Awal Perdagangan Kamis

IHSG Mulai Reborn, Menghijau di Awal Perdagangan Kamis

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 09:18 WIB

Pasokan Kritis Akibat Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak Kembali Melesat ke Level 105 Dolar AS

Pasokan Kritis Akibat Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak Kembali Melesat ke Level 105 Dolar AS

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 09:04 WIB

Harga Emas Antam Lompat Tinggi, Hari Ini Dibanderol Rp 2,8 Juta/Gram

Harga Emas Antam Lompat Tinggi, Hari Ini Dibanderol Rp 2,8 Juta/Gram

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 08:48 WIB

Literasi Keuangan Tertinggal dari Inklusi, Mahasiswa Rentan Terjebak Utang di Era Cashless

Literasi Keuangan Tertinggal dari Inklusi, Mahasiswa Rentan Terjebak Utang di Era Cashless

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 08:43 WIB

OJK Terbitkan Dua Aturan Baru Efek dan Manajer Investasi, Update Modal Minimal

OJK Terbitkan Dua Aturan Baru Efek dan Manajer Investasi, Update Modal Minimal

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 08:37 WIB

Kontraktor Tambang Andalan Perkuat Armada, Bidik Lonjakan Laba 31%

Kontraktor Tambang Andalan Perkuat Armada, Bidik Lonjakan Laba 31%

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 08:30 WIB

Biaya Logistik RI Membengkak, Kapal Antre Berhari-hari di Pelabuhan

Biaya Logistik RI Membengkak, Kapal Antre Berhari-hari di Pelabuhan

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 08:21 WIB

Strategi Prabowo Wujudkan Kedaulatan Pangan

Strategi Prabowo Wujudkan Kedaulatan Pangan

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 08:18 WIB