- Fenomena saham gocap (Rp50) cerminkan risiko likuiditas & fundamental lemah di bursa.
- Aturan baru FCA memungkinkan harga jatuh hingga Rp1, menghilangkan batas bawah Rp50.
- Jumlah saham di bawah gocap turun drastis dari 127 (akhir 2024) jadi 56 emiten (Jan 2026).
Suara.com - Di sudut-sudut gelap Bursa Efek Indonesia (BEI), terdapat sebuah kasta yang dijuluki para pedagang lokal sebagai "saham gocap". Nama ini merujuk pada angka 50 harga terendah dalam denominasi Rupiah yang secara historis menjadi titik nadir bagi sebuah perusahaan publik sebelum ia benar-benar menghilang dari papan perdagangan.
Bagi investor, fenomena ini menyerupai penny stocks di Wall Street, namun dengan kearifan lokal yang lebih brutal. Di sini, Rp50 bukan sekadar angka, ia adalah simbol dari likuiditas yang membeku, mimpi yang kandas, dan bagi sebagian spekulan nekat, sebuah pertaruhan hidup mati.
Apa itu saham gocap?
Di pasar modal Indonesia, saham gocap merujuk pada saham yang diperdagangkan dengan harga sangat murah, biasanya di sekitar atau di bawah Rp 50 per lembarnya. Julukan “gocap” sendiri berasal dari bahasa slang untuk lima puluh.
Saham-saham ini seringkali menarik perhatian investor pemula karena terkesan terjangkau dan seolah-olah memberikan peluang kepemilikan lot yang banyak dengan modal terbatas.
Namun, di balik harga murahnya, biasanya tersimpan faktor-faktor seperti fundamental perusahaan yang lemah, kinerja yang menurun, atau sentimen negatif pasar yang membebani harganya.
"Saham gocap bisa menarik bila investor tahu katalisnya dan memahami serta siap menghadapi risiko likuiditas," kata Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana kepada Suara.com Rabu (14/1/2025).
Berdasarkan data Stockbit hingga Selasa (13/1/2026) terdapat 56 emiten dengan harga saham berkisaran 1 hingga 50-an perlembar saham. Sebagai perbandingan, jumlah saham dengan harga di bawah gocap pada tutup 2025 itu jauh lebih sedikit ketimbang periode akhir 2024. Saat itu, jumlahnya masih mencapai 127 saham.
Untuk mengetahui saham apa saja yang masuk deretan harga di bawah gocap per 13 Januari 2026, berikut daftarnya:
Baca Juga: Target Harga PTRO, Buntut Potensi Masuk Inklusi Ganda MSCI dan FTSE

Dari deretan saham-saham itu, beberapa memang tidak diperdagangkan Bursa karena berstatus suspensi. Sementara beberapa lainnya terlihat mencatat pergerakan dengan jumlah frekuensi dan volume yang cukup menjanjikan.
"Walau ada succes story dimana saham gocap rebound dan naik tinggi, tetapi ini tidak berlaku umum, harus ada sentimen atau berita tertentu yang menjadi katalis positif," ungkap dia.
Anatomi Sang Pesakitan
Sebuah saham tidak jatuh ke level gocap tanpa alasan yang fundamental. Biasanya, perusahaan-perusahaan ini sedang tercekik oleh utang yang menggunung, skandal tata kelola, atau model bisnis yang sudah usang ditelan zaman.
"Saham sendiri menyentuh gocap umumnya karena didahului oleh sentimen negatif, baik dari kinerja fundamental menurun atau memang pospeknya dianggap sudah tidak menarik," kata Wawan.
Secara teknis, saham-saham gocap itu terdampar di Papan Pemantauan Khusus. Ini adalah "ruang isolasi" bagi emiten yang memiliki ekuitas negatif, laporan keuangan yang diselimuti opini disclaimer dari auditor, atau volume perdagangan yang sepi bak kota mati.
Direktur Utama BEI Iman Rachman mengaku, pihaknya tidak dapat mengontrol performa saham di pasar. Namun, pihaknya memastikan perusahaan yang masuk sebagai perusahaan tercatat alias emiten memiliki kualitas yang baik.
"Memang terus terang, harga bukan kontrol bursa. Harga terjadi karena supply dan demand," kata Iman.
Iman juga menyebut, bahwa telah melakukan langkah-langkan untuk memperketat pencatatan saham baru. "Sebenarnya kita mencari quality. Tetapi kita juga mempersilahkan perusahaan-perusahaan dan UMKM untuk listing, tapi tetap yang punya potensi. Makanya kita punya papan akselerasi. Kita juga punya papan utama dan pengembangan," jelasnya.
Hanya saja, informasi terkait kinerjanya tidak terdistribusi dengan baik kepada publik, maka harga sahamnya juga tak banyak bergerak. "Memang ada beberapa perusahaan harganya memang bisa Rp 50 tapi kinerjanya sebenarnya bagus, tetap profitable dan bagi hasil," ungkapnya.
The Full Call Auction: Aturan Main Baru yang Mengubah Segalanya
Dahulu, saham di harga Rp50 seringkali terkunci. Anda bisa membeli, tapi hampir mustahil untuk menjual karena tidak ada antrean beli (bid) yang tersedia. Namun, otoritas bursa baru-baru ini memperkenalkan mekanisme Full Periodic Call Auction (FCA).
Berbeda dengan perdagangan reguler yang bersifat kontinu, FCA mengumpulkan pesanan beli dan jual dalam jendela waktu tertentu dan mengeksekusinya secara bersamaan pada harga keseimbangan.
Dampaknya, harga di bawah 50 kini bisa jatuh hingga Rp1. Tak ada lagi lantai pengaman di angka 50. selain itu investor tidak lagi bisa melihat antrean bid dan offer secara real-time, melainkan hanya indikator harga keseimbangan. Ini menciptakan kabut perang yang hanya bisa ditembus oleh mereka yang memiliki nyali baja.
Mengapa Masih Ada yang Membelinya?
Mungkin banyak yang bertanya, mengapa ada orang waras yang mau menaruh uang di perusahaan yang nyaris bangkrut? Jawabannya adalah asimetri risiko.
Bagi seorang spekulan, potensi kerugian sudah terukur (maksimal 100% dari modal), namun potensi keuntungan ketika sebuah saham "bangkit dari kubur" bisa mencapai ratusan hingga ribuan persen dalam hitungan pekan. Ini bukan investasi, ini adalah arbitrase terhadap ketidakpastian.
Catatan Bagi Sang Penaruh Nasib
Saham gocap adalah pengingat keras bahwa pasar modal adalah ekosistem yang kejam. Ia adalah tempat di mana kapitalisme menyortir pemenang dari pecundang.
Jika investor memutuskan untuk terjun ke sana, pahamilah bahwa Anda tidak sedang membeli masa depan perusahaan, melainkan sedang membeli secercah harapan di tengah tumpukan aset bermasalah. Di dunia saham gocap, hanya ada dua kemungkina: Anda menemukan berlian di dalam lumpur, atau Anda justru terkubur bersama lumpur tersebut.
"Investor yang mau masuk saham gocap sebaiknya memahami betul fundamental, prospek dan juga risiko likuiditas yang akan dihadapi," katanya.
Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.