- Harga perak terkoreksi tipis pada Kamis (15/1/2026) menjadi sekitar US$92 per ons setelah mencapai rekor tertinggi sehari sebelumnya.
- Koreksi harga dipicu keputusan Trump tidak memberlakukan tarif baru dan meredanya ketegangan geopolitik Iran sementara waktu.
- Data ekonomi AS yang kuat menekan perak lebih lanjut, memperkuat spekulasi The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu dekat.
Suara.com - Harga perak di pasar global mengalami koreksi tipis pada perdagangan Kamis (15/1/2026), menjauh dari rekor tertinggi sepanjang masa yang baru saja dicapai sehari sebelumnya.
Penurunan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memutuskan untuk tidak memberlakukan tarif baru terhadap impor mineral kritis dalam waktu dekat.
Logam putih tersebut kini diperdagangkan di kisaran US$92 per ons. Sebelumnya, pada sesi perdagangan Asia, perak sempat menyentuh level tertinggi baru di angka US$93,90 sebelum akhirnya terkoreksi lebih dari 4 persen saat memasuki sesi Eropa ke level terendah harian di sekitar US$89,40 per ons.
Pasar logam mulia, termasuk platinum dan paladium, sedikit bernapas lega setelah Trump menyatakan keinginan untuk menegosiasikan perjanjian bilateral demi menjamin stabilitas pasokan mineral kritis bagi AS.
Alih-alih menerapkan tarif berbasis persentase yang kaku, Trump melontarkan gagasan mengenai penetapan "harga dasar impor" guna mendukung pengembangan rantai pasok domestik.
Langkah ini dinilai meredakan tensi perdagangan global untuk sementara waktu, sehingga permintaan terhadap perak sebagai aset pelindung nilai (safe-haven) sedikit menyusut.
Selain faktor tarif, meredanya ketegangan di Iran—di mana Trump menyebut laporan eksekusi massal mulai berkurang—turut menekan harga logam mulia.
Meskipun ancaman tarif mereda, perak tetap berada di bawah tekanan menyusul rilis data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan.
Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Baca Juga: Trump Tangkap Nicolas Maduro: Kalau Presiden Tumbang, Gimana Nasib Venezuela?
Beberapa indikator ekonomi utama yang memengaruhi pasar antara lain:
- Penjualan Ritel: Meningkat 0,6 persen menjadi US$735,9 miliar pada November, melampaui ekspektasi pertumbuhan 0,4 persen.
- Indeks Harga Produsen (PPI): Menunjukkan inflasi tahunan di level 3 persen, baik untuk angka utama maupun inti.
- Sektor Tenaga Kerja: Penurunan tingkat pengangguran mingguan memperkuat posisi dolar AS, yang secara otomatis membebani komoditas dalam denominasi dolar.
Di sisi lain, isu mengenai independensi bank sentral kembali mencuat. Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, mengkritik langkah pemerintahan Trump yang memanggilnya untuk dimintai keterangan, dan menyebutnya sebagai upaya intimidasi terhadap kebijakan moneter.
Ketidakpastian mengenai masa depan independensi The Fed ini diprediksi dapat sewaktu-waktu membangkitkan kembali minat investor terhadap perak sebagai penyimpan nilai alternatif.
Reli besar yang terjadi pada Rabu sebelumnya, yang membawa emas, perak, tembaga, hingga timah ke level tertinggi baru, menunjukkan bahwa investor masih sangat berminat pada aset riil di tengah ketidakpastian geopolitik jangka panjang.
Pembelian intensif dari China dan AS, ditambah dengan rotasi modal besar-besaran ke sektor komoditas, menjadi bantalan yang menahan harga perak agar tidak merosot terlalu dalam.