- BPI Danantara memproyeksikan tahun 2026 sebagai titik balik akselerasi pemulihan kinerja PT Garuda Indonesia.
- Pemulihan ini didukung pendanaan Rp 23,63 triliun untuk perawatan pesawat dan integrasi strategis dengan Pelita Air.
- Efisiensi berkelanjutan pada aspek operasional dan non-operasional dinilai krusial untuk kesuksesan bisnis Garuda.
Suara.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memproyeksikan tahun 2026 akan menjadi momentum penting atau titik balik dalam akselerasi pemulihan kinerja PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA).
Optimisme tersebut sejalan dengan program transformasi komprehensif yang saat ini tengah dijalankan maskapai pelat merah tersebut.
Akselerasi pemulihan kinerja Garuda Indonesia tercermin dari pergerakan saham yang menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek perseroan ke depan.
Hal itu terlihat dari lonjakan harga saham Garuda Indonesia (GIAA) yang naik 9,76 persen pada awal Januari lalu hingga mencapai level Rp 90 per lembar saham.
Kenaikan saham tersebut dipicu oleh perubahan struktur kepemilikan yang melibatkan entitas pengelola aset negara. Danantara menilai respons pasar tersebut menjadi sinyal positif terhadap langkah-langkah restrukturisasi dan transformasi yang tengah dilakukan Garuda Indonesia.
![Managing Director Chief Economist Danantara Reza Yamora Siregar mengatakan 15 BUMN Asuransi akan dipangkas dan disisakan 3 saja. Mayoritas punya kinerja bisnis buruk. Foto: Logo Danantara. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/09/30/68738-logo-danantara.jpg)
"Pasar telah merespons positif pemulihan kinerja Garuda Indonesia, yang tercermin dari lonjakan tajam harga saham Garuda Indonesia pada awal Januari lalu," ujar COO Danantara, Dony Oskaria seperti dikutip, Jumat (30/1/2026).
Dony juga menyoroti prospek sejumlah badan usaha milik negara (BUMN), termasuk Garuda Indonesia, yang dinilai menunjukkan perbaikan kinerja seiring fokus transformasi yang dijalankan.
Pergerakan harga saham menjadi salah satu indikator meningkatnya kepercayaan investor terhadap pemulihan kinerja BUMN tersebut.
Ia menyebut, terdapat sejumlah faktor yang mendorong akselerasi kinerja Garuda Indonesia. Salah satunya adalah dukungan pendanaan berupa shareholder loan (SHL) serta suntikan modal usaha senilai Rp23,63 triliun sebagai bagian dari proses restrukturisasi.
Baca Juga: Siapkan Dana Rp 5 T, Catat Jadwal BBCA Lakukan Buyback Saham
Dana tersebut digunakan untuk mendukung program perawatan pesawat, reaktivasi armada, hingga peningkatan kapasitas produksi.
Selain itu, opsi integrasi Garuda Indonesia Group dengan Pelita Air juga dipandang sebagai langkah strategis untuk mengurangi redundansi dan meningkatkan sinergi, khususnya dalam pengadaan bahan bakar.
Sementara itu, Pengamat Penerbangan, Gatot Rahardjo, menilai berbagai upaya transformasi yang dilakukan Garuda Indonesia perlu diimbangi dengan langkah efisiensi yang berkelanjutan. Menurutnya, efisiensi menjadi salah satu kunci utama dalam mendukung kesuksesan bisnis maskapai penerbangan.
Ia menjelaskan, efisiensi dapat dilakukan baik pada aspek operasional maupun non-operasional penerbangan.
Pada sisi operasional, langkah efisiensi antara lain melalui penggunaan pesawat yang lebih hemat bahan bakar, pemilihan rute dan jaringan penerbangan yang lebih menguntungkan, serta kerja sama dengan AirNav dalam penerapan performance based navigation (PBN).
Sementara untuk aspek non-operasional, efisiensi dapat dilakukan melalui pengelolaan sumber daya manusia (SDM), pemanfaatan teknologi informasi berbasis daring untuk operasional kantor, hingga penyederhanaan proses dan prosedur kerja.