- Kementerian ESDM memangkas persetujuan produksi batu bara 2026 40-70 persen dari RKAB, berpotensi sebabkan PHK dan penutupan operasi tambang.
- Pemangkasan produksi yang tidak merata paling berdampak pada pemegang IUP dan Kontrak Karya, bukan IUPK besar.
- Pemangkasan produksi 600 juta ton bertujuan menjaga stabilitas harga batu bara global yang cenderung menurun akibat suplai berlebih.
Selain masalah operasional, perusahaan-perusahaan tambang kini menghadapi ancaman gagal serah (delivery shortfalls).
Ketidakmampuan memproduksi batu bara sesuai target kuota awal dapat memicu penalti kontraktual dari pembeli atau offtaker, karena perusahaan dianggap gagal memenuhi kewajiban pasokan komoditas yang telah disepakati sebelumnya.
Situasi ini menempatkan sektor pertambangan Indonesia dalam posisi sulit. Di satu sisi, pemerintah berupaya mengendalikan suplai nasional, namun di sisi lain, ketimpangan alokasi kuota dapat mengganggu stabilitas ekspor dan keberlanjutan bisnis tambang kelas menengah.
Citigroup menekankan bahwa efisiensi biaya akan menjadi kunci utama bagi para emiten batu bara untuk bertahan di tengah restriksi produksi yang ketat sepanjang tahun ini.
Pangkas 600 juta ton
Pada awal 2026, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, pihaknya akan memangkas produksi batu bara menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026, turun nyaris 200 juga ton dibandingkan produksi batu bara pada 2025 sebesar 790 juta ton.
Langkah-langkah pemangkasan produksi tersebut bertujuan untuk menjaga harga komoditas di level global. Saat ini, batu bara yang diperdagangkan secara global mencapai 1,3 miliar ton per tahun.
Dari jumlah tersebut, Indonesia berkontribusi sekitar 514 juta ton. Tingginya batu bara yang diperdagangkan secara global berdampak kepada jatuhnya harga komoditas, yang tercermin dari harga batu bara acuan.
Harga batu bara acuan (HBA) pada periode I Februari 2026 tercatat sebesar 106,11 dolar AS per ton, lebih rendah apabila dibandingkan dengan HBA pada Februari 2025 sebesar 124,24 dolar AS per ton.
Tingginya porsi batu bara Indonesia dalam perdagangan global menyebabkan Kementerian ESDM yakin pemangkasan produksi dapat mendongkrak harga komoditas.
"Supaya harga bagus dan tambang ini juga kita harus wariskan kepada anak cucu kita. Jadi jangan cara berpikir kita mengelola sumber daya alam itu seolah-olah harus selesai semua sekarang," ucap Bahlil.