- IHSG menguat tipis 0,3% pada penutupan kemarin, meskipun diwarnai aksi jual bersih asing signifikan mencapai Rp1,42 triliun.
- Kebijakan ESDM memangkas target produksi batu bara menjadi 600 juta ton, menguntungkan emiten seperti AADI, BUMI, dan INDY.
- Bursa global Wall Street melemah karena kejenuhan sektor teknologi AI, sementara bursa Asia-Pasifik mayoritas bergerak menguat.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil parkir di zona hijau dengan penguatan tipis 0,3% pada penutupan perdagangan kemarin.
Namun, penguatan ini dibayangi oleh aksi jual bersih (net sell) investor asing yang cukup masif mencapai Rp1,42 triliun.
Beberapa saham blue chip seperti BUMI, ANTM, ASII, TLKM, dan BBNI menjadi sasaran utama pelepasan aset oleh pemodal internasional.
Fanny Suherman, Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas, memproyeksikan IHSG hari ini akan bergerak melemah terbatas.
Pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menanti rilis data Produk Domestik Bruto (GDP) Indonesia yang dijadwalkan keluar hari ini.
Area Support: 8.030 – 8.120
Area Resisten: 8.200 – 8.230
Rekomendasi Saham: BBRI, TLKM, JPFA, MAPA, BRMS, PGEO, dan WIIM (Mandiri Sekuritas).
Peta Baru Industri Batu Bara: Siapa yang Bertahan?
Baca Juga: BEI: 2 Emiten Konglomerat Bakal IPO, Ini Bocorannya
Kebijakan Kementerian ESDM yang memangkas target produksi batu bara nasional sebesar 24% (menjadi 600 juta ton) menciptakan standar baru di pasar modal.
Menurut analisis BRI Danareksa Sekuritas, strategi investasi kini bergeser kepada emiten yang memiliki keamanan kuota di tengah suplai yang mencekik.
Emiten di "Zona Aman":
- PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): Milik konglomerat Boy Thohir ini diprediksi tetap stabil dengan output sekitar 65,2 juta ton.
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI): Grup Bakrie-Salim ini memegang posisi kunci. Produksi KPC dan Arutmin yang tidak terpangkas membuat BUMI berpotensi meraup margin lebih besar saat harga melambung dengan estimasi produksi 74 juta ton.
- PT Indika Energy Tbk (INDY): Melalui anak usahanya, Kideco, emiten ini aman dengan target 30 juta ton.
Sebaliknya, PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) diprediksi akan tertekan akibat pemangkasan kuota drastis hingga 45%, yang menurunkan kapasitas produksinya ke level 3,3 juta ton.
Skandal "Saham Gorengan" dan Sentimen Wall Street
Di sisi regulasi, publik masih menyoroti pemeriksaan terhadap Shinhan Sekuritas terkait dugaan manipulasi harga. Saham-saham seperti PADI, MINA, dan PIPA kini masuk dalam radar pengawasan ketat akibat pola pergerakan yang dinilai tidak wajar.