- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan prinsip ekonomi syariah Indonesia tertinggal jauh dibanding pusat global lain.
- Purbaya menyoroti kurangnya kebijakan jelas pemerintah dalam mendorong dan mengintegrasikan ekonomi syariah sebagai strategi besar.
- Pelaku bisnis melaporkan bahwa biaya pembiayaan dari bank syariah secara rata-rata masih lebih mahal daripada konvensional.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kalau prinsip ekonomi syariah di Indonesia jauh tertinggal dari negara-negara lain. Padahal RI memiliki penduduk beragama Islam paling banyak di dunia.
"Tapi yang pusat syariah bukan di Jakarta. Ada di London, di Hongkong. Kadang-kadang Singapura juga ingin jadi pusat ekonomi syariah. Syariah financial. Kita ketinggalan sekali dalam hal itu," kata Purbaya dalam Sharia Ekonomi Forum 2026, dikutip Senin (16/2/2026).
Purbaya menilai kalau selama ini tidak ada kebijakan yang jelas untuk ekonomi syariah. Sebagai ekonom 25 tahun terakhir, ia berpandangan kalau Indonesia adalah ekonomi Islam besar, tapi keberpihakan ekonomi syariah hampir tidak ada.
"Ekonomi syariah adalah bagian dari strategi besar pembangunan. Saya tidak melihat strategi di pembangunan, yang berusaha mendorong ekonomi syariah," lanjutnya.
Bendahara Negara bercerita kalau dirinya sempat bertemu dengan aktivis ekonomi syariah. Hanya saja mereka malah berjalan sendiri dan tidak dibantu oleh Pemerintah.
Ia menyebut kalau fenomena ini adalah kesalahan semua pihak. Indonesia dinilainya memiliki umat Islam terbesar, namun kenyataannya mereka lebih banyak diam.
![Menteri Agama Nasaruddin Umar. [dok.pribadi]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/09/43396-menteri-agama-nasaruddin-umar.jpg)
Purbaya lalu meminta Menteri Agama (Menag) Nasaruddin untuk mengajaknya membangun sistem ekonomi syariah. Tapi jika hanya sekadar nama, ia menolak.
"Harusnya pak Menteri Agama baru mengajak saya menjadi apa, semacam perkumpulan cendekia Islam Muslim. Saya ikut. Saya bilang saya bantu, kalau bapak mau betul-betul bangun ekonomi syariah. Tapi kalau bapak cuma pakai nama namanya aja saya enggak ikut," timpal dia.
"Artinya gini, kalau mau bangun, bangun betul. Syariah bukan hanya istilahnya, tapi praktik syariahnya betul-betul syariah," lanjutnya.
Baca Juga: BI: Ekonomi Syariah Jadi Pilar Strategis Hadapi Ketidakpastian Global
Lebih lanjut Menkeu juga meminta testimoni dari para pelaku bisnis. Ia memperoleh jawaban kalau bunga kredit yang didapat dari bank syariah rata-rata lebih mahal, meskipun tidak menggunakan istilah bunga.
"Jadi bukan itu sebetulnya yang diinginkan dari suatu ekonomi yang berbasis syariah. Saya pikir juga tadinya, 'Ekonomi syariah mah bullshit, enggak mungkin jalan'. Itu didikan Barat, Amerika," jelasnya.