- Harga emas Antam per 25 Februari 2026 turun menjadi Rp 3.023.000 per gram dan harga buyback Rp 2.802.000 per gram.
- Harga emas dunia terkoreksi tajam mendekati USD 5.140 per troy ounce dipicu penguatan dolar AS akibat pernyataan The Fed.
- Volatilitas harga emas dunia diperkirakan berlanjut karena dipengaruhi kebijakan fiskal, tarif AS, serta tensi geopolitik Timur Tengah.
Suara.com - Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada hari Rabu, 25 Februari 2026 untuk ukuran satu dibanderol di harga Rp 3.023.000 per gram.
Dikutip dari situs Logam Mulia, harga emas Antam itu tiba-tiba turun Rp 45.000 dibandingkan hari Selasa, 24 Februari 2026.
Sementara itu, harga Buyback (beli kembali) emas Antam dibanderol di harga Rp 2.802.000 per gram.
Harga buyback itu juga juga anjlok Rp 52.000 dibandingkan dengan harga buyback hari Selasa kemarin.
Perlu diingat, harga tersebut belum termasuk pajak penghasilan (PPh) sebesar 0,45 persen bagi pemegang NPWP dan 0,9 persen yang tidak memiliki NPWP. Pengenaan PPh ini sesuai dengan PMK Nomor 34/OMK.19/2017.3.
![Emas Antam edisi khusus HUT RI ke-80. [Dokumentasi ANTM].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/08/20/41772-emas-antam.jpg)
Seperti dilansir dari laman resmi Logam Mulia Antam, berikut adalah harga emas antam setelah pajak pada hari ini:
- Emas 0,5 Gram Rp 1.565.404
- Emas 1 Gram Rp 3.030.558
- Emas 2 gram Rp 6.000.965
- Emas 3 gram Rp 8.976.385
- Emas 5 gram Rp 14.927.225
- Emas 10 gram Rp 29.799.313
- Emas 25 gram Rp 74.372.468
- Emas 50 gram Rp 148.665.738
- Emas 100 gram Rp 297.253.280
- Emas 250 gram Rp 754.867.538
- Emas 500 gram Rp 1.485.524.550
- Emas 1.000 gram Rp 2.971.009.000
Harga Emas Dunia Meluncur
Harga emas dunia (XAU/USD) terkoreksi tajam pada awal perdagangan Asia, Rabu, setelah mencatat kenaikan selama empat hari berturut-turut. Mengutip laporan FXStreet, logam mulia itu anjlok mendekati level USD 5.140 per troy ounce.
Pelemahan terjadi di tengah aksi ambil untung pelaku pasar usai emas menyentuh level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir. Selain itu, penguatan Dolar Amerika Serikat (AS) turut menekan harga komoditas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar, termasuk emas.
Baca Juga: Harga Emas Pegadaian Rabu 25 Februari 2026, Galeri 24 Lebih Murah dari UBS
Sentimen penguatan dolar dipicu komentar bernada agresif dari pejabat Federal Reserve (The Fed). Presiden Fed Boston, Susan Collins, menyatakan suku bunga kemungkinan tetap tidak berubah “untuk beberapa waktu” karena data ekonomi terbaru menunjukkan perbaikan di pasar tenaga kerja, meski risiko inflasi masih ada.
Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi bahwa kebijakan moneter AS belum akan longgar dalam waktu dekat, sehingga mendukung reli dolar dan membebani emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Selain faktor moneter, pelaku pasar juga mencermati pidato kenegaraan Presiden AS, Donald Trump, yang dijadwalkan berlangsung Rabu waktu setempat. Investor menunggu arahan lebih lanjut terkait kebijakan fiskal dan perdagangan AS yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan global.
Meski demikian, tekanan terhadap emas diperkirakan tidak akan terlalu dalam. Ketidakpastian kebijakan perdagangan AS serta meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah masih menjadi penopang harga logam mulia sebagai aset safe-haven.
Mahkamah Agung AS sebelumnya membatalkan tarif yang diberlakukan Trump. Namun, Trump menyatakan akan menaikkan tarif sementara dari 10 persen menjadi 15 persen untuk impor AS dari semua negara, tingkat maksimum yang diizinkan berdasarkan hukum.
Langkah ini memicu kebingungan baru terkait arah kebijakan tarif Negeri Paman Sam.
Di sisi lain, AS dan Iran dijadwalkan kembali menggelar perundingan di Jenewa pada Kamis mendatang. Pertemuan ini menjadi sinyal bahwa pemerintahan Trump menilai Teheran mengajukan proposal serius untuk mengurangi persediaan uranium yang sangat diperkaya dan menegaskan tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut masih ada peluang menemukan solusi diplomatik. Namun, meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran berpotensi mendorong permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas dalam jangka pendek.
Dengan kombinasi sentimen moneter AS, dinamika kebijakan tarif, serta risiko geopolitik, pergerakan harga emas dunia diperkirakan tetap volatil dalam beberapa sesi perdagangan ke depan.