Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.799.000
Beli Rp2.670.000
IHSG 6.723,320
LQ45 657,880
Srikehati 323,518
JII 437,887
USD/IDR 17.492

Keuangan Indonesia Terancam, S&P Peringatkan Kondisi Ekonomi Pemerintah RI

M Nurhadi | Suara.com

Jum'at, 27 Februari 2026 | 10:54 WIB
Keuangan Indonesia Terancam, S&P Peringatkan Kondisi Ekonomi Pemerintah RI
Sebagai ilustrasi [Suara.com/Alfian Winanto]
  • S&P Global Ratings memperingatkan potensi penurunan peringkat kredit Indonesia akibat meningkatnya beban pembayaran bunga utang negara.
  • Pembayaran bunga utang tahun lalu kemungkinan besar melebihi ambang batas kritis 15% dari total pendapatan negara.
  • Kekhawatiran ini muncul bersamaan dengan penurunan prospek oleh Moody's serta tekanan pada pasar modal domestik.

Suara.com - S&P Global Ratings, baru saja mengeluarkan peringatan serius terkait kondisi keuangan negara Indonesia.

Dalam webinar regional Asia-Pasifik yang digelar Kamis (26/2/2026), S&P menyoroti meningkatnya tekanan fiskal, terutama membengkaknya biaya pembayaran bunga utang yang berpotensi menurunkan peringkat kredit (Sovereign Credit Profile) Indonesia.

Analis S&P, Rain Yin, mengungkapkan bahwa pembayaran bunga utang pemerintah tahun lalu "sangat mungkin" telah melampaui ambang batas kritis, yakni 15% dari total pendapatan negara.

Jika angka ini terus bertahan di atas batas tersebut dalam jangka panjang, S&P tidak ragu untuk memberikan penilaian negatif terhadap peringkat utang Indonesia.

Meskipun saat ini S&P masih mempertahankan peringkat Indonesia di level BBB dengan prospek stabil, pernyataan ini mempertegas kekhawatiran global.

Sebelumnya, pada awal Februari 2026, lembaga pemeringkat Moody’s telah lebih dulu menurunkan prospek Indonesia dari "Stabil" menjadi "Negatif".

Moody’s menyoroti pelemahan tata kelola dan risiko fiskal di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Sentimen negatif ini semakin diperparah oleh peringatan dari MSCI Inc mengenai perlunya reformasi pasar. Hal ini memicu aksi jual oleh investor asing yang membuat pasar modal Indonesia tertekan.

Rasio Utang yang Tak Kunjung Turun

S&P menekankan bahwa rasio bunga utang terhadap pendapatan adalah indikator kunci. Indonesia punya rekam jejak yang baik dengan menjaga rasio ini di bawah 15% untuk waktu yang lama.

Namun, pasca pandemi, angka tersebut melonjak signifikan dan tidak menunjukkan penurunan yang cepat.

Tahun lalu, defisit anggaran Indonesia tercatat sebesar 2,9% dari PDB, nyaris menyentuh batas maksimal undang-undang sebesar 3%.

Angka ini lebih tinggi dari perkiraan akibat lemahnya penerimaan negara. S&P melihat perkembangan ini sebagai sinyal bahwa risiko fiskal Indonesia bergerak naik lebih cepat dari yang dibayangkan.

Seperti yang dikutip via Bloomberg, kekhawatiran utama S&P bukan hanya pada angka utang, melainkan pada kepercayaan investor global. Jika kepercayaan ini runtuh, dampaknya bisa sangat luas:

  1. Modal Asing Kabur (Capital Outflow): Jika investor asing menarik dananya secara masif, likuiditas pasar modal akan kering.
  2. Biaya Pinjaman Naik: Berkurangnya dana asing akan membuat biaya pinjam uang bagi pemerintah maupun pelaku usaha menjadi jauh lebih mahal.
  3. Tekanan pada Rupiah: Minimnya aliran modal masuk akan menekan nilai tukar Rupiah.
  4. Intervensi Bank Indonesia: Untuk menjaga Rupiah, Bank Indonesia terpaksa harus menggunakan cadangan devisa, yang pada akhirnya bisa memperlemah ketahanan ekonomi nasional.

Direktur Pelaksana S&P Asia Pasifik, Kim Eng Tan, menambahkan bahwa jika status Indonesia diturunkan dari Emerging Market oleh MSCI, tekanan terhadap harga aset akan semakin intensif.

Menanggapi berbagai peringatan ini, pemerintah Indonesia telah mengumumkan sejumlah rencana reformasi pasar, termasuk aturan free float (saham publik) yang lebih tinggi untuk menarik kembali minat investor.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kandidat Pengganti Thom Haye di FIFA Series 2026, Sudah Terjamin Kualitasnya!

Kandidat Pengganti Thom Haye di FIFA Series 2026, Sudah Terjamin Kualitasnya!

Bola | Jum'at, 27 Februari 2026 | 10:52 WIB

Allahuakbar! 5 Pemain Timnas Indonesia Pindah Agama Peluk Islam, Ada Kiper

Allahuakbar! 5 Pemain Timnas Indonesia Pindah Agama Peluk Islam, Ada Kiper

Bola | Jum'at, 27 Februari 2026 | 10:40 WIB

Detail Fakta PSSI Kena Sanksi AFC Jelang FIFA Series 2026

Detail Fakta PSSI Kena Sanksi AFC Jelang FIFA Series 2026

Bola | Jum'at, 27 Februari 2026 | 10:28 WIB

Bek Jangkung Keturunan Sunda 195 Cm Kasih Puja Puji ke Timnas Indonesia, OTW Naturalisasi?

Bek Jangkung Keturunan Sunda 195 Cm Kasih Puja Puji ke Timnas Indonesia, OTW Naturalisasi?

Bola | Jum'at, 27 Februari 2026 | 10:21 WIB

Subhanallah, Pemain Keturunan Indonesia Ini Akhirnya Memutuskan Percaya Allah SWT dan Pindah Agama

Subhanallah, Pemain Keturunan Indonesia Ini Akhirnya Memutuskan Percaya Allah SWT dan Pindah Agama

Bola | Jum'at, 27 Februari 2026 | 09:46 WIB

Tak Lakukan RUPS dan Diduga Gelapkan Dana, Dirut Wanteg Sekuritas Dicopot Sementara

Tak Lakukan RUPS dan Diduga Gelapkan Dana, Dirut Wanteg Sekuritas Dicopot Sementara

Bisnis | Jum'at, 27 Februari 2026 | 09:32 WIB

Terkini

Purbaya Klaim Danantara Sepakat Tukar Guling PNM dan Geo Dipa

Purbaya Klaim Danantara Sepakat Tukar Guling PNM dan Geo Dipa

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 11:41 WIB

Menteri UMKM Ancam Tindak Marketplace yang Nekat Naikkan Biaya Seller

Menteri UMKM Ancam Tindak Marketplace yang Nekat Naikkan Biaya Seller

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 11:41 WIB

Harga Cabai Meledak Nyaris 19 Persen, Beras dan Minyak Goreng Ikut Naik

Harga Cabai Meledak Nyaris 19 Persen, Beras dan Minyak Goreng Ikut Naik

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 11:36 WIB

Bank Indonesia Gunakan Kalkulator Hijau Versi 2 untuk Hitung Emisi Karbon

Bank Indonesia Gunakan Kalkulator Hijau Versi 2 untuk Hitung Emisi Karbon

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 11:29 WIB

Purbaya Akui Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Dibayar APBN 2 Tahun

Purbaya Akui Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Dibayar APBN 2 Tahun

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 11:27 WIB

Utang Indonesia Hampir Rp 10 Ribu Triliun, Purbaya: Masih Aman, Harusnya Anda Puji Kita

Utang Indonesia Hampir Rp 10 Ribu Triliun, Purbaya: Masih Aman, Harusnya Anda Puji Kita

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 11:12 WIB

Danantara Klaim Transformasi Pengelolaan Aset BUMN Mulai Berbuah Laba

Danantara Klaim Transformasi Pengelolaan Aset BUMN Mulai Berbuah Laba

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 10:33 WIB

Setelah Baja, Industri Rokok Juga Ikut Terancam Gulung Tikar

Setelah Baja, Industri Rokok Juga Ikut Terancam Gulung Tikar

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 10:23 WIB

Harga Emas Anjlok, Kemendag Pangkas Patokan Ekspor dan Referensi

Harga Emas Anjlok, Kemendag Pangkas Patokan Ekspor dan Referensi

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 10:15 WIB

Rupiah Terpuruk ke Rp17.500, Ekonom Warning Risiko Dolar AS Sentuh Rp18.000

Rupiah Terpuruk ke Rp17.500, Ekonom Warning Risiko Dolar AS Sentuh Rp18.000

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 10:02 WIB