- Pemerintah mewaspadai gangguan eskspor 2.280 ton beras Indonesia ke Arab Saudi akibat ketegangan geopolitik kawasan Timur Tengah.
- Bulog menjadwalkan ekspor beras premium tersebut pada 7 Maret 2026 untuk kebutuhan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi.
- Bulog meminta penilaian keamanan dari BAIS TNI, BIN, dan Kemenlu terkait potensi risiko jalur perdagangan menuju Arab Saudi.
Suara.com - Pemerintah melihat risiko gangguan pengiriman 2.280 ton beras Indonesia ke Arab Saudi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel dinilai dapat memengaruhi jalur perdagangan menuju kawasan tersebut.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pemerintah masih memantau perkembangan situasi sebelum ekspor beras dilakukan. Bulog sendiri mendapat penugasan menyiapkan beras yang akan diekspor untuk kebutuhan jemaah haji Indonesia.
Saat ini, pengiriman beras kualitas premium itu masih dijadwalkan pada 7 Maret 2026 mendatang melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ekspor tersebut ditujukan khusus untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi.
Rizal menjelaskan, pihaknya saat ini mengikuti perkembangan dinamika geopolitik yang terjadi di Timur Tengah. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan waktu pemberangkatan kapal pengangkut beras.
"Ini kan kita mengikuti dinamika perkembangan geopolitik yang ada di sana. Intinya di sini pemerintah menyiapkan semaksimal mungkin sesuai dengan yang diperintahkan dalam rakortas," kata Rizal saat pelepasan ekspor beras di Gudang Bulog Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Meski demikian, ia berharap pengiriman beras tetap berjalan sesuai rencana tanpa ada hambatan.
"Kalau sesuai rencana (tanggal 7 Maret), sesuai rencana," tuturnya.
Untuk memastikan keamanan pengiriman, Bulog bahkan telah meminta penilaian dari sejumlah lembaga negara. Penilaian tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran terkait situasi keamanan jalur perdagangan menuju Arab Saudi.
"Nah, untuk proses kelanjutannya, kita mengikuti perkembangan dinamika di lapangan seperti itu. Namun kami juga sudah bersurat ke BAIS TNI, ke BIN, kemudian ke Kemenlu, mohon assessment terkait dengan pemberangkatan beras haji Indonesia ini," kata Rizal.
Baca Juga: Selain Ras Taruna yang Ditutup, Ini 8 Kilang Minyak Raksasa Milik Arab Saudi
Soal potensi keterlambatan pengiriman, Rizal mengaku masih menunggu hasil kajian dari lembaga-lembaga tersebut.
"Nah, ini kita menunggu informasi lebih lanjut dari assessment dari tiga institusi tersebut," ungkapnya.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan pengiriman beras ke Arab Saudi tetap aman meski terjadi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ia optimistis distribusi beras dapat berjalan sesuai rencana.
"Insyaallah aman. Aman sampai di Jeddah," kata Amran.
Amran juga menanggapi isu jalur perdagangan menuju Timur Tengah yang disebut sempat mengalami gangguan akibat konflik. Menurutnya, pengiriman tetap bisa dilakukan dengan menyesuaikan kondisi di lapangan.
"Ya kita masuk pada saat (jalur perdagangan) buka," ujar Amran.