- Jajaran direksi BCA kompak serok saham BBCA miliaran rupiah di awal 2026.
- PER BBCA hanya 15x, jauh lebih murah dibanding bank digital seperti ARTO (64x).
- Analisis valuasi proyeksikan BBCA siap rebound menuju level psikologis Rp10.000.
Suara.com - Di pasar saham, ada satu pedoman investasi yang jarang meleset, ketika para nahkoda kapal memborong tiket, itu tandanya kapal siap berlayar cepat. Fenomena menarik inilah yang kini sedang terjadi pada emiten perbankan raksasa, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Di tengah fluktuasi pasar awal tahun 2026, jajaran petinggi BCA justru terpantau agresif melakukan aksi borong saham atau buy on weakness. Langkah ini bukan sekadar transaksi rutin, melainkan bukti nyata keyakinan tinggi dari pihak yang paling memahami "dapur" perusahaan terhadap prospek jangka panjang perseroan.
Berdasarkan data kuartal I-2026, sejumlah nama besar di jajaran manajemen BCA mengeluarkan dana pribadi hingga miliaran rupiah untuk mempertebal kepemilikan saham mereka.
Sebut saja Hendra Lembong yang menambah amunisi secara masif dengan dana mencapai Rp7,93 miliar. Disusul Wakil Presiden Direktur John Kosasih yang mengeksekusi pembelian senilai Rp4,37 miliar pada Maret 2026. Nama lain seperti Vera Eve Lim dan Santoso juga tercatat menggelontorkan masing-masing Rp3,84 miliar dan Rp3,46 miliar.
Bahkan, Lianawaty Suwono memborong 300.000 saham senilai Rp2,1 miliar pada akhir Januari 2026 justru saat pasar sedang bergejolak. Aksi kolektif ini seolah mengirim pesan kuat: jika orang dalam saja menganggap harga saat ini adalah peluang emas, mengapa investor ritel harus ragu?
Keyakinan manajemen ini sangat sejalan dengan realitas valuasi. Jika membedah menggunakan Price to Earnings Ratio (PER), saham BBCA saat ini diperdagangkan di kisaran 15 kali. Angka ini tergolong "murah" untuk bank paling efisien di Indonesia.
Sebagai perbandingan, bank digital seperti Bank Jago (ARTO) justru diperdagangkan di kisaran PER 64 kali. Artinya, investor membayar 4 kali lebih mahal untuk setiap Rp1 laba yang dihasilkan ARTO dibanding BBCA. Padahal, dari sisi fundamental dan konsistensi laba, BCA jauh lebih mapan dengan basis Current Account Savings Account (CASA) yang dominan.
Fenomena "salah harga" ini menciptakan celah keuntungan. Pasar seolah memberikan diskon besar bagi saham sekelas BBCA yang memiliki rekam jejak pertumbuhan laba sangat stabil.
Dengan kombinasi akumulasi manajemen dan valuasi yang masih terdiskon, BBCA diprediksi sedang memasang kuda-kuda untuk rebound. Jika harga kembali ke rata-rata historis PER 18–20 kali, target menembus level Rp10.000 per lembar dalam beberapa bulan ke depan menjadi skenario yang sangat realistis.