- Menteri Keuangan membela pernyataan Menteri ESDM mengenai stok minyak Indonesia yang aman selama 20 hari.
- Stok minyak 20 hari merupakan kondisi normal dan strategis, bukan mengindikasikan situasi darurat atau akan habis.
- Menteri ESDM mengklarifikasi bahwa kapasitas penyimpanan normal BBM Indonesia memang sekitar 25 hari, saat ini 23 hari.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membela pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia soal stok minyak Indonesia yang masih aman dalam waktu 20 hari.
Menkeu Purbaya bercerita kalau stok Bahan Bakar Minyak (BBM) selama 20 hari bukan berarti bakal habis setelahnya. Sebab Pemerintah bakal kembali membeli BBM dan mencadangkannya kembali.
"Stok minyak kan urusan Pak Bahlil. Cuma yang saya tahu gini. Setiap saat kita menyetok sekian puluh hari. Kalau enggak salah 15 hari lebih ya. Ini kan stoknya 20 hari. Berarti berlebih, bukan habis. Nanti kalau itu bisa beli lagi," katanya saat melakukan sidak di Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, dikutip Selasa (10/3/2026).
Bendahara Negara menegaskan kalau stok minyak 20 hari yang dimiliki Indonesia adalah keadaan normal, bukan darurat.
Apabila Pemerintah menyimpan cadangan minyak hingga setahun ke depan, Purbaya menilai justru Indonesia bakal rugi karena mengeluarkan biaya lebih banyak.
"Itu stok yang normal, bukan darurat. Ada yang bilang, 'Wah kita tinggal 20 hari lagi'. Bukan begitu. Kalau distok setahun kan rugi. Ada cost-nya. Jadi strateginya seperti itu. Sudah optimal itu," jelasnya.

Klarifikasi Bahlil soal stok minyak 20 hari
Sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang juga Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, meminta masyarakat di seluruh Indonesia tidak terprovokasi oleh informasi keliru terkait cadangan bahan bakar minyak (BBM).
Bahlil menegaskan bahwa kondisi ketahanan energi nasional saat ini berada dalam status aman meskipun situasi di Timur Tengah memanas.
Hal ini disampaikan Bahlil menanggapi fenomena panic buying di sejumlah daerah akibat isu yang menyebut stok BBM Indonesia hanya tersisa untuk 20 hari menyusul potensi penutupan Selat Hormuz.
Baca Juga: Bahlil Gunakan Jurus B50 dan E20 untuk Hadapi Minyak Dunia yang Mendidih
"Kepada saudara-saudara saya sebangsa dan setanah air, dari Aceh sampai Papua. Saya ingin menjelaskan bahwa kemampuan storage atau tempat penampung minyak kita sejak dahulu kala memang kapasitas tampungnya hanya 25 hari. Jadi itu bukan baru sekarang, dari dulu," ujar Bahlil di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Bahlil menjelaskan bahwa secara teknis, standar minimal ketersediaan BBM nasional harus berada di atas 20 hari.
Saat ini, posisi cadangan minyak Indonesia berada di angka 23 hari, yang artinya masih berada dalam zona aman.
"Sekarang minyak kita 23 hari. Itu artinya standar kepemilikan kita aman. Jadi tidak perlu ada panik, suplai lancar," tegasnya.