- Menteri Keuangan memastikan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak dipotong meski rupiah melemah.
- Belanja program MBG akan diperketat, hanya untuk makanan, tidak termasuk barang pendukung seperti komputer atau motor.
- Kemenkeu akan memantau efektivitas belanja MBG, termasuk mengevaluasi dampak kenaikan harga minyak dalam sebulan ke depan.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak akan dipotong meski terdampak konflik geopolitik yang berujung pada pelemahan mata uang rupiah hingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini.
Menkeu Purbaya menyebut, meskipun anggaran MBG tidak dipotong, tapi belanja program andalan Presiden RI Prabowo Subianto itu bakal diperketat.
Dicontohkan dia, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi hanya diberikan mandat belanja makanan, bukan pendukung seperti motor hingga komputer.
"Jadi MBG enggak akan dipotong, kecuali yang enggak produktif. Itu saja. Kita lihat saja. Kalau dia ngajuin beli motor lagi, coret. Beli komputer lagi, coret. Yang enggak perlu beli, yang enggak berhubungan dengan makanan," kata Purbaya di Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2026).
Bendahara Negara juga memastikan kalau Kemenkeu bakal memantau belanja MBG agar efektif dan efisien. Dia akan mengevaluasi program sebulan ke depan, termasuk soal kenaikan harga minyak.
"MBG ya? Enggak kita potong anggarannya. Tapi kita pastikan yang dibelanjakan betul-betul efektif dan efisien. Sambil lihat sebulannya. MBG ya, sebulannya kita lihat minyak gimana. Itu terus kita jelaskan terus," jelas dia.
Diketahui pergerakan nilai tukar rupiah terus melanjutkan pelemahan pada penutupan Senin, 9 Maret 2026 . Bahkan mata uang Garuda sempat tembus ke level Rp 17.017 pada pembukaan pagi tadi.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar Spot ditutup Rp 16.949 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sementara itu IHSG ditutup turun 3,27 persen ke level 7.337, setelah sempat menyentuh level terendah 7.156 pada perdagangan hari ini. Phintraco Sekuritas menjelaskan pelemahan pasar dipicu oleh penutupan Selat Hormuz yang berdampak pada distribusi minyak global.
Baca Juga: Curhat ke Prabowo, Bocah Nias yang Sempat Viral Minta Jembatan Kini Tagih MBG
Kondisi tersebut membuat produsen minyak di Timur Tengah mengurangi produksi karena keterbatasan penyimpanan akibat terganggunya pengiriman ke pelanggan.