- Harga emas Antam 1 gram pada Senin, 23 Maret 2026, stabil di Rp 2.896.000, belum termasuk PPh.
- Harga buyback emas Antam juga tidak berubah, tetap pada posisi Rp 2.610.000 per gram dibandingkan hari Sabtu.
- Harga emas global melemah karena dolar AS menguat dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed berkurang.
Suara.com - Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada hari Senin, 23 Maret 2026 untuk ukuran satu dibanderol di harga Rp 2.896.000 per gram.
Dikutip dari situs Logam Mulia, harga emas Antam itu stagan dibandingkan Sabtu, 22 Maret 2026.
Sementara itu, harga Buyback (beli kembali) emas Antam dibanderol di harga Rp 2.610.000 per gram.
Harga buyback itu juga tak bergerak dibandingkan dengan harga buyback hari Sabtu pekan kemarin.
Perlu diingat, harga tersebut belum termasuk pajak penghasilan (PPh) sebesar 0,45 persen bagi pemegang NPWP dan 0,9 persen yang tidak memiliki NPWP. Pengenaan PPh ini sesuai dengan PMK Nomor 34/OMK.19/2017.3.
![Seorang karyawan menunjukkan emas Antam yang dijual di Butik Emas Logam Mulia PT Aneka Tambang (Antam), Jakarta, Rabu (25/9/2024). [ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/tom.]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/04/17/52663-emas-antam.jpg)
Seperti dilansir dari laman resmi Logam Mulia Antam, berikut adalah harga emas antam setelah pajak pada hari ini:
- Emas 0,5 Gram Rp 1.500.241
- Emas 1 Gram Rp 2.900.233
- Emas 2 gram Rp 5.740.315
- Emas 3 gram Rp 8.585.410
- Emas 5 gram Rp 14.275.600
- Emas 10 gram Rp 28.496.063
- Emas 25 gram Rp 71.114.343
- Emas 50 gram Rp 142.149.488
- Emas 100 gram Rp 284.220.780
- Emas 250 gram Rp 710.286.288
- Emas 500 gram Rp 1.420.362.050
- Emas 1.000 gram Rp 2.840.684.000
Harga Emas Dunia Loyo
Harga emas dunia melemah pada awal perdagangan Asia, Senin, seiring tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil obligasi.
Berdasarkan laporan FXStreet, harga emas (XAU/USD) anjlok ke sekitar 4.460 dolar AS per ons. Logam mulia tersebut masih berada dalam tekanan jual di tengah kekhawatiran inflasi yang dipicu lonjakan harga energi.
Kondisi ini tak lepas dari memanasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong harga energi naik dan mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga AS.
Situasi tersebut membuat peluang penurunan suku bunga oleh bank sentral AS semakin kecil, yang pada akhirnya menekan harga emas.
Seperti diketahui, emas cenderung kurang menarik saat suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.
Bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) sebelumnya memutuskan untuk menahan suku bunga di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen dalam pertemuan Maret pekan lalu.
Proyeksi terbaru The Fed menunjukkan hanya ada potensi satu kali penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir 2026. Bahkan, sebagian pejabat kini memperkirakan tidak akan ada penurunan suku bunga sama sekali tahun ini.
Meski demikian, tekanan pada harga emas berpotensi tertahan oleh meningkatnya permintaan dari bank sentral, khususnya China.