- Harga emas mengalami penurunan signifikan sepanjang Maret, meskipun terjadi ketegangan geopolitik di Timur Tengah sejak 28 Februari 2026.
- Penurunan harga emas dipicu penunjukan Kevin Warsh yang dinilai pragmatis, berpotensi memperkuat dolar dan menekan harga emas.
- Analis menyarankan kehati-hatian untuk membeli saat ini sebab volatilitas harga emas masih terlalu tinggi.
Suara.com - Harga emas terus turun dalam beberapa pekan terakhir, meski perang antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran masih berkecamuk di Teluk Persia dan Timur Tengah secara keseluruhan.
Di tengah kondisi ketidakpastian akibat krisis energi global, yang dipicu penutupan Selat Hormuz oleh Iran harga emas justru terus turun. Padahal sebelumnya ketidakpastian membuat para investor berlomba-lomba membeli emas yang dianggap sebagai tempat investasi paling aman atau safe haven.
Lalu mengapa kali ini harga emas turun? Apa saja penyebabnya? Apakah kita harus ikut-ikutan jual emas untuk cut loss atau sebaliknya mulai menimbun emas lagi?
Harga emas turun
Di sepanjang Maret, terutama sejak Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran pada 28 Februari 2026, harga emas menunjukkan grafik penurunan.
Sempat mencapai 5.394 per troy ounce pada awal Maret, kini harga emas nangkring di angka 4.368 per troy ounce. Pada pekan lalu, harga emas turun hampir 8 persen - pelemahan terbesar sejak Maret 2020.
Sementara harga emas Antam juga menunjukkan tren penurunan. Sudah naik sampai Rp3.135.000 per gram pada 2 Maret, kini harga emas Antam turun ke Rp2.843.000 per gram.
Tren penurunan harga emas, yang sudah dirasakan di awal Maret, membuat para analis bingung.
"Skala penurunan harga emas ini belum pernah saya saksikan sejak masa-masa kegelapan pada krisis finansial global 2008," kata Tony Sycamore analis pasar dari firma keuangan IG kepada Reuters belum lama ini.
Pada 2008, harga emas turun ke 700 dolar AS per troy ounce dari puncaknya 1000 dolar AS per troy ounce akibat kolapsnya Lehman Brothers. Tapi sejak itu harga emas terus bergerak naik hingga saat ini.
Mengapa harga emas naik lalu turun?
Sebelumnya harga emas bergerak naik sejak tahun lalu karena beberapa faktor. Faktor pertama yang berkaitan dengan dolar, safe haven lain bagi para investor. Inflasi tinggi di negara-negara maju dan ketegangan geopolitik yang disebabkan oleh kepemimpinan Presiden Donald Trump di AS membuat emas diburu.
Isu pemotongan suku bunga oleh bank sentral AS Federal Reserve juga membuat dolar melemah dan emas semakin diburu.
Faktor kedua adalah maraknya praktik call option - kontrak derivatif yang membuat para investor membeli emas dengan harga lebih murah di masa depan. Ini membuat harga emas semakin melambung.
Lalu emas mulai melemah ketika perang di Teluk membara. Apa yang terjadi?
Menurut DW, ada dua pemicu utama turunnya harga emas. Pertama, Trump pada dua pekan lalu mengumumkan penunjukkan Kevin Warsh sebagai calon kepala bank sentral AS. Warsh dinilai sebagai tokoh yang pragmatis dan independen, serta berpengalaman berhadapan dengan krisis.
Pasar menyambut Warsh dengan positif. Ia dinilai bisa menolak intervensi Gedung Putih, terutama soal pemotongan suku bunga yang selalu didesak oleh Trump.
Warsh juga dinilai anti inflasi. Ini meningkatkan ekspektasi akan kebijakan moneter lebih ketat, yang berpotensi memperkuat nilai tukar dolar dan menekan harga emas - mengingat emas diperdagangkan dalam mata uang dolar."
"Emas dan perak sedang ada di tengah kepanikan pasar. Orang ramai-ramai menjual (emas dan perak) untuk menghindari kerugian dan risiko," kata Direktur Riset BullionVault Adrian Ash.
Saatnya beli atau ikutan jual?
Lalu apa yang harus kita lakukan saat ini, saatnya beli atau ikutan jual emas untuk cut loss?
Peneliti senior pada Pepperstone, perusahaan finansial Australia, Michael Brown mengatakan penurunan harga emas yang terjadi saat ini bukan tanda-tanda harga emas akan anjlok terus dalam jangka panjang.
Sementara menurut Christopher Forbes dari CMC Market wilayah Asia dan Timur Tengah, penurunan harga emas ini adalah bentuk "koreksi klasik" atas kenaikan harga yang juga luar biasa sebelumnya.
"Saat dolar melemah atau saat kinerja Warsh sudah kelihatan, maka pembeli emas akan kembali," demikian menurut Forbes yang menilai harga emas akan kembali naik dalam 12 bulan ke depan.
Meski demikian penilaian ini juga bukan berarti sudah saatnya untuk menjual atau kembali berburu emas karena harganya sedang turun.
"Jangan membel emas saat harga sedang turun, volatilitasnya masih terlalu tinggi,” kata Robert Gottlieb, eks trader logam mulia di JPMorgan Chase & Co yang kini menjadi komentator pasar independen kepada Bloomberg akhir pekan kemarin.
Menurut dia, selama volatilitas harga emas belum mereda dan harga belum menunjukkan konsolidasi, tekanan untuk menjual masih akan terus berlanjut.