- Pemerintah membuka peluang tingkatkan produksi mineral seperti batu bara dan nikel karena tren kenaikan harga global.
- Menteri ESDM menyatakan penyesuaian produksi dilakukan hati-hati, mengikuti dinamika harga pasar global dan permintaan domestik.
- Prioritas utama kebijakan adalah menjaga pasokan energi dan bahan baku untuk kebutuhan industri di dalam negeri tetap aman.
Suara.com - Pemerintah membuka peluang untuk meningkatkan produksi mineral, termasuk batu bara dan nikel, seiring tren kenaikan harga komoditas di pasar global imbas perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan kebijakan tersebut akan dilakukan secara hati-hati melalui skema relaksasi yang tetap mempertimbangkan keseimbangan pasar.
"Kalau harganya bagus terus, kita akan memproduksi juga lebih banyak. Tetapi kalau harganya turun, kita akan menyesuaikan dengan permintaan di pasar. Jadi supply and demand sebagai instrumen untuk menjaga keseimbangan," ujar Bahlil di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (27/3/2026).
![Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. [Suara.com/Fakhri Fuadi Muflih].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/27/75969-esdm-bahlil-lahadalia.jpg)
Menurut Bahlil, langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengoptimalkan potensi pendapatan negara di tengah dinamika global yang tidak menentu.
Selain itu, pemerintah juga tetap memprioritaskan kebutuhan dalam negeri agar pasokan energi dan bahan baku industri tetap terjaga.
"Batu bara merupakan sumber energi yang ada di kita dan karena itu kita akan memprioritaskan kepentingan dalam negeri," jelasnya.
Ia mengatakan, peningkatan produksi tidak akan dilakukan secara sembarangan. Pemerintah tetap akan menyesuaikan dengan kebutuhan industri domestik agar tidak menimbulkan kelebihan pasokan yang justru dapat menekan harga.
"Jadi jangan kebutuhan industrinya, contoh 300 (juta ton), kita mengeluarkan RKAB di atas 300 atau 400, itu nanti harganya jatuh," ucapnya.
Selain batu bara, kebijakan serupa juga akan diterapkan pada komoditas nikel. Pemerintah akan menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan industri agar harga tetap stabil.
Langkah ini juga diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi negara, pelaku usaha, dan tenaga kerja di sektor pertambangan.
"Kalau harganya bagus, negara dapat royaltinya bagus, pengusahanya juga bagus, kemudian rakyat yang ikut bekerja juga bisa mendapatkan dampak yang baik," pungkasnya.