Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.630.000
Beli Rp2.525.000
IHSG 5.916,070
LQ45 584,483
Srikehati 289,903
JII 349,817
USD/IDR 17.994

Penyebab Rupiah Melemah Tembus Rp17.002 per Dolar AS Hari Ini

M Nurhadi, Rina Anggraeni

Kamis, 02 April 2026 | 17:58 WIB
Penyebab Rupiah Melemah Tembus Rp17.002 per Dolar AS Hari Ini
BI mengubah batas maksimum pembelian valas dengan menjadi 50.000 dolar AS per pelaku per bulan. Kebijakan ini berlaku mulai April mendatang di tengah ancaman krisis energi akibat konflik di Teluk Persia. [Antara]
baca 10 detik
  • Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.002 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis, 2 April 2026.
  • Pelemahan rupiah terjadi akibat ketidakpastian global dan sikap pelaku pasar yang menghindari risiko setelah pidato Donald Trump.
  • Ancaman agresi militer AS ke Iran memicu kekhawatiran konflik di Timur Tengah serta menekan mata uang negara berkembang.

Suara.com - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan yang cukup signifikan pada penutupan perdagangan hari ini.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif dan menempatkan posisi mata uang Garuda semakin dalam di zona merah di tengah ketidakpastian kondisi global yang kian meningkat.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Bloomberg pada perdagangan Kamis, 2 April 2026, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah ke level Rp17.002 per dolar AS.

Dengan posisi penutupan tersebut, mata uang kebanggaan Indonesia ini tercatat mengalami depresiasi sebesar 0,11 persen apabila dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari sebelumnya, Rabu, 1 April 2026, yang masih berada di level Rp16.983 per dolar AS.

Sementara itu, laju pelemahan juga tercermin pada kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Berdasarkan data resmi otoritas moneter tersebut, kurs Jisdor hari ini dipatok berada di level Rp17.015 per dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan mata uang greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia justru terpantau bergerak melandai di posisi 99,82, turun tipis dibandingkan posisi hari sebelumnya yang berada di level 99,96.

Faktor Geopolitik dan Pidato Donald Trump Jadi Pemicu

Menanggapi fenomena lesunya pergerakan mata uang Garuda, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan pandangannya.

Menurut Lukman, pelemahan nilai tukar rupiah sejalan dengan koreksi yang dialami oleh mayoritas mata uang regional Asia maupun mata uang utama dunia lainnya.

baca juga

Penguatan dolar AS yang cukup masif secara global terjadi karena pasar sedang mengadopsi sikap menghindari risiko (risk-off). Sikap hati-hati dari para pelaku pasar modal ini merupakan respons spontan yang dipicu oleh pidato terbaru dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Dalam pernyataannya, Trump memberikan indikasi kuat bahwa militer AS bersiap untuk melakukan agresi militer skala besar terhadap Iran dalam kurun waktu beberapa pekan ke depan.

"Pernyataan Trump berharap untuk memenangkan perang terhadap Iran dalam beberapa minggu, dan bukannya mengakhiri perang secara damai seperti yang ditafsir sebelumnya," ujar Lukman saat dihubungi.

Sinyal perang terbuka yang diembuskan oleh Washington tersebut seketika merusak ekspektasi damai yang sempat diharapkan oleh para pelaku pasar finansial global.

Alih-alih meredakan tensi, eskalasi konflik di Timur Tengah justru semakin terakselerasi sehingga mendorong kepanikan investor.

Selain faktor ancaman perang di kawasan Timur Tengah yang memanas, tertekannya nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh aksi pelaku pasar dan investor institusi yang cenderung mengambil sikap menunggu dan mengamati (wait and see).

Minimnya katalis positif baru dari dalam negeri membuat rupiah kehilangan pegangan untuk melakukan perlawanan terhadap dominasi dolar AS.

Lukman memaparkan bahwa pelaku pasar saat ini sedang mengalihkan fokus mereka pada rilis data ketenagakerjaan penting dari Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pada akhir pekan ini.

Data tersebut sangat krusial karena sering kali menjadi acuan bank sentral AS dalam menentukan arah kebijakan suku bunga mereka berikutnya.

"Tidak ada data ekonomi penting malam ini, sedangkan untuk besok akan dirilis data NFP. Data eknomi walau masih bisa mendikte pergerakan mata uang, namun hanya sesaat, investor cenderung lebih mencermati perkembangan perang di timteng dan tentunya harga minyak mentah dunia," jelas Lukman.

Rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) esok hari memang diprediksi akan menimbulkan volatilitas tinggi pada pasar valuta asing.

Namun, untuk jangka pendek ini, persepsi pasar terhadap risiko suplai minyak mentah dunia akibat konflik bersenjata di Timur Tengah tetap menjadi variabel utama yang menekan mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia yang berstatus sebagai negara importir minyak (net oil importer). 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Santai Saja! Nilai Rupiah Menyentuh Rp17.000 per Dolar AS, Bukan Alasan untuk Panik

Santai Saja! Nilai Rupiah Menyentuh Rp17.000 per Dolar AS, Bukan Alasan untuk Panik

Your Say | Kamis, 02 April 2026 | 12:20 WIB

Rupiah Melemah Tipis, Dolar AS Naik ke Level Rp16.983

Rupiah Melemah Tipis, Dolar AS Naik ke Level Rp16.983

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 09:29 WIB

Rupiah Ditutup Menguat, Dolar AS Turun ke Level Rp16.983

Rupiah Ditutup Menguat, Dolar AS Turun ke Level Rp16.983

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 16:50 WIB

Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS: Apakah Ini Saatnya Panik atau Investasi?

Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS: Apakah Ini Saatnya Panik atau Investasi?

Your Say | Rabu, 01 April 2026 | 16:55 WIB

Rupiah Kembali Bangkit, Dolar AS Lemas ke Level Rp16.983

Rupiah Kembali Bangkit, Dolar AS Lemas ke Level Rp16.983

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 09:53 WIB

Rupiah Terus Melemah Akibat Konflik Timur Tengah, Kemenperin: Gunakan Skema LCT

Rupiah Terus Melemah Akibat Konflik Timur Tengah, Kemenperin: Gunakan Skema LCT

Bisnis | Selasa, 31 Maret 2026 | 20:31 WIB

Terkini

Tiga Perusahaan RI Tersandung Sengketa Bisnis sama Malaysia, Kapal-kapal Ditahan

Tiga Perusahaan RI Tersandung Sengketa Bisnis sama Malaysia, Kapal-kapal Ditahan

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 20:20 WIB

Transaksi Kripto Naik di Mei 2026

Transaksi Kripto Naik di Mei 2026

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 20:19 WIB

Investor Serok Borong BBCA, Jual BMRI dan TPIA di Tengah Penguatan IHSG

Investor Serok Borong BBCA, Jual BMRI dan TPIA di Tengah Penguatan IHSG

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 20:13 WIB

Purbaya: Defisit APBN 2026 Diproyeksikan Membengkak

Purbaya: Defisit APBN 2026 Diproyeksikan Membengkak

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 20:09 WIB

PNM Raih Penghargaan atas Komitmen Perkuat Ekonomi Syariah Masyarakat Akar Rumput

PNM Raih Penghargaan atas Komitmen Perkuat Ekonomi Syariah Masyarakat Akar Rumput

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 20:08 WIB

Pulihkan Harapan Masyarakat, Brantas Abipraya Dukung Rehabilitasi Pascabencana di Sumatera

Pulihkan Harapan Masyarakat, Brantas Abipraya Dukung Rehabilitasi Pascabencana di Sumatera

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 20:02 WIB

Bulog Tegaskan Kualitas Beras Tetap Terjaga hingga Penjuru Timur Indonesia

Bulog Tegaskan Kualitas Beras Tetap Terjaga hingga Penjuru Timur Indonesia

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 19:53 WIB

Purbaya Kasih Bukti Ekonomi RI Tetap Kuat di Pertengahan Tahun 2026

Purbaya Kasih Bukti Ekonomi RI Tetap Kuat di Pertengahan Tahun 2026

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 18:59 WIB

Kementerian ESDM Terus Tunda Pengesahan RKAB Batubara, Pemadaman Listrik Masih Mengintai

Kementerian ESDM Terus Tunda Pengesahan RKAB Batubara, Pemadaman Listrik Masih Mengintai

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 18:40 WIB

Purbaya Janji Tak Ada Kenaikan Pajak, Pegawai DJP Diminta Kerja Lebih Keras

Purbaya Janji Tak Ada Kenaikan Pajak, Pegawai DJP Diminta Kerja Lebih Keras

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 18:26 WIB

×