Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.772.000
Beli Rp2.632.000
IHSG 6.723,320
LQ45 657,880
Srikehati 323,518
JII 437,887
USD/IDR 17.491

Sektor Alternatif: Dorong Pemahaman Profil Risiko Produk Tembakau Non-Bakar

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Rabu, 08 April 2026 | 08:16 WIB
Sektor Alternatif: Dorong Pemahaman Profil Risiko Produk Tembakau Non-Bakar
Ilustrasi vape [freepik/master1305]
  • Rokok elektronik memakai sistem pemanasan, bukan pembakaran, sehingga risiko lebih rendah.
  • Riset BRIN & The Lancet catat kadar toksikan vape lebih rendah dibanding rokok bakar.
  • Pengguna diminta bertanggung jawab atas uap dan limbah produk agar tak ganggu publik.

Suara.com - Tren kesadaran kesehatan di kalangan perokok dewasa terus meningkat, memicu pergeseran konsumsi ke arah produk tembakau alternatif. Produk seperti rokok elektronik (vape), produk tembakau dipanaskan, hingga kantong nikotin kini dipandang sebagai opsi bagi mereka yang ingin mengurangi dampak negatif dari rokok konvensional.

Ketua Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK), Garindra Kartasasmita, menegaskan bahwa faktor pembeda utama terletak pada proses produksinya. Berbeda dengan rokok yang dibakar, rokok elektronik bekerja dengan sistem pemanasan cairan ekstrak nikotin menjadi uap.

“Pembakaran itulah yang membuat risikonya sangat berbeda. Melalui sistem pemanasan, rokok elektronik menyalurkan nikotin dengan profil risiko yang lebih rendah,” ujar Garindra dalam diskusi publik di Tangerang Selatan, dikutip Selasa (7/4/2026).

Sejumlah riset memperkuat klaim tersebut. Secara domestik, penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan produk tembakau alternatif memiliki kadar toksikan yang jauh lebih rendah dibandingkan rokok karena tidak melalui proses pembakaran, sesuai dengan standar World Health Organization (WHO).

Senada, studi internasional yang dimuat dalam jurnal The Lancet mengungkapkan bahwa perokok dewasa yang beralih sepenuhnya ke vape selama 30 hari menunjukkan perbaikan signifikan pada fungsi pernapasan, serupa dengan hasil yang ditemukan pada mereka yang berhenti merokok total.

Mamet, anggota komunitas Matic Dizzy Person yang telah beralih ke vape sejak 2019, mengakui adanya dampak positif pada kualitas hidup. “Secara fisik, gigi tidak lagi kuning dan bau badan lebih bersih. Di rumah pun udara tidak tercemar asap,” ungkapnya.

Namun, Garindra mengingatkan bahwa inovasi ini harus dibarengi dengan penggunaan yang bertanggung jawab. Ia menekankan pentingnya etika pengguna agar tidak mengganggu ruang publik. Hal ini termasuk memperhatikan arah hembusan uap serta menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang limbah cartridge atau botol likuid sembarangan.

Di sisi lain, Mamet juga mengimbau masyarakat untuk lebih kritis dalam memilah informasi terkait produk tembakau alternatif di ruang digital. “Jangan telan informasi mentah-mentah dari sumber yang belum tervalidasi,” tegasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

BNN Usul Larang Vape: Temuan Narkotika di Liquid Picu Alarm Bahaya

BNN Usul Larang Vape: Temuan Narkotika di Liquid Picu Alarm Bahaya

News | Selasa, 07 April 2026 | 15:39 WIB

Kepala BNN Usul Vape Dilarang Total, Temukan Kandungan Sabu hingga Obat Bius di Liquid

Kepala BNN Usul Vape Dilarang Total, Temukan Kandungan Sabu hingga Obat Bius di Liquid

News | Selasa, 07 April 2026 | 15:36 WIB

APINDO Minta Pemerintah Pikir Ulang Aturan Soal Industri Rokok Terbaru

APINDO Minta Pemerintah Pikir Ulang Aturan Soal Industri Rokok Terbaru

Bisnis | Jum'at, 27 Maret 2026 | 18:16 WIB

Terkini

Kemendag Bidik Penyalur Nakal, Tegakkan Sanksi Demi Jaga Pasokan Minyakita

Kemendag Bidik Penyalur Nakal, Tegakkan Sanksi Demi Jaga Pasokan Minyakita

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 20:10 WIB

Besok Purbaya Akan Buktikan Kritik The Economist Keliru

Besok Purbaya Akan Buktikan Kritik The Economist Keliru

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 20:08 WIB

Purbaya Sebut 'Media Bodoh', Gurita Bisnis Pemilik The Economist Tembus Ratusan Triliun

Purbaya Sebut 'Media Bodoh', Gurita Bisnis Pemilik The Economist Tembus Ratusan Triliun

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 20:02 WIB

PT Timah Setor Rp 1,624 triliun ke Negara Sepanjang 2025

PT Timah Setor Rp 1,624 triliun ke Negara Sepanjang 2025

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:56 WIB

CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai

CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:52 WIB

BI Pastikan Cadangan Devisa Lebih dari Cukup untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah

BI Pastikan Cadangan Devisa Lebih dari Cukup untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:45 WIB

Menkeu dan BI Optimistis Rupiah Menguat Lagi di Juli 2026

Menkeu dan BI Optimistis Rupiah Menguat Lagi di Juli 2026

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:18 WIB

PHK Meningkat Tajam, Klaim Kehilangan Kerja di BPJS Tenaga Kerja Melonjak 91 Persen

PHK Meningkat Tajam, Klaim Kehilangan Kerja di BPJS Tenaga Kerja Melonjak 91 Persen

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 18:50 WIB

Tak Mau Tahu, BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun

Tak Mau Tahu, BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 18:45 WIB

Badai Ekonomi Ganda: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.667 dan Harga Minyak Dunia Kian Membara

Badai Ekonomi Ganda: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.667 dan Harga Minyak Dunia Kian Membara

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 18:42 WIB