Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.760.000
Beli Rp2.630.000
IHSG 6.195,427
LQ45 619,275
Srikehati 301,815
JII 377,408
USD/IDR 17.858

Harga Bahan Baku Naik Gila-gilaan, Industri Tekstil: Kami Enggak Bisa Survive!

Liberty Jemadu, Fakhri Fuadi Muflih

Jum'at, 17 April 2026 | 19:47 WIB
Harga Bahan Baku Naik Gila-gilaan, Industri Tekstil: Kami Enggak Bisa Survive!
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Danang Girindrawardana mengatakan lonjakan harga bahan baku gila-gilaan membuat industri terancam tak bisa survive atau bertahan.. [Suara.com/Alfian Winanto]
  • Industri tekstil nasional menghadapi lonjakan harga bahan baku sebesar 30 hingga 40 persen yang mengancam kelangsungan operasional usaha.
  • Ketergantungan pada impor bahan baku kimia berbasis minyak membuat industri sangat rentan terhadap dinamika geopolitik global saat ini.
  • Asosiasi Pertekstilan Indonesia berupaya mencari alternatif pemasok bahan baku dari India dan Vietnam untuk menekan tingginya biaya produksi.

Suara.com - Industri tekstil nasional tengah menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga bahan baku yang disebut mencapai 30 hingga 40 persen. Kenaikan ini dinilai menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pelaku usaha di tengah kondisi biaya produksi yang terus meningkat.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Danang Girindrawardana mengatakan lonjakan harga bahan baku gila-gilaan membuat industri terancam tak bisa survive atau bertahan.

"Ya, kenaikan bahan baku tekstil ini kan udah gila-gilaan ya, 30 persen, 40 persen. Dan ini menjadi salah satu kendala besar kita mengingat tidak ada suplai lokal," ujarnya kepada wartawan, Jumat (17/4/2026).

Menurutnya, keterbatasan pasokan dalam negeri membuat industri sangat bergantung pada impor. Kondisi ini membuat pelaku usaha tidak memiliki banyak pilihan selain mencari alternatif sumber bahan baku dari luar negeri.

"Jadi substitusi yang harus dilakukan adalah supplier tidak hanya dari China tapi juga dari India," jelasnya.

API juga mulai melirik negara lain sebagai sumber bahan baku untuk menekan biaya produksi yang semakin tinggi. Langkah ini dinilai penting agar industri tetap bisa bertahan di tengah tekanan harga.

"Kami juga pikirkan supplier-supplier dari Vietnam, yang memungkinkan untuk menggantikan bahan baku supaya saat ini tidak terlalu mahal," jelasnya.

Danang menyebut, lonjakan harga bahan baku sudah mulai menggerus kemampuan industri untuk bertahan. Terlebih, biaya energi yang berpotensi ikut meningkat akan semakin menambah beban produksi.

"Karena terlalu mahal, kita udah enggak bisa survive di mana biaya-biaya energi akan segera naik, meskipun pemerintah statement tidak akan mengalami kenaikan pada tahun sampai akhir tahun 2026," tuturnya.

Ia menjelaskan, kenaikan harga bahan baku terutama terjadi pada komponen berbasis kimia yang menjadi dasar produksi tekstil. Komponen ini selama ini banyak diimpor dari berbagai negara.

"(Naik) 30, 40 persen. Nah kalau bahan baku tekstil kan banyak banget ya. Kan kita bicara MEG, kita bicara poli, itu banyak sekali," ungkapnya.

Bahan-bahan tersebut umumnya merupakan turunan minyak, sehingga sangat dipengaruhi oleh kondisi global, termasuk dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.

"Semua untuk bahan-bahan chemical untuk membikin yarn, benang, itu dari chemical, dan itu potensial naik," ujar Danang.

Menurut Danang, ketergantungan terhadap bahan baku berbasis minyak membuat industri tekstil rentan terhadap gangguan distribusi global. Salah satunya jika jalur perdagangan utama seperti Selat Hormuz terganggu.

"Dan kalau terjadi benar-benar Selat Hormuz tidak memungkinkan untuk menjadi lalu lintas, sementara bahan-bahan itu memang turunan minyak, artinya ya kita terkendala juga dengan adanya perang Iran-Israel ini," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Siap-siap! Harga Pakaian Bakal Melonjak Tinggi

Siap-siap! Harga Pakaian Bakal Melonjak Tinggi

Bisnis | Jum'at, 17 April 2026 | 17:48 WIB

Indonesia Kejar Pasar Amerika, Ekspor Tekstil Jadi Andalan Baru

Indonesia Kejar Pasar Amerika, Ekspor Tekstil Jadi Andalan Baru

Bisnis | Jum'at, 17 April 2026 | 09:11 WIB

Hikari Unjuk Gigi dengan Mesin Jahit Berbasis AI di Inatex 2026

Hikari Unjuk Gigi dengan Mesin Jahit Berbasis AI di Inatex 2026

Foto | Kamis, 16 April 2026 | 18:50 WIB

Ribuan Merek Tekstil Global Ramaikan Indo Intertex 2026 di JIExpo Kemayoran

Ribuan Merek Tekstil Global Ramaikan Indo Intertex 2026 di JIExpo Kemayoran

Foto | Kamis, 16 April 2026 | 18:32 WIB

Gen Z Mulai Pilih Baju dengan Nilai, Bisakah Ini Tekan Limbah Fashion?

Gen Z Mulai Pilih Baju dengan Nilai, Bisakah Ini Tekan Limbah Fashion?

Lifestyle | Selasa, 14 April 2026 | 16:55 WIB

Terkini

Dasco: DPR Malam Ini Lembur Kerjakan UU P2SK, Akan Difinalisasi Besok

Dasco: DPR Malam Ini Lembur Kerjakan UU P2SK, Akan Difinalisasi Besok

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 23:11 WIB

Dadan Hindayana Berencana MBG Dibagikan di Arab Saudi Sebelum Dicopot

Dadan Hindayana Berencana MBG Dibagikan di Arab Saudi Sebelum Dicopot

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 21:37 WIB

Neraca Perdagangan RI Surplus 72 Bulan Beruntun di April 2026, Tapi Terendah dalam 5 Tahun

Neraca Perdagangan RI Surplus 72 Bulan Beruntun di April 2026, Tapi Terendah dalam 5 Tahun

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 19:54 WIB

Impor RI Melonjak 25,21 Miliar USD April 2026, Sektor Migas Naik Tajam 82%

Impor RI Melonjak 25,21 Miliar USD April 2026, Sektor Migas Naik Tajam 82%

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 19:34 WIB

Premi Bisnis Baru Asuransi Jiwa Tumbuh 5 Persen

Premi Bisnis Baru Asuransi Jiwa Tumbuh 5 Persen

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 19:29 WIB

Demi Stok Tak Langka, ESDM Bisa Setiap Saat Stop Ekspor Perusahaan Migas

Demi Stok Tak Langka, ESDM Bisa Setiap Saat Stop Ekspor Perusahaan Migas

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 19:29 WIB

Asurasi Inhealth Ubah Identitas, Jamin Tak Kurangi Layanan ke Nasabah

Asurasi Inhealth Ubah Identitas, Jamin Tak Kurangi Layanan ke Nasabah

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 19:22 WIB

Perusahaan Logistik Gali Cuan Bisnis Jastip di Ajang PRJ

Perusahaan Logistik Gali Cuan Bisnis Jastip di Ajang PRJ

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 19:17 WIB

Bukan Sekadar Tren, Ini Alasan Web3 Bakal Mengubah Karier dan Bisnis Masa Depan

Bukan Sekadar Tren, Ini Alasan Web3 Bakal Mengubah Karier dan Bisnis Masa Depan

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 19:15 WIB

Dana Asing Hengkang Rp 1,37 T Meski IHSG Menguat, Saham Prajogo Pangestu Jadi Sasaran

Dana Asing Hengkang Rp 1,37 T Meski IHSG Menguat, Saham Prajogo Pangestu Jadi Sasaran

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 19:11 WIB