- KHC luncurkan Studio Kreasi Kartini untuk latih digital skill perempuan istimewa.
- Selvi Ananda & Menteri PPPA hadir tegaskan pentingnya inklusivitas ekonomi perempuan.
- Program kemandirian ekonomi dimulai dari Rembang dan akan merambah ke seluruh Indonesia.
Suara.com - Semangat Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan kini bertransformasi menjadi gerakan kemandirian ekonomi yang konkret. Tak lagi sekadar soal literasi, fokus utama kini bergeser pada pemberdayaan kelompok rentan atau "Perempuan Istimewa" agar mampu bersaing di era digital.
Melalui rangkaian kegiatan bertajuk "Perempuan Istimewa Mandiri Secara Ekonomi" yang digelar pada 20–22 April 2026 di Museum R.A. Kartini, Rembang, Yayasan Kartini Heritage Center (KHC) mencoba mendobrak sekat keterbatasan akses bagi perempuan.
Hadirnya Selvi Ananda Gibran dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, menjadi sinyal kuat bahwa penguatan kapasitas perempuan adalah agenda prioritas nasional.
Ketua Yayasan Kartini Heritage Center, Joddy Mulyasetya Putra, menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar seremoni tahunan.
"Yang ingin kami bangun bukan hanya acara, tetapi ruang dan gerakan. Kami ingin menghadirkan wadah agar perempuan istimewa dapat berkembang dengan percaya diri dan memiliki peluang menuju kemandirian ekonomi," ujar Joddy.
Salah satu terobosan ekonomi yang diusung dalam kegiatan ini adalah peluncuran Studio Kreasi Kartini. Fasilitas ini dirancang sebagai inkubator bagi perempuan untuk menguasai keterampilan content creating, mulai dari teknik take shoot video hingga manajemen konten digital.
Direktur Pendidikan KHC, Aga Nugraha, menjelaskan bahwa pendidikan masa kini harus aplikatif. Pelatihan kreator dan pendampingan digital diharapkan mampu menjadi modal utama bagi peserta untuk menciptakan nilai ekonomi secara mandiri.
Senada dengan itu, artis sekaligus influencer Dara Sarasvati yang didapuk sebagai pemantik program, menekankan pentingnya ruang aman bagi perempuan untuk berkarya.
"Pemberdayaan tidak cukup berhenti pada simpati, melainkan harus diwujudkan dalam dukungan nyata dan kesempatan untuk berkembang," kata Dara.
Dari sisi finansial dan keberlanjutan, Direktur Keuangan KHC, Bachtiar Putra Arvianto, mengungkapkan bahwa Rembang hanyalah titik awal. Proyeksi jangka menengah akan membawa gerakan ini ke Jepara dan wilayah lain di Indonesia.
"Kami ingin membangun ekosistem yang dapat terus hidup dan memberi manfaat lebih luas secara berkesinambungan," tegas Bachtiar.
Dengan pendekatan yang inklusif, gerakan ini diharapkan mampu menghapus stigma sosial sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi inklusif di Indonesia, dimulai dari tanah kelahiran perjuangan Kartini.