- Indeks saham Wall Street melemah pada 26 April 2026 akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
- Konflik di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga menembus level harga cukup signifikan.
- Pasar saham AS kini menantikan laporan keuangan perusahaan teknologi serta kebijakan terbaru dari bank sentral Amerika.
Suara.com - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street melemah dalam perdagangan Minggu (26/4/2026) (Senin Pagi), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Mengutip CNBC, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,2 oersen atau sekitar 130 poin. Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 melemah 0,3 persen dan Nasdaq 100 juga turun 0,3 persen.
Sentimen pasar tertekan setelah perundingan perdamaian terkait Iran dilaporkan terhenti, memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan, khususnya di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi minyak mentah dunia.
Ketegangan meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran dilaporkan menaiki dua kapal kontainer di sekitar jalur tersebut. Kondisi ini langsung memicu lonjakan harga energi global.
![ilustrasi indeks saham Wall Street yang langsung ngegas setelah ada harapan perang berakhir. [Unsplash].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/07/85884-wall-street-nasdaq-dow-jones-saham.jpg)
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka naik sekitar 2 persen hingga menembus level di atas USD 96 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai patokan global juga melonjak sekitar 2 persen ke atas USD107 per barel.
Situasi ini turut dipengaruhi langkah Donald Trump yang membatalkan rencana pengiriman utusan khusus Amerika Serikat untuk membahas gencatan senjata terkait Iran.
"Terlalu banyak waktu terbuang untuk bepergian, terlalu banyak pekerjaan!” tulis Trump dalam unggahannya di Truth Social.
"Tidak ada yang tahu siapa yang bertanggung jawab, termasuk mereka. Selain itu, kita memegang kendali penuh; mereka tidak punya kendali sama sekali! Jika mereka ingin berbicara, yang perlu mereka lakukan hanyalah menelepon!!!"
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa saat ini tidak ada pertemuan yang direncanakan antara Iran dan AS
Meski tekanan meningkat, sejumlah analis menilai eskalasi konflik masih berpotensi mereda. "Meskipun ini merupakan dampak negatif yang kecil, kami tetap berpendapat bahwa konflik tersebut masih berada di jalur de-eskalasi," kata Adam Crisafulli dari Vital Knowledge.
Di tengah ketegangan geopolitik, pasar juga bersiap menghadapi pekan penting dengan sejumlah agenda besar. Lima dari tujuh perusahaan teknologi raksasa yang dikenal sebagai Magnificent Seven dijadwalkan merilis laporan keuangan.
Selain itu, perhatian investor juga akan tertuju pada keputusan kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve, yang dipimpin Jerome Powell. Pertemuan ini disebut-sebut bisa menjadi yang terakhir bagi Powell sebelum kepemimpinan diperkirakan beralih ke Kevin Warsh pada Mei mendatang.
Meski dibayangi ketegangan global, pasar saham AS sebelumnya mencatatkan kinerja kuat sepanjang April. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite bahkan berhasil menutup pekan lalu di level tertinggi sepanjang masa, dengan kenaikan masing-masing lebih dari 9 persen dan 15 persen sejak awal bulan. Sementara itu, Dow Jones menguat lebih dari 6 persen dalam periode yang sama.