- Ratidjo Hardjosuwarno mendirikan rumah makan Jejamuran di Sleman pada tahun 2006 untuk mempromosikan olahan kuliner berbahan dasar jamur.
- Ia melakukan edukasi intensif selama tiga tahun guna mengatasi stigma negatif masyarakat mengenai keamanan konsumsi makanan jamur.
- Berkat bantuan modal Bank BRI, usaha Ratidjo berkembang pesat hingga meraih berbagai penghargaan nasional dan dikunjungi tokoh penting.
Suara.com - Di saat banyak orang memilih menikmati masa pensiun dengan beristirahat dan bersantai, langkah berbeda justru diambil oleh Ratidjo Hardjo Suwarno. Pada usia yang tak lagi muda, ia yang awalnya petani jamur memilih memulai usaha rumah makan bernama Jejamuran di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ratidjo lahir pada 16 April 1944. Pengalaman hidupnya terbilang panjang, mulai dari menjabat sebagai kepala produksi di PT Magoredjo, kepala perkebunan PT Kebun Parompong, hingga memimpin PT Tuwuhagung.
Namun, alih-alih pensiun dengan nyaman, ia justru memulai perjalanan baru pada 2006 saat usianya menginjak 62 tahun.
Ratidjo memilih jalur yang tidak biasa, berjualan makanan berbahan dasar jamur, yang saat itu masih dianggap asing dan bahkan menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.
Perjalanan awalnya pun tidak mudah. Ratidjo memasarkan produknya dari rumah ke rumah, meninggalkan status dan jabatan yang pernah dirinya sandang. Ia menanggalkan gengsi demi memperkenalkan usahanya.
"Saya jual pertama tidak ada yang mau beli, takut keracunan, takut mati. Akhirnya saya keliling rumah ke rumah. Mantan pimpinan perusahaan, dari rumah ke rumah, tidak semua orang bisa seperti saya. Saya tidak pernah sakit hati, saya tidak punya ego," kata Ratidjo menceritakan.

Selama hampir tiga tahun, ia bersama sang istri terus menawarkan olahan jamur sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat. Berbagai penolakan dan komentar negatif tidak membuatnya mundur.
"Jual rumah ke rumah, tujuannya edukasi. Kita jelaskan jamur sehat, tidak beracun. Hampir 3 tahun sosialisasi dengan masyarakat makan jamur," lanjutnya.
"Ada omongan tidak enak, menyakitkan, itu tidak mudah. Apalagi yang pernah makan jamur kemudian alergi. Karena itu diperlukan kesabaran yang luar biasa. Tapi setelah itu saya ketemu ibu-ibu arisan, saya masuk sekolah ketemu guru, datang ke kantor kelurahan hingga kabupaten. Itu memulai awalnya seperti itu," tuturnya menambahkan.

Perlahan, usahanya mulai menemukan jalan. Ratidjo kemudian membuka warung yang tidak hanya menyajikan makanan, tetapi juga pengalaman dan edukasi jamur bagi pengunjung.
"Saya bikin warung. Tamu saya ajak ke kebun, saya cerita. itu mulut ke mulut, akhirnya banyak datang ke Jejamuraan," ungkapnya lagi.
Berkembang dengan Modal Terbatas
Seiring meningkatnya minat pengunjung, Ratidjo Hardjosuwarno mulai mengembangkan usahanya. Namun, keterbatasan modal menjadi tantangan besar.
Saat itu, ia bahkan hanya memiliki Rp200.000 untuk menambah meja dan kursi bagi tamu.

Upayanya mencari tambahan modal ke sejumlah bank sempat menemui jalan buntu. Ia dianggap belum layak mendapatkan pinjaman karena usahanya dinilai berisiko tinggi.
Hingga akhirnya, kesempatan datang dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI yang bersedia memberikan pinjaman untuk mengembangkan usahanya.
"Persiapannya belum bisa, saya punya dana 200 ribu, beli meja kursi untuk melengkapi. Kemudian, baru dibantu BRI tahun 2006 sebesar 25 juta," kata Ratidjo.
"Awalnya tidak ada bank yang menawarkan, waktu jualan itu saya dianggap belum layak. Risiko tinggi. Teman-teman dari bank itu tidak ada yang merespons. Saya kemudian datang ke BRI, dipercaya waktu itu, saya pun yakin bisa mengembalikan. Saya dapat pinjaman 25 juta, saya pakai membangun bangunan ini, sarana pakai alat rumah sendiri," lanjutnya.
"Saya kalau tidak penting, saya tidak pinjam. Kerja dengan bank itu, bisnis kepercayaan, akhirnya sekarang semua bank nawari saya," imbuh pengusaha kelahiran Yogyakarta itu.
Dengan modal terbatas dan perjuangan panjang untuk mendapatkan kepercayaan bank, Ratidjo membangun usahanya secara bertahap. Dari fasilitas sederhana, usaha tersebut perlahan berkembang mengikuti meningkatnya jumlah pengunjung.
Dari kondisi serba terbatas itu, Jejamuran kemudian tumbuh menjadi salah satu destinasi kuliner yang dikenal luas di Yogyakarta.
Dari Sleman ke Istana
Kerja keras Ratidjo membuahkan hasil. Pada 2009, ia meraih penghargaan UKM terbaik DIY dari Hamengkubuwono X. Di tahun yang sama, ia mendapat undangan ke Istana Negara pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.
Penghargaan itu kembali terulang pada 2014, ketika ia kembali dipanggil ke Istana pada era Joko Widodo.

Seiring berkembangnya usaha, berbagai tokoh penting turut berkunjung, mulai dari Jusuf Kalla, Boediono, hingga Try Sutrisno. Tokoh kuliner seperti Bondan Winarno hingga petinju Chris John juga pernah datang.
"Jejamuran akhirnya berkembang, Bondan almarhum itu membantu. Saya tetap membina petani, 2009 penghargaan UKM terbaik DIY dari sultan HB X," ujar Ratidjo
"Kemudian tahun 2009 dipanggil Istana, setelah itu 2014 ke Istana lagi. Akhirnya para pejabat datang, seperti bapak Jusuf Kalla, Budiono, Try Sutrisno. Jadi tiga wakil presiden sudah ke Jejamuran," tutup pria yang pernah bekerja di perusahaan batik itu.
Hubungan dengan BRI Terus Terjalin
Sementara itu, Astika selaku Relationship Manager Funding & Transaction (RMFT) Bank BRI Cabang Sleman, yang hadir di Jejamuran pada kunjungan BRI pada 14 April 2026, turut bangga dengan kesuksesan Ratidjo.
Ia mengaku hubungan antara pria 82 tahun itu dengan BRI masih sangat baik hingga sekarang. Bahkan, transaksi hingga tabungan dari Ratidjo masih menggunakan BRI.
Astika berharap hubungan antara BRI dan Ratidjo bisa terus meluas. Juga para pengusaha lainnya yang bekerja sama dengan BRI.

"Beliau sama manajemen itu alhamdulillah, dengan BRI bagus hubungannya. Seperti kita kan tidak hanya masalah terkait kredit. Beliau sempat menyampaikan kredit, sebenarnya tidak hanya kredit," kata Astika dengan ditemani Hani Widyasari selaku Funding & Transaction Manager.
"Beliau semuanya, tabungan kemudian transaksi, itu hampir sebagian besar di BRI," imbuhnya.
Kisah Ratidjo menjadi bukti bahwa memulai tidak mengenal usia. Di saat banyak orang memilih berhenti, ia justru melangkah dan membuktikan bahwa keberanian untuk memulai bisa membuka jalan menuju kesuksesan.