- Sultan Hamengku Buwono IX menamai Jadah Tempe Mbah Carik sebagai doa rezeki bagi keturunan Sastro Dinomo sejak era 1930-an.
- Usaha kuliner asal Kaliurang ini terus diwariskan kepada empat generasi keluarga Sastro Dinomo hingga masa kini.
- Generasi keempat menginovasi produk menjadi kemasan beku berstandar BPOM dengan dukungan modal KUR untuk meningkatkan kapasitas produksi.
"Dibantu KUR generasi keempat ini, ambil baru tiga tahun ini. Enggak susah pengajuan, karena kami jarang mengambil di mana-mana, jadi mudah. Ambilnya itu kemarin Rp100 juta. Itu untuk pengembangan pabrik. Kami kan ingin bikin pabrik yang standar BPOM, karena produk frozen," imbuhnya.
"Generasi keempat ini kami menggunakan produksi modern, pakai mesin dan sebagainya. Maka dari itu, kami kemarin pengajauan perbaikan pabrik," lanjutnya menjelaskan.
Berkat Pabrik Baru, Produksi Meningkat

Dengan adanya pabrik baru, kapasitas produksi meningkat signifikan. Produk frozen kini menjadi primadona, terutama saat musim liburan.
"Karena kami kan cita-citanya ingin membangun pabrik untuk membuat jadah tempe dan frozen, kan harus standar higenis. Selama ini pabriknya tradisional. Nah, kami bangun itu untuk standarisasi BPOM. Makanya harus sesuai standarnya," ungkap Angga.
"Lalu pengembangannya, alhamdulillah permintaan frozen semakin tinggi. Kemarin di high season 3-4 hari sempat kosong, karena permintaan dan kapasitas produksi belum," imbuhnya.
Perjalanan panjang Jadah Tempe Mbah Carik menjadi bukti bahwa kuliner tradisional bisa terus bertahan dan berkembang, bahkan menjadi sumber rezeki lintas generasi seperti yang pernah dititahkan Sultan HB IX.