- Mi Ayam TPMC di Bantul berdiri sejak 1996 dan konsisten menerapkan filosofi Jawa Nrimo ing Pandum dalam usahanya.
- Edi Rosadi dan Marinem mengelola usaha secara mandiri dengan standar BPOM serta menghasilkan omzet harian Rp2,5 juta.
- Sejak merintis, usaha ini bermitra dengan BRI untuk permodalan, fasilitas QRIS, serta menabung guna mengembangkan kesejahteraan keluarga pemilik.
Suara.com - 'Nrimo ing Pandum', salah satu filosofi Jawa yang menjadi pegangan warung Mi Ayam TPMC atau Sekarsuli sejak berdiri pada 1996 di Jl Wonosari, Potorono, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kalimat itu bukan sekadar ucapan. Selama 30 tahun berdiri, Mi Ayam TPMC yang dikelola oleh suami istri, yakni Edi Rosadi dan Marinem, menerapkan 'Nrimo ing Pandum', yakni menerima dengan ikhlas dan bersyukur atas segala rezeki yang telah ditentukan oleh Tuhan
Jadi, baik ketika ramai ataupun sepinya usaha, keduanya menjalani dengan ikhlas.

"Biasa ya mas, orang jualan itu ya ada pasang surutnya, itu sudah biasa. Kendala lain-lain tidak terasa. Disyukuri saja, apa yang ada, apa yang diberi," kata Marinem kepada Suara.com dengan bahasa Jawa kromo.
Selain itu, Edi Rosadi dan Marinem juga menyisihkan ambisi dalam hidupnya. Meski Mi Ayam TPMC sudah sangat terkenal di area Wonosari, keduanya tidak berminat membuka cabang.
Menurutnya, ambisi membuka cabang bisa membuat hati kurang tenang karena ada banyak hal yang menjadi harus dipikirkan. Keduanya memilih fokus pada usaha yang sekarang, dengan memberikan pelayanan yang terbaik untuk pembeli.
"Kami tidak ada ambisi. Bikin cabang-cabang itu engga, tidak ambisi. Kalau tidak ada ambisi itu tenang, apa adanya, apa yang diberi menerima. Kalau ambisi malah kurang tenang, kurang fokus sama pembeli," ujar Marinem.
"Kami itu kan mengutamakan selera pembeli. Ada yang suka setengah mateng, mateng banget, tidak pakai sawi. Kemudian pelanggan yang pesan bilang seperti biasa, jadi kami harus menghafal kesukaan pembeli," imbuh asal Wonogiri itu.
Fokus Satu Tempat tapi Hasil Maksimal
Walau hanya punya satu cabang dan sederhana, Edi Rosadi dan Marinem benar-benar mengelolanya dengan sebaik mungkin. Semua bahan-bahan andalan diproduksi sendiri, mulai dari mi hingga bakso.
Semua proses pembuatan dikerjakan dengan standar kesehatan yang berlaku dengan bukti memiliki sertifikat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sejak lama.

"Kami mi membuat sendiri, sudah BPOM. Dulu sudah disurvei, dari badan kesehatan juga. Sebelum covid itu. Jadi iya sudah sesuai standar BPOM," ujar Marinem.
Kondisi ini membuat Mi Ayam TPMC mampu memberikan pelayanan terbaik untuk pembeli, karena selama buka pelanggan yang datang tidak akan kecewa kehabisan. Apabila sudah habis, maka akan produksi mi lagi.
Alhasil penjualan Mi Ayam TPMC yang kerap disebut Sekarsuli ini maksimal. Sehari mampu melayani 150 hingga 200 mangkok mi ayam dengan omset yang lumayan.
"Sehari lebih kalau 100 porsi. Hampir 200. Minggu kemarin itu 200 lebih. Kalau lebaran malah lebih lagi. Soalnya pembelinya tidak cuma orang sini, orang jauh juga," ujar Edi.